Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Arti Diriku


__ADS_3

"Baginda duduklah," Kaisar Jasper pun menuruti perintah Permaisurinya. Ia duduk di kursi besi berwarna putih itu. Michelina pun duduk di sampingnya. Ia menepuk pahanya menjadi bantalan kepala Kaisar Jasper. Setelahnya ia memijat lembut kepala Kaisar Jasper. Seulas senyum muncul di bibirnya, ia memejamkan matanya menikmati pijatan Michelina.


"Apa Baginda menginginkan sesuatu?" tanya Michelina.


Kaisar Jasper membuka matanya, "Aku ingin Permaisuri membatalkan rencana Permaisuri," ujarnya dengan tatapan mengiba. Kaisar Jasper bangkit, ia menunduk dengan wajah segurat kesedihan. Dahinya berkerut, ide gila itu akan menyiksanya.


Michelina menarik tangan Kaisar Jasper, ia memeluk laki-laki yang telah berstatus suaminya itu. Memberikan ketenangan bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Buatlah dia melayang lebih dulu kemudian kita hempaskan bersama-sama. Ini namanya taktik atau siasat jika kita ingin melawan musuh."


"Kenapa kamu begitu yakin jika dia akan melakukan rencana?" tanya Kaisar Jasper.


Michelina melirik kanan kiri, tidak mungkin dia akan memberitahukan di masa lalu. Bagaimana dia bisa tau jika Kellin menggunakan obat perangsang untuk Baginda. Namun saat Baginda memasuki sebuah kamar bersama Kellin. Hampir mereka melakukannya dan untunglah Zoya datang. Kemudian hal yang tak terduga, Kellin memfitnahnya. Hal yang tak pernah ia lakukan, ia sangat membenci wanita itu. Kehidupan dulu ia saja tidak ingin Kaisar Jasper bersama dengan Zoya apa lagi dirinya.


"Kenapa Baginda tidak mempercayai ku? Aku yakin Baginda, wanita seperti dia akan melakukannya. Cobalah Baginda mengerti."


"Aku bisa mengerti, tapi yang kali ini aku lakukan bukan pertempuran atau perang. Ini semacam Permaisuri ingin sekali mendorong ku." Tegasnya.


Hanya seperti ini kamu tersiksa, lalu apa diri ku di kehidupan lalu ketika kamu mengatakan menceraikan ku dan menyuruh ku menikahi orang lain batin Michelina. Ia meringis mengingat perkataannya.

__ADS_1


"Permaisuri Michelina sebenarnya diriku memiliki arti apa di hidup mu?" tanya Kaisar Jasper kemudian.


Michelina pun memalingkan wajahnya, ia masih menyimpan cinta. Akan tetapi ia masih menyimpan kebencian.


"Permaisuri, Baginda."


"Dia mengganggu saja," gerutu Kaisar Jasper.


Wanita itu pun semakin mendekat dan memberikan hormat. "Maaf mengganggu Baginda dan Permaisuri," ujarnya tersenyum senang. Bukan karena merasa bersalah malah ia senang karena kedua orang itu gagal dalam bermesraan.


Michelina menoleh ke arah Kaisar Jasper yang menunduk sedih.


"Sepertinya Baginda tidak menyukai kedatangan saya."


Michelina menggenggam tangan Kaisar Jasper membuat sang empu menoleh. "Dia hanya lelah karena mengurusi sesuatu di istana."


"Bolehkah saya meluangkan waktu bersama Permaisuri," ujar Kellin.

__ADS_1


"Silahkan, Lucilla siapkan teh untuk nona Kellin."


"Baik Permaisuri."


"Masalah kemarin, saya minta maaf Baginda. Bukan maksud .. "


"Lain kali jangan mengulanginya," sarkas Kaisar Jasper yang merasa malas berdebat. Ia memikirkan perkataan Michelina. Ada kalanya memang benar.


Ingin sekali aku mencongkel mata ku sendiri ketika melihat wanita ini.


"Baiklah, aku masih ada urusan dengan Lucilla. Nona Kellin maaf aku tidak bisa menemani mu." Ucap Michelina dengan mengembangkan senyumannya. Setelah melihat Lucilla meletakkan teh yang masih hangat itu. Ia berfikir mungkin sudah waktunya.


Kaisar Jasper menatap tajam ke arah Michelina. Permaisurinya bertindak tanpa menunggu persetujuannya. Ah, memikirkan wanita yang sudah membalikkan punggungnya membuatnya ingin menyerah saja. Malam nanti ia akan memberikan pelajaran bagi Permaisurinya itu.


Sementara dari jauh, Marquess Azel melihat semuanya. Dahinya berkerut tengah memikirkan sesuatu. Ia harus mencari tau, di lihat dari gerak gerik Kaisar Jasper yang gelisah. Ia bisa menyadari tidak ada yang beres dengan keduanya.


"Aku harus bertemu dengan Permaisuri,"

__ADS_1


__ADS_2