
Seharian ini Michelina menghabiskan waktu dengan Kaisar Jasper dan Raja Almos. Keduanya membicarakan bisnis, apa lagi Kerajaan Almos terkenal pemilik batu Safir yang terbaik yang telah di hadiahkan pada Kaisar Jasper.
Sementara Ibu Suri dan Viscount Andry pun saling bercerita tentang kisah mereka termasuk kisah kehidupan Ibu Suri dan terjadinya masalah saat ini. Sedikit demi sedikit Viscount Andry menyadari, kesalahan memang ada pada ibunya. Ia pun menyadari bagaimana bisa memperoleh menjadi seorang bangsawan. Awalnya dia hanya kesatria biasa atas kemenangannya melawan pemberontak mendiang Raja
Tak terasa perbincangan mereka telah sampai waktu makan malam. Mereka pun kembali melanjutkan obrolan hangat di ruangan makan itu. Selesai makan, Raja Almos dan yang lainnya berpisah. Sementara Ibu Suri dan Viscount Andry masih bersama menuju kediaman Ibu Suri.
Raja Almos pun keheranan melihat keakraban mereka saat di meja makan, keduanya sangat akrap layaknya ibu dan anak. Ia pun tak ambil pusing, bagus juga membina sebuah hubungan.
"Ibu, besok aku harus kembali."
"Jaga kesehatan mu Putra ku. Aku harap kamu mau kembali ke istana."
"Iya ibu," Viscount Andry memeluk Ibu Suri untuk perpisahan mereka. Keduanya saling berpelukan dengan erat melepaskan badai rindu yang akan menerpa keduanya.
"Ibu," Michelina merasa senang. Akhirnya keduanya tidak saling membenci seperti kehidupan lalu. Kehidupan yang harmonis dan tentram.
"Permaisuri, Baginda."
__ADS_1
Viscount Andry memberikan hormat dengan kikuk. Ia tak berani bertatap muka dengan Kaisar Jasper. Sekilas saja menatap ia sudah merasa merinding. Ia sangat takut, apa lagi Kaisar Jasper semenjak kejadian itu tidak ada senyuman lagi di wajahnya. Mungkin Kaisar Jasper tidak akan menerimanya.
"Baginda, kenapa tidak istirahat?" tanya Ibu Suri. Ia memandang wajah Kaisar Jasper yang tampak kelelahan.
"Aku sudah menyuruhnya beristirahat, tapi dia ingin bertemu dengan Ibu." Ucap Michelina menyanggah.
"Baginda, istirahatlah. Kamu harus cepat sembuh."
Kaisar Jasper mengangguk, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah. Kemudian menghentikan langkahnya lagi. Ia memberi kode pada Lucilla agar memberikannya kertas. Kaisar Jasper menulis kertas itu. Lalu memberikannya pada Lucilla. Ia melanjutkan langkahnya kembali.
Sementara Lucilla, dia memberikannya pada Viscount Andry. "Pulanglah ke istana, saudara ku."
"Kakak," Viscount Andry memeluk wanita di depannya. "Dia menganggap ku Ibu," Ibu Suri menghapus air matanya. "Iya putra ku, maka kembalilah. Ibu dan Kakak mu akan menunggu mu."
Sedangkan Michelina merasa lega. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Kaisar Jasper. "Apa Baginda sudah lega?"
Kaisar Jasper hanya berdehem, setelah bujuk rayu dari Permaisurinya. Akhirnya ia luluh dan menerima saudara tirinya itu.
__ADS_1
Sesampainya di kamarnya, Kaisar Jasper mendorong tubuh Michelina dengan lembut. Keduanya saling menghembuskan nafas beratnya. Hingga pakaian yang mereka pakai tidak lagi menempel di tubuh mereka. Keduanya pun melakukan aktifitas malam. Kaisar Jasper dengan posesifnya mencumbu setiap lekukan tubuh Michelina, membelai lembut tubuhnya sampai desahan itu keluar dari mulut Michelina.
Sedangkan Michelina melakukan hal yang sama, mencium bibir Kaisar Jasper, lalu turun perlahan-lahan. Memberikan tanda kepemilikannya di tubuh Kaisar Jasper. Ia mencium dan menyesapi benda kecil di dadanya itu. Kaisar Jasper mendesah, benda pusakanya semakin menegang. Ia bertahan sampai akhirnya Michelina menggoyangkan miliknya saat benda itu memasuki dan diam di rahim Michelina.
Kaisar Jasper memejamkan matanya, saat pinggul itu naik turun dengan lambat dan cepat. Kaisar Jasper beringsut duduk dengan menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang. Ia menatap istrinya yang masih melajukan miliknya, melihat kedua benda kenyal itu naik turun akibat memompa miliknya. Sampai saatnya darah yang memanas, tubuh yang merasa hangat, urat-urat di tubuhnya yang mulai kelelahan. Ia langsung memeluk Michelina saat cairan miliknya memenuhi rahim Michelina.
Tak terasa satu hari berlalu.
Viscount Andry sudah sampai di kediamannya. Dia di sambut oleh sang ibu yang tengah membelai seorang laki-laki yang membuatnya sangat jijik.
"Oh, putra ku kamu sudah pulang." Wanita itu terkekeh. Ia mencium pipi laki-laki di sampingnya.
"Apa kamu sudah bertemu dengannya? apa reaksinya? apa mereka sudah tau kamu putra ku?"
"Aku harap kamu akan tinggal di sana dan mengatakan kamu adalah putra dari seorang Kaisar. Kamu akan menjadi seorang Pangeran. Dengan begitu aku bisa hidup lebih mewah." Imbuhnya lagi.
Viscount Andry tak menjawab, ia menaiki tangga tak memperdulikan sang Ibu. "Dasar anak tidak tau diri. Sudah bagus aku merawatnya." Wanita yang duduk di sofa itu bangkit, menarik sang laki-laki menuju ke kamarnya. Selama ini dia membesarkan Andry dari hasil mainannya memuaskan laki-laki. Sampai putranya itu berusaha keras ingin mengubah hidupnya. Namun ia tak memperdulikannya, baginya kesenangan adalah segalanya.
__ADS_1
"Ibu." Gumam Visount Andry memejamkan matanya. Ia mengambil beberapa botol Wine di lemari kecilnya. Mulai dulu hanya cairan berwarna merah itu yang menemaninya.