Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Penyesalan dalam diam


__ADS_3

Michelina mengambil selimut di lemari. Lalu menuju ke arah ranjang mengambil bantal di samping kepala Kaisar Jasper.


"Permaisuri."


Michelina memandang lekat laki-laki di depannya. Ia kembali menaruh selimut dan bantalnya. Keringat bercucuran di dahinya. Tidurnya seperti orang gelisah. "Baginda," Ia mengernyitkan dahinya. "Astagah, dia demam." Michelina beranjak berdiri. Ia berlari ke arah pintu. "Pelayan, cepat panggilkan dokter istana." Teriaknya dengan khawatir.


Michelina kembali menghampiri Kaisar Jasper. Ia mengambil sapu tangan di laci di samping ranjangnya. Kemudian mengelap keringat Kaisar Jasper.


"Permaisuri."


Michelina memejamkan matanya, ia mengontrol perasaanya. Rasa sedih itu menyelimuti rasa egoisnya saat ini. Hatinya tersentuh Kaisar Jasper memanggil namanya di kala sakit. "Iya Baginda."


Samar-samar Kaisar Jasper mendengarkan suara Michelina. Ia tersenyum dan membuka matanya. "Permaisuri."


Kaisar Jasper bergegas duduk, ia memeluk Michelina. "Permaisuri." Dia menumpahkan semua tangisnya di dalam pelukan Michelina.


Michelina tersenyum, dengan pelan ia menepuk bahu Kaisar Jasper. "Aku di sini," ujar Michelina yang merasakan bahunya mulai basah.


tok


tok


tok


Suara ketukan itu membuat Michelina melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata Kaisar Jasper dan tersenyum.


"Masuklah,"

__ADS_1


Seorang pria paruh baya memasuki kamar Michelina di ikuti Lucilla dan salah satu pelayan.


"Lucilla, bawakan air dan anda, silahkan periksa Baginda. Dan kamu, siapkan baju tidur untuk Baginda."


Michelina membaringkan tubuh Kaisar Jasper yang lemah. Lalu meminggirkan tubuhnya.


Pria paruh baya itu memeriksa tubuh Kaisar Jasper dengan teliti. "Permaisuri Baginda terlalu banyak pikiran. Hingga membuatnya stres. Saya sarankan, Baginda harus menjaga pikiran Baginda dan perasaan yang tertekan."


"Baiklah, aku akan menjaganya. " Ujar Michelina.


"Baik Permaisuri, saya permisi." Ujarnya di ikuti Lucilla untuk menerima obat yang akan di berikan pada Kaisar Jasper.


Kaisar Jasper tersenyum, ia merasa mendapatkan suatu anugrah saat mengalami sakit. Michelina masih mau memperhatikan dirinya, tidak membiarkannya demam.


"Baginda, aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan baju tidur. Em, iya apa Baginda ingin pindah ke kamar Baginda?" tawar Michelina. Ia takut Kaisar Jasper tidak betah berada di kamarnya.


"Tapi," Michelina ragu, ia tidak tahan menerima godaan tubuh Kaisar Jasper yang terbilang sexi.


Kaisar Jasper berpura-pura kesal. Ia memunggungi Michelina. "Jika tidak mau ya sudah."


Michelina tak mungkin bilang tidak. Di saat tubuhnya panas, dia harus memakai baju tebal. Apa lagi sekarang di penuhi keringat oleh tubuhnya. "Baiklah," ujar Michelina.


Kaisar Jasper tersenyum kemenangan. Michelina luluh padanya saat sakit. Ia pun duduk dan siap melihat Michelina membukakan kancing bajunya.


Michelina menghembuskan nafasnya, jantungnya berdebar tak karuan. Satu per satu dia membuka kancing Kaisar Jasper dengan wajah merona. Menelan ludahnya susah payah, menahan agar godaan di depannya tidak meruntuhkan benteng pertahannya.


Setelah kancing itu terbuka. Michelina melepaskan pakaian Kaisar Jasper satu per satu. Michelina melirik ke arah sapu tangan, ia mengelap keringat Kaisar Jasper dengan air yang telah di siapkan untuknya tadi. Setelahnya, ia memasang pakaian Kaisar Jasper.

__ADS_1


Pandangan Michelina membatu saat mengingat celana yang di kenakan oleh Kaisar Jasper. Mana mungkin ia berani membuka celana Kaisar Jasper. Mau taruh di mana mukanya.


"Berpalinglah, aku akan membukanya." Ujar Kaisar Jasper terkekeh kecil melihat wajah Michelina yang semerah tomat.


Michelina membalikkan tubuhnya, dadanya berdetak hebat. Ia tak karuan, memikirkannya saja membuat ubun-ubunnya panas.


"Permaisuri."


Michelina membalikkan tubuhnya, ia melirik celana di tangan Kaisar Jasper. "Lucilla kemarilah." Teriak Michelina seraya mengambil celana Kaisar Jasper.


Michelina masuk, ia lebih dulu menaruh obat Kaisar Jasper sekaligus bubur pereda mabuk. "Ini," ujar Michelina memberikan baju Kaisar Jasper ke tangannya.


"Baginda makan bubur dulu sebelum meminum obatnya." Perintah Michelina memberikan semangkuk bubur.


"Permaisuri, kamu tau aku lemah dan aku ingin di suapi mu." Rengek Kaisar Jasper. "Jika tidak mau, kamu bisa menaruhnya kembali."


"Baiklah," Michelina lebih memilih mengalah. Dia bukan orang egois yang harus bertengkar dengan orang sakit. Ia mengambil bubur itu dengan sendok dan siap memasukkan ke dalam mulut laku-laki di depannya.


Aaa


Michelina menyodorkan sendoknya. Kaisar Jasper membuka mulutnya, menerima asupan ke dalam mulutnya. Berkali-kali Michelina menarik nafasnya dalam-dalam agar jantungnya tak membuatnya bertingkah malu. Sementara Kaisar Jasper menatap setiap inci wajah Michelina. Wajah yang dulunya berias untuk dirinya, memilih gaun yang bagus untuk dirinya. Pernah ia mendengar Michelina bertengkar dengan salah satu bangsawan hanya karena sebuah gaun dan gaun itu khusus di pakai saat ingin bertemu dengan dirinya. Pada saat itu, Marquess Azel lah yang menyampaikannya karena berpapasan dengannya saat di Ibu Kota. Ia baru menyadari, wajah Michelina sangat cantik. Bulu matanya yang panjang dan lebat serta lentik. Bibirnya yang mungil, alisnya yang tajam dan kulitnya yang putih. Dia rindu Michelina yang merias diri berlebihan untuk dirinya. Dulu dia benci, tapi sekarang dia merindukan Michelina yang dulu.


"Baginda." Michelina menghapus air matanya.


Kaisar Jasper memalingkan wajahnya. "Aku sudah kenyang, aku ingin beristirahat. Tidak perlu minum obat, ini hanya demam biasa. Besok aku sudah sembuh." Ujar Kaisar Jasper. Ia langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Michelina.


Michelina menaruh sendok itu ke dalam mangkuknya, ia membereskan selimut Kaisar Jasper. Ingin sekali dia mencium kepalanya. Namun egonya melebihi kasih sayangnya dulu. Ia hanya mengelus kepala Kaisar Jasper sebentar dan menuju ke sofa, bersiap untuk tidur.

__ADS_1


Sementara Kaisar Jasper ia menangis di dalam selimut Michelina. Dulu dia enggan datang ke kediaman dengan harum bunga mawar itu. Menyentuh barangnya pun enggan. Namun sekarang, ia merasakan akan merindukan setiap sudut ruangan itu.


__ADS_2