Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Mandi Kembang Tujuh Rupa


__ADS_3

"Baginda,"


Kaisar Jasper dan Marquess Azel yang sedang berbincang, merasa terganggu dengan sosok wanita di depannya. Keduanya pun memasang wajah datar.


"Dimana Permaisuri?" tanya Kellin, matanya melihat sekeliling ruangan itu.


"Ada apa mencari Permaisuri? Marquess Azel, ayo kita pergi kita harus menyelesaikan masalah istana." Kaisar Jasper bangkit. Namun matanya langsung melihat Michelina di lantai atas dan menggelengkan kepalanya. Dia memberi isyarat menggunakan kedua tangannya agar menemani Kellin, memberikan senyuman dan ngacungkan jempolnya.


Kaisar Jasper kembali duduk, ia mendengus kesal melihat perbuatan Michelina. Lagi-lagi harus terjebak oleh permainan Permaisurinya.


"Baiklah, ada perlu apa?" tanya Kaisar Jasper merendahkan suaranya sebisa mungkin. Ia berdoa semoga waktu cepat berputar, ia sudah tidak sabar ingin mengakhiri semuanya. Besok malam adalah acara yang paling ia tunggu-tunggu.


Mata Kellin berbinar, Kaisar Jasper mau bersikap baik padanya.


Sedangkan Marquess Azel, matanya mendekik tajam pada istri junjungannya. Michelina pun tersenyum sinis, menaikkan kedua bahunya. Seolah tak peduli pada tatapannya. "Baginda saya permisi," ujar Marquess Azel. Kali ini ia tidak akan melepaskan Michelina begitu saja. Dia tidak pantas membuat Kaisar Jasper tak berdaya, menuruti semua permintaanya. Meskipun Kaisar Jasper mencintainya, tidak seharusnya dia meminta sebuah permainan yang menyulitkan Kaisar Jasper.


Sial, kenapa dia mau pergi? apa dia tidak melihat aku sedang menderita? geram Kaisar Jasper batinnya yang meronta-ronta.


Marquess Azel pun mencari keberadaan Michelina di ruangannya, di kediamannya terakhir di taman. Benar saja, wanita yang di carinya tengah bersantai menikmati teh.


"Permaisuri," Marquess Azel memberikan hormat. Meskipun ia marah tapi tidak menghilangkan rasa hormatnya.

__ADS_1


Michelina menaruh tehnya kembali, "Sudah aku pikirkan kamu pasti datang kesini." Michelina melirik ke arah Lucilla agar membawakan teh dan camilan lainnya. "Duduklah," imbuhnya.


"Apa maksud Permaisuri menyudutkan Baginda? apa yang sebenarnya Permaisuri rencanakan. Jika tidak menyukai Baginda, Permaisuri bisa mengatakannya langsung jangan membuat sebuah harapan yang bisa menyakiti Baginda."


Michelina mengangguk, ia kagum dengan kesetiaan Marquess Azel dan sebagai sahabat rela membantunya bahkan mau menjadi bentengnya. "Jika aku mempunyai seorang putri, aku pasti menjodohkannya. Ya, walaupun umur kalian akan beda jauh." Ucap Michelina santai, tidak ada terbesit kemarahan di hatinya melihat tatapan ganas di depannya.


"Jika kita ingin bahagia, bukankah salah satu dari kita harus berkorban?"


"Tapi pengorbanan Permaisuri adalah Baginda .."


"Dan maksud mu aku yang harus berkorban begitu." Michelina menyambar tegas ucapan Marquess Azel. Di masa lalu dia sudah berkorban, giliran Kaisar Jasper yang berkorban untuknya.


"Bu-bukan begitu, tapi .. "


Michelina melangkah, namun Marquess Azel menghentikannya. "Apa saya boleh tau rencana Permaisuri?"


"Nanti kamu akan tau, ular seperti Kellin harus di beri pelajaran dengan tegas. Apa kamu tidak bisa melihat wajahnya yang begitu lugu?" Michelin memutar tubuhnya. "Tunggulah permainannya. Runtuhkan kedua sayapnya sampai dia tidak bisa terbang kembali."


*Deg


Aku merinding melihat mata Permaisuri batin Marquess Azel melihat tatapan mengerikan itu*.

__ADS_1


Michelina pun di ikuti Lucilla, tanpa di sengaja mereka berpapasan dengan Kaisar Jasper yang menangkap tubuh Kellin, seolah mereka sedang berpelukan.


Ehem


Kaisar Jasper langsung melepaskan tubuh Kellin. Hingga membuatnya jatuh ke lantai.


"Permaisuri," Kaisar Jasper ketakutan bukan kepalang. Ia takut perbuatanya tadi membuat Michelina salah paham. Padahal niatnya bukan seperti mau menolong Kellin. Wanita itu yang sengaja menjatuhkan dirinya. Alhasil dia menangkapnya, seandainya tadi jaraknya jauh dan sadar. Sudah pasti ia menghindar.


"Auu,"


Kellin meringis kesakitan saat bokongnya merasakan sesuatu yang keras. Miya yang berdiri di sampingnya langsung membantu Kellin berdiri.


"Permaisuri."


Michelina melirik Lucilla yang menahan tawanya. Seandainya berdua, mereka akan langsung tertawa. Tidak bisa di pungkiri wajah Kellin yang memerah. Entah dia malu atau sedang senang.


"Apa kamu tidak apa-apa nona Kellin?"


"Dia tidak apa-apa," Kaisar Jasper menyanggah, ia menarik lengan Michelina. Sepertinya memang benar, ia harus mandi kembang tujuh rupa.


"Lucilla, siapkan aku air hangat dan berikan bunga mawar yang banyak. Jangan lupa siapkan yogurt dan wewangian lainnya. Aku tidak ingin tubuh ku kotor saat bersama Permaisuri." Ucapnya seraya menghentikan langkahnya karena sudah sampai di kamar Michelina.

__ADS_1


Seketika Michelina tertawa, Kaisar Jasper marah dengan wajah yang menggemaskan.


__ADS_2