
"Seandainya dia mengajak Baginda menikah bagaimana?" Michelina mengerucutkan bibirnya.
Kaisar Jasper memutar tubuh Michelina, sedangkan yang di tatap pun membuang mukanya. "Hey, kenapa bisa berbicara seperti itu. Meskipun dia meminta ku, aku tidak akan menerimanya. Bagi ku, istri ku hanya satu tidak ada duanya."
"Huh, bilang saja, nanti akan tersentuh seperti nona Zoya. Aku kasihan padanya," cibir Michelina.
Kaisar Jasper terkekeh, ia memeluk Michelina menyandarkan kepalanya ke dadanya. "Aku tidak percaya pada Baginda lagi, coba saja nanti. Akan ada siasatnya."
"Kenapa Permaisuri berfikir seperti itu?"
Michelina melepaskan pelukannya. "Karena aku pernah merasakannya, siapa yang tidak menyukai Baginda. Bahkan putri bangsawan pun berbondong-bondong menampilkan kecantikan mereka di depan Baginda. Agar Baginda meliriknya."
Kaisar Jasper menggeleng, "Tidak akan ada yang bisa menyentuh ku Permaisuri. Mari kita menjadi suami istri yang terbuka, meski pun dan apa pun itu."
Kaisar Jasper mengangkat pinggang Michelina, kaki Michelina melingkar di pinggang Kaisar Jasper dan tangannya memeluk erat leher Kaisar Jasper. "Aku mencintai mu,"
Kecupan manis dan lembut itu menghanyutkan keduanya, kali ini Michelina lah yang mengambil alih. Ia ******* bibir itu dengan rakus, menyesapi setiap sudut bibirnya. Bermain di mulutnya.
Emm,
Kaisar Jasper melangkah ke arah ranjang tanpa membuat keduanya memisahkan kelembutan itu.
Kaisar Jasper membuka baju putih yang melekat di tubuh Michelina. Mencium leher dan turun ke dua bendanya.
Emmm
__ADS_1
"Baginda," desah Michelina. Tubuhnya memanas, ia terbuai dan ingin meminta lebih.
Kaisar Jasper melepaskan pakaiannya satu per satu. Sampai saatnya Michelina melihat pusaka milik Kaisar Jasper, wajahnya semakin memerah. Ia memalingkan wajahnya.
"Kenapa mesti malu? Permaisuri sudah merasakannya." Bisiknya di telinga Permaisuri Michelina. Kaisar Jasper kembali melanjutkan aksinya, ia mencium setiap inci tubuh Michelina, memberikan jejak di setiap lekukan tubuhnya, ia mengangkat kedua kaki Michelina ke bahunya, sampai saatnya ia memasukkan pusakanya secara pelan-pelan.
Michelina merasakan sesuatu memasuki areanya, meskipun sedikit sakit tapi ia menahannya.
Kaisar Jasper melajukan pusakanya dengan lembut, ia mencium paha Michelina, lalu menyesapi salah satu benda kenyal itu.
Michelia mendesah, ia hanyut ke dalam kenikmatan saat ini. Membelai kepala Kaisar Jasper.
Suara merdu itu semakin membuat darah Kaisar Jasper memanas. Ia melajukannya dengan cepat. Hingga detik terakhir, ia menyemburkan benihnya di rahim Michelina dan tumbang di sampingnya.
Kaisar Jasper merasakan tubuhnya sangat lelah, ia menoleh ke arah Michelina yang nafasnya pun naik turun. "Permaisuri."
"Aku mencintai mu," Kaisar Jasper mencium kepala Michelina. "Aku ingin lagi,"
Michelina mendongak, "Aku ingin Permaisuri yang melakukannya."
Pusakanya menegang kembali, Michelina melirik di bawah selimut itu yang berdiri. Wajahnya kembali memerah, ia tersenyum licik.
Michelina menyingkapi selimut putih itu, ia memasukkan pelan-pelan dan ia pun melajukannya. Kaisar Jasper meremas seprainya , ia lebih menyukai ini. Permaisurinya bisa membuatnya terbang di atas awan.
Kaisar Jasper tidak bisa menahan suaranya, ia mendesah dan mendesah. Lolongan suaranya menggema di ruangan itu. Keduanya pun terlena dengan kenikmatan yang mereka ciptakan.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Michelina terbangun di dada Kaisar Jasper, ia mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. Namun ada sesuatu yang aneh, ia merasakan di bawah sana masih menyatu. Dengan perlahan Michelina pun melepaskannya, cairan itu pun keluar dari areanya sampai ke pahanya.
"Baginda mengeluarkannya terlalu banyak." Gumam Michelina.
"Lebih baik Permaisuri, aku ingin secepatnya memiliki anak dengan Permaisuri." Ucap Kaisar Jasper dengan suara seraknya. Michelina hanya menggeleng pelan. Ia pikir Kaisar Jasper masih tidur, ternyata laki-laki sudah bangun. Ia turun dari ranjangnya, mengambil pakaiannya yang berserakah di lantai. "Aku akan meminta Lucilla menyiapkan air hangat untuk Baginda."
"Tunggu Permaisuri masih ada yang kurang," ujar Kaisar Jasper seraya beringsut duduk.
Michelina mendekat, Kaisar Jasper menarik lengan Michelina dan mencium bibir mungilnya. "Selamat pagi, aku mencintai mu."
Michelina menunduk dengan mata berkaca-kaca. Dulu ia sangat memimpikannya, setiap pagi Kaisar Jasper akan mengatakan hal itu, ucapan sederhana. Namun memberikan sejuta makna."Apa Baginda tidak bosan mengatakan hal itu?"
"Tidak akan, mulai saat ini ucapan itu akan menjadi makanan mu setiap hari."
Michelina berdiri seraya berdecak pinggang. "Perut ku tidak akan kenyang Baginda, hanya karena Baginda mengatakan setiap harinya. Ucapan Baginda tidak akan menjadi gandum, beras dan roti. Alangkah baiknya, Baginda mengatakannya dan memberikan sesuatu yang membuat ku kenyang,"
"Baiklah, aku akan mengatakannya saat kita akan sarapan pagi dan makan, ya setidaknya kata itu membuat Permaisuri kenyang."
"Hem," Michelina terkekeh kemudian meninggalkan Kaisar Jasper yang juga tertawa geli. Sesaat dia terdiam, mendengarkan Michelina memanggil Lucilla. Dulu kehidupannya tidak berwarna, ia pikir mencintai Michelina tidak lah mungkin. Baginya Michelina hanyalah perempuan biasa. Tapi kenyataannya sekarang wanita itu luar biasa baginya.
Selesai sudah keduanya bersiap-siap mengikuti sarapan pagi. Michelina turun lebih dulu, ia menggunakan syal sebagai penutup lehernya karena jejak yang di berikan Kaisar padanya. Tidak menyangka laki-laki itu memberikan jejak di lehernya sangat banyak, apa kata orang nanti yang melihatnya. Pasti mereka berfikir, Kaisar Jasper seperti binatang buas di ranjang.
"Permaisuri," Kellin berdiri, ia memberikan hormat. Namun ada yang ganjal ketika Michelina menggunakan syal, padahal sekarang bukan musim dingin. "Apa Permaisuri kedinginan menggunakan syal?"
__ADS_1
Michelina tersenyum licik, ia membuka syalnya, memperlihatkan jejak kepemilikan Kaisar jasper. "Aku menggunakan syal tidak ada hubungannya dengan mu kan,"
Michelina menarik kursinya, tersenyum licik melihat wajah suram itu.