
"Ibu Suri," Panggil Michelina. Wanita paruh baya yang sedang bersantai di halaman istana dan menggunakan gaun berwarna merah itu menoleh.
"Permaisuri,"
Michelina memberikan hormat. Ia duduk di hadapan Ibu Suri. "Ibu, angin malam tidak baik untuk kesehatan."
Ibu Suri tersenyum hangat, ia merindukan Michelina yang bersikap manja padanya. Ia bisa melihat sikapnya berubah. Namun hatinya tidak, masih memperdulikan dirinya. "Terima kasih telah mengkhawatirkan diri ku."
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Ibu. Besok pagi aku ingin menyusul Baginda."
Ibu Suri mengkerutkan dahinya, ia sedikit memicingkan matanya. Istana butuh seorang penguasa. Bagaimana jika ada sesuatu yang sangat penting jika semuanya meninggalkan istana?
"Permaisuri, siapa yang akan menjaga istana?"
"Aku minta tolong pada Ibu Suri. Aku mengkhawatirkan Baginda Ibu."
Senyum merekah, memperlihatkan deretan giginya. Michelina tidak seperti yang di pikirkan Zoya. Awalnya ia ingin menabrak Zoya agar lekas meninggalkan istana. Tapi untungnya, Duke Lastar menjemputnya sebagai pamannya. Dia juga terkejut, mendengarkan Zoya adalah anak dari adik Duke Lastar. Tetapi dia tak peduli, mau Zoya menjadi bangsawan sekali pun. Michelina tetaplah menantu satu-satunya.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini ibu akan setuju. Ibu akan mengurus istana. Kapan Permaisuri akan berangkat?"
Seperti mendapatkan emas, Michelina tak sabar menunggu besok pagi. "Jam Lima pagi aku akan berangkat Ibu,"
"Baiklah, ibu setuju. Tapi kamu harus membawa banyak pengawal dan Kesatria ."
"Baiklah Ibu, terima kasih. Aku akan mengikuti saran Ibu. Sebaiknya Ibu beristirahat,angin malam tidak baik." Michelina bangkit dan menunduk, meninggalkan Ibu Suri yang tersenyum di wajah yang berkeriput itu.
Udara segar terasa dingin, langit masih kelabu. Dedaunan terasa segar karena embun pagi. Terlihat seorang wanita, rambutnya di ikat satu, menggunakan baju zirah pas dengan ukuran tubuhnya. Anak panah berada punggungnya dan penutup tubuh sampai kepalanya. Di ikuti tiga kesatria dan dua pengawal yang terlatih.
Sementara di sisi lain.
Seorang gadis tengah menaiki kereta, ia tak perlu repot-repot meminta ijin atau memaksa sang Paman yang tak mengijinkannya. Dengan kepergian Duke Lastar ke kediaman Duke Ronaf. Ia bisa pergi begitu saja. Meminta ijin pun percuma, Pamannya tidak akan mengijinkan, apa lagi untuk ke istana. Dia di jaga ketat oleh sang Paman. Dengan alasan mengusul sang paman, akhirnya ia bisa pergi.
Dia membawa segala keperluan selama di perjalan. Ada untungnya juga ia memasang mata-mata di istana. Dan mendengarkan Kaisar Jasper ke kerajaan Almos tidak di dampingi oleh Permaisuri. Tentunya, menjadi kesempatan emas baginya untuk mendekati Kaisar Jasper. Apa lagi hatinya mengkhawatirkan keadaan Kaisar Jasper.
Sedangkan sang Duke Lastar. Ia berusaha meyakinkan Duke Ronaf, keponakannya itu tidak akan mengganggu Permaisuri Michelina. Suasana itu semakin menyeramkan, mana kala Duke Ronaf berteriak marah dan mengeluarkan aura dingin.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, kita tidak akan melanjutkan kerja sama lagi." Teriak Duke Ronaf menggelagar di ruang tamu itu. Ia sudah mengusirnya secara baik-baik, tidak menemuinya. Namun laki-laki itu membuat keributan di kediamannya, berteriak memanggil namanya.
"Apa hanya karena masalah rumor kita tidak bisa seperti dulu. Duke bisa percaya pada ku." Ujar Duke Lastar pada Duke Ronaf yang sudah di anggap ayah di hidupnya.
"Huh, mudah mengucapkannya, tapi tidak mudah melakukannya." Ujar Duke Ronaf memalingkan wajahnya. "Apa kamu yakin, dia bisa tinggal baik-baik di kediaman mu, tidak membuat keributan, kenyataannya kamu bisa di bohongi dengan mudah."
"Yang Mulia," seru seseorang yang berpakaian khas seorang kesatria. "Saya sudah memeriksanya, Nona Zoya keluar dari kediaman Duke Lastar." Ujarnya.
Tadi malam ia mendapatkan surat dari Michelina jika ingin menyusul Baginda Kaisar. Di dalam surat itu, Michelina menyuruhnya mengawasi Zoya dan itu pun ia lakukan demi putrinya. Ia ingin menggagalkan rencana Zoya. Namun sang paman tak di undang datang ke kediamannya.
"Apa kamu sudah mendengarkannya? alasan apa lagi yang dia buat. Selama ini aku selalu mengawasinya. Aku takut gadis sok polos itu mencelakai putri ku."
"Tidak mungkin ! dia tidak akan berani keluar."
"Pergilah, susul keponakan kesayangan mu itu."
Tanpa basa basi lagi, Duke Lastar langsung pergi menyusul Zoya. Ia harus membuat Duke Ronaf percaya padanya. Apa belum puas, ia mengurungnya di kamarnya? Zoya seakan tidak memiliki pikiran, Kaisar Jasper jelas-jelas menolaknya. Apa dia memang tidak memiliki harga diri?
__ADS_1