Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Kepergian Kaisar Jasper


__ADS_3

Pagi harinya.


Michelina langsung beranjak duduk. Ia merenggangkan otot tangannya. Sambil menguap dan membuka matanya. Dahinya mengkerut, ada sesuatu yang aneh. Ia melihat kanan kiri, bukan di sofa tapi di ranjang.


"Hah, dimana Baginda?" Michelina menyingkap selimut yang melilit sampai ke pahanya. Ia terus dan memandang ranjangnya, kemudian menatap dirinya. Tidak ada pakaian yang lepas dari tubuhnya.


"Lucilla," teriak Michelina.


Lucilla yang menunggu bangunnya sang junjungan, sejak tadi dia sudah siap siaga jika di panggil.


"Saya Permaisuri."


"Hais, kenapa tidak membangunkan diri ku. Sekarang sudah jam berapa?" tanya Michelina. Ia melihat ke arah jendela, sinar matahari sudah memasuki jendelanya.


"Sudah jam 09.30 menit Permaisuri."


Michelina langsung melongo, ia bangun kesiangan. "Dan, dimana Baginda?" tanya Michelina.


"Emm, Baginda sedang bersiap-siap meninggalkan istana Permaisuri. Katanya akan mengunjungi Raja Almos."


Michelina berlari keluar, ia sangat khawatir keadaan Kaisar Jasper. Bisa-bisanya di saat badannya tidak sehat, Kaisar Jasper malah pergi berperang. Memangnya dia patung batu yang tidak akan pecah.

__ADS_1


"Apa otaknya di buat hanya untuk berperang dan berperang?" kesal Michelina.


"Ya, dia Kaisar. Tidak peduli seberapa kuatnya tubuhnya."


"Astagah !" Michelina memegang dahinya. "Rasanya aku ingin sekali mengomelinya."


Sepanjang perjalanan, para pelayan menunduk dan saling menatap. Jungjungannya menggerutu tidak jelas selama di perjalanan.


Michelina membuka ruang kerja Kaisar Jasper dengan kasar. Sementara di dalam, dua laki-laki itu tengah merundingkan strategi. Sesekali Kaisar Jasper menunjuk arah peta, ia ingat nasehat Permaisurinya dan ingin merencanakan kesatria bayangan.


"Baginda." Seru Michelina seraya membuka pintu itu dengan kasar.


Marques Azel dan Kaisar Jasper malah melongo melihat penampilan Michelina yang polos. Wajahnya bersih tanpa make up. Aura kecantikannya terpancar sangat jelas.


"Apa Permaisuri mengkhawatirkan diri ku?" potong Kaisar Jasper.


Michelina diam, telinganya keluar asap karena malu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasanya ia ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Ia melirik Marquess Azel yang menahan tawa.


Baru kali ini juga Marquess Azel merasakan istri junjungannya sangat menggemaskan. Bahkan saat mengomel pun tidak ada jeda sedikit pun. Ah, jangan lupakan detak jantungnya yang semakin berdetak hebat.


Marquess Azel melirik ke kanan, jantungnya terasa tidak nyaman. "Baginda, saya undur diri." Pamit Marquess Azel. Ia menepis pikirannya, tidak mungkin jantungnya berdetak karena wanita yang tak bisa ia dapatkan. "Tidak mungkin, Tuhan jangan membuat ku tambah rumit."

__ADS_1


Kaisar Jasper menghampiri Michelina yang sedang memalingkan wajahnya. Ia memegang kedua bahu Michelina. Lalu meraih dagunya agar mata indah itu melihat ke arahnya. Matanya yang indah bagaikan ombak yang menenangkan hatinya. "Aku senang Permaisuri masih mengkhawatirkan diri ku di balik sifat dinginnya Permaisuri."


Mata Kaisar Jasper menahan air mata yang akan keluar itu. Ia memeluk Michelina, menghirup wangi tubuhnya, memejamkan matanya. Seolah ia merasakan berada di hutan yang di penuhi bunga mawar di terpa gemercik angin. "Terima kasih karena telah mengkhawatirkan diri ku."


Michelina menggerakkan kedua tangannya, mengelus punggung Kaisar Jasper. "Pulanglah dengan selamat dan berjaga-jaga lah saat di tengah perjalanan."


Michelina melepaskan pelukannya. "Setidak aku bisa menjalankan tugas ku sebagai seorang Permaisuri untuk Baginda. Setidaknya tugas ku yang harus menasehati Baginda adalah tanggung jawab ku." Ujarnya datar dan tersenyum tipis.


Deg


Ternyata hanya tugas, bukan cinta. Tapi tidak masalah, setidaknya dia mengkhawatirkan diri ku batin Kaisar Jasper.


"Aku senang Permaisuri melakukan tugas Permaisuri dengan baik." Ujar Kaisar Jasper. Senyumnya menahan sebuah kekecewaan. "Permaisuri, jaga kesehatan Permaisuri dan tolong jaga istana." Ujar Kaisar Jasper. Ia memeluk Michelina dengan erat.


Seandainya pagi itu ia tidak mendapatkan kabar. Mungkin saat ini, ia sedang berada di kamar Michelina, bermanja dengan dirinya. Ya, walaupun hatinya masih belum bisa menerimanya. "Aku pamit."


Kaisar Jasper mencium kening Michelina begitu dalam. Ia langsung pergi, meninggalkan Michelina yang mematung.


"Baginda."


Tepat di depan pintu Kaisar Jasper menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Pulanglah dengan selamat, aku akan menyiapkan jubah untuk mu." Ujar Michelina tanpa membalikkan tubuhnya. Sebenarnya dia ingin mencegah, namun apa yang ia perbuat. Jalan kehidupan masa lalunya sama sepertu sebelumnya. Setidaknya dia bisa mencegah hal kecil. Dan sekarang ia tidak tau, apa Kaisar Jasper akan bertemu dengan Zoya atau tidak.


__ADS_2