
Tak terasa bulan purnama bersinar terang. Menandakan, malam telah tiba. Langit damai dengan sinar terangnya. Di iringi bertaburan cahaya bintang yang berjauhan. Seakan terasa hampa. Namun cahaya itu saling melengkapi. Sama halnya dengan dirinya, hatinya hampa. Dia tidak bisa melihat wanitanya, akan tetapi cahayanya tetap menyinari hatinya. "Michelina."
kata yang kini terukir indah di hatinya. Dulu dia sangat berisik dengan rengekan dan manjanya Permaisuri Michelina. Namun sekarang dia merindukan hal itu, mengenai semua kehidupan Michelina.
"Apa dia juga merindukan ku?" Pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Perkataan yang tak pernah dia inginkan dan ucapkan. Kali ini lolos karena rasa rindu yang semakin mendalam. Semaki menyesakkan di dadanya. Hati yang tak pernah ia inginkan, mencoba tidak pernah mencintainya. Entah perasaan itu kapan datang, ia tak tahu. Perubahannya, membuatnya sakit.
"Tentu saja dia tidak merindukan diri ku."
Tidak bisa ia lupakan, tusukan perkataannya yang hanya menginginkan posisi bukan hatinya. Dulu ia berpikir seperti itu, membencinya. Baginya wanita bangsawan hanyalah menginginkan kekuasaan. Dan sekarang semuanya terbukti, tapi ia ingin mempertahankannya. Memberikannya kekuasaan, kepuasaan agar tetap di sisinya. Ia tidak perduli, mencintainya dirinya atau tidak, yang jelas dia akan memberikan kekuasaannya, menyenangkan dirinya.
"Hah,"
Dia menghembuskan nafasnya, bagaimana caranya ia harus bisa hati itu yang menginginkan posisi akan perlahan mencintainya.
__ADS_1
"Baginda,"
Laki-laki itu memutar tubuhnya, tadi dia menyuruh Marquess Azel dan Duke Bernat untuk mengurung Raja Almos dan mencari solusi dengan para bangsawan untuk melanjutkan Kerajaan Almos. Dia memutuskan, hanya orang yang memiliki hubungan darah lah yang akan meneruskannya dan tentunya harus di seleksi tentang sikap. Jika dia seorang bangsawan maka harus ia cari tentang kehidupannya saat menjadi bangsawan.
"Bagaimana?"
"Duke Hanston, Marquess Azil, hanya kedua bangsawan itu yang memiliki hubungan darah dengan Raja Almos." Ujar Marquess Azel.
"Para bangsawan lebih memilih Marquess Azil Baginda, selain dari kecerdasan dan politiknya dia mampu membuat para bangsawan berpihak padanya. Saya sudah mengeceknya Baginda. Selama masa periode kepemimpinan Raja Almos. Apa pun tentang perang dan kebutuhan Warga, Marquess Azil lah yang melakukannya di bawah bantuan Duke Hanston. Selama kedua bangsawan itu ingin melawan Baginda, tapi mereka takut karena para bangsawan ada yang berpihak pada Raja Almos, apa lagi masalah kekayaan Baginda. Setidaknya mereka berfoya-foya. Kedua bangsawan ini lah yang diam-diam membantu rakyat di wilayahnya dan membantu para bangsawan jika sedang dalam keadaan kritis."
Kaisar Jasper mengangguk mengerti, ia secara saksama mendengarkan penjelasan Duke Bernat.
"Baiklah, besok pagi aku akan membahasnya bersama para bangsawan lainnya." Tutur Kaisar Jasper. "Dan kalian, harus mengawasi bangsawan siapa saja yang melakukan tindakan di bawah Raja Almos, aku sendiri yang akan turun tangan."
__ADS_1
"Baiklah Baginda, silahkan beristirahat." Ujar Marquess Hazel.
...****************...
"Bagaimana?" tanya seorang wanita. Sejak kepergian Kaisar Jasper. Dia memasang mata-mata di kediaman Duke Lastar, ingin melihat gerak-gerik Zoya.
"Dugaan Permaisuri benar. Nona Zoya sedang mencari alasan untuk keluar dari kediaman Duke Lastar."
Michelina tersenyum, kejadian masa lalunya sama saja. "Baiklah, kamu cari mata-mata Michelina di istana dan besok pagi kita akan berangkat sebelum Zoya tiba di sana. Siapkan semua keperluan. Aku akan meminta ijin pada Ibu Suri. Tidak perlu menyiapkan kereta, aku ingin berkuda saja agar tidak menarik perhatian orang." Ujar Michelina seraya berdiri dari kursi itu. Sejak tadi menunggu kabar sambil menikmati keindahan langit malam. Entah kenapa telinganya mendengarkan Kaisar Jasper sedang menyebut namanya.
"Zoya, zoya, kejadian masa lalu tidak akan aku biarkan terjadi lagi. Ingin bersama, pijaki dulu duri yang akan aku buat Zoya. Kejadian dulu kalian bahagia. Aku akan membuat Kaisar Jasper menderita sama seperti diri ku. Ah, cinta, aku akan membuat cinta itu duri dalam hidupnya." Ujar Michelina meremas gelas wine di tangannya hingga pecah. Darah segar itu pun mengalir di tangan kanannya.
"Luka di tangan ini lah yang akan menguntungkan diri ku."
__ADS_1