Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Menggunakan Kaisar Jasper


__ADS_3

Michelina bersantai, menyeruput teh di pagi hari. Menikmati hembusan angin pagi dan kupu-kupu yang hinggap pada bunga mawar berwarna merah. Sementara Kaisar Jasper meminta ijin untuk ke aula karena akan ada beberapa hal yang perlu di bicarakan.


"Hah," terdengar helaan napas, Michelina melihat ke arah langit. Kehidupan keduanya berbeda, ia bersyukur kembali ke masa lalu dan ingin memperbaiki kehidupannya. Dulu dia yang mengejar Kaisar Jasper dan sekarang ia ingin pergi. Namun Kaisar Jasper malah mengejarnya. Jika dulu Kaisar Jasper tak sehangat dan romantis seperti sekarang. Ia juga mencegah Duke Lastar melawan ayahnya. Namun hal yang tak di mengerti, kenapa Kaisar Jasper tidak mencintai Zoya. Entahlah, memikirkannya membuatnya pusing. Jika ini mimpi, ia tidak ingin terbangun dan akan memilih tidur terlelap dengan mimpi yang indah.


Michelina meraba kalung di lehernya, selamanya tidak akan melepaskan kalung itu. Kalung yang paling berharga.


"Permaisuri, sepertinya cuaca pagi hari sangatlah indah sampai Permaisuri tak bisa di ganggu."


Dan tentunya cuacanya tiba-tiba mendung batin Michelina.


Ia merasa waktu paginya akan hancur dengan kemunculan wanita di depannya. "Ada apa?" tanya Michelina tanpa basa-basi. Baginya berbasa-basi dengan wanita di depannya akan membuang waktu yang paling berharga.


"Tidak, aku hanya ingin berbicara dengan Permaisuri."


Michelina bisa menebak, pasti akan membahas tentang dirinya ya, bisa di bilang tentang kehidupan bodohnya. "Berbicara apa? tentang apa? kapan nona Kellin akan meninggalkan istana? maaf bukan maksud mengusir hanya saja sepertinya nona Kellin sangat menikmati di istana," Michelina pun langsung menyambar, berbagai pertanyaan di otaknya langsung di keluarkan menjadi satu.


Kellin terkejut, pertanyaan itu sesuai dengan pikirannya. "Saya tidak ada maksud apa-apa Permaisuri dan untuk saya akan pergi di istana, sepertinya Permaisuri memang tidak menyukai saya." Tutur Kellin tersenyum masam. Ia mengumpet di dalam hatinya. Ia harus berhati-hati pada wanita di depannya.


Hatinya sangat greget ingin sekali menjambak wanita di depannya. "Aku seorang wanita dan tau apa yang sudah di pikirkan wanita semacam dirimu, alangkah baiknya kamu jangan bermimpi menjadi Selir Baginda. Aku bisa menebak pikiran mu."

__ADS_1


Kellin mengeluarkan ide liciknya, ia pura-pura menangis di depan Michelina. "Maaf Permaisuri, saya tidak ada maksud apa pun. Saya hanya ingin berbicara dengan Permaisuri. Baiklah, saya akan keluar dari istana. Maksud kedatangan saya kesini tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya merasa rindu pada Ibu Suri yang sudah menganggap saya sebagai putrinya." Ucapnya sesegukan.


Michelina pun tersulut emosi, ia ingin menegur Kellin, namun suara seseorang menghentikannya.


"Permaisuri ada apa ini?" tanya Ibu Suri dengan tatapan menyelidiki.


"Ibu Suri," Kellin berdiri dan menghampiri Ibu Suri. "Maaf karena membuat Permaisuri tidak nyaman, maaf karena sudah membuat Permaisuri salah paham. Saya tidak ada maksud apa-apa. Saya tulus ingin menemui Ibu Suri tidak ada maksud tertentu. Bahkan Permaisuri mengusir ku." Jelasnya tanpa menjeda sedikit pun.


Ibu Suri menatap tajam ke arah Michelina. Ia tidak menyangka, Michelina menuduh Kellin seperti saat ini. "Ada apa Permaisuri? apa kamu bisa menjelaskan?"


Wajah di masa lalu dan sekarang sama saja pura-pura polos.


"Saya hanya bertanya kapan dia akan pulang dan saya tidak suka dia memandang Baginda seperti itu." Ucap Michelina dengan bahasa formal. Ia tidak bisa tinggal diam jika menyangkut harga dirinya. Dia sudah terjatuh dan tidak akan terjatuh kedua kalinya.


"Dia hanya melihat bukan berarti merebut Baginda. Lagi pula Baginda mencintai Permaisuri kan, jadi tidak pantas seorang Permaisuri berbicara kasar pada tamu apa lagi Kellin sudah aku anggap sebagai putri ku sendiri."


Michelina meremas, melihat wanita di depannya menarik sudut bibirnya. "Apa salah seorang istri khawatir pada suaminya?"


"Sangat salah, karena Permaisuri menuduh seseorang yang seharusnya Permaisuri tidak harus menuduhnya." Pekik Ibu Suri yang mulai naik pitam. Dia dekat dengan Permaisuri tapi tidak pernah melihat Michelina tak menghormati tamu.

__ADS_1


"Saya salah Ibu dan sangat salah. Saya minta maaf, tapi saya tidak sepenuhnya salah. Saya pernah terjatuh bahkan saya pernah berfikir ingin meninggalkan istana. Seandainya Ibu Suri tidak mencegah semuanya tidak akan terjadi. Jadi saya tidak perlu khawatir tentang Baginda. Maaf sebelumnya, Ibu pernah merasakan sakit hati, sama saya juga merasakan sakit hati. Saya tidak ingin ada kejadian dimana Baginda akan menikahi wanita lain," ujar Michelina dingin.


Di kehidupan lalu, ia pernah melihat dan mendengar jika Kaisar terdahulu pernah memiliki seorang istri lainnya. Wanita itu pun menjadi istri rahasia Kaisar dan Ibu Suri menyuruh Kaisar memilih antara dirinya dan Selir itu. Baginda Kaisar pun memilih Ibu Suri dan menceraikan wanita yang tak jelas asal usulnya. Hanya karena kasihan Baginda Kaisar menjadikannya istri dengan menjamin kehidupannya.


Ibu Suri tertegun, ia diam. Perkataan Michelina menusuk hatinya. Ia pun juga tidak tau kisah wanita itu setelah Kaisar menceraikannya dan meninggalkannya.


Michelina pun menggigit bibir bawahnya, ia menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ingin melawannya menggunakan Ibu Suri maka dia akan membalasnya menggunakan Kaisar Jasper.


"Ada apa ini?"


Michelina mengeluarkan air matanya. Kita lihat Kellin, siapa yang akan menjadi juaranya.


"Ini salah ku Baginda, aku hanya ingin bertanya tapi Nona Kellin malah salah paham. Aku bertanya kapan dia keluar dari istana. Mungkin saja dia merindukan kampung halamannya. Dan aku cuman menasehatinya agar tidak menyukai Baginda, aku hanya takut. Apa aku salah?"


Deg


Gelenjar sesak itu menguasai hati dan pikirannya. Ia merasa sakit melihat Michelina mengeluarkan air matanya. Baginya, air mata Michelina sangatlah berharga bagaikan mutiara yang sangat sulit di dapatkan.


Ibu Suri terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Ia tidak bermaksud memarahi Michelina sedikit pun.

__ADS_1


"Nona Kellin, aku sudah menegaskan jangan membuat istri ku menangis atau pun merasakan takut. Sejujurnya aku kagum dan bangga, Permaisuri ku sangat mencintai ku. Tapi aku tidak suka setetes air mata keluar di wajahnya. Bahkan dirimu saja tidak bisa di bandingkan dengan air mata Permaisuri."


__ADS_2