
"Permaisuri," sapa Kaisar Jasper. Kedua wanita itu berdiri membungkuk, kemudian di susul oleh Ibu Suri yang akan ikut bergabung bersama mereka. Sekilas mata keduanya bertemu, Michelina memutar bola matanya, lalu duduk kembali.
Sementara sang lawan, masih tak percaya. Permaisurinya bisa bersikap seperti itu. Tidak mungkin wanita di depannya curiga padanya. Mengetahui siasatnya. Rasanya, ah ia bosan melihat wajahnya. Sok berkuasa dan ah, ia tidak peduli. Ia kembali melihat wajah Kaisar Jasper.
Membayangkan saja membuatnya sudah melayang. "Baginda, apa Baginda ingin selai,"
"Ya, aku ingin selai itu," tunjuk Kaisar Jasper tersenyum.
prank
Seketika kesadaran Kellin terhambur, ia melihat ke arah Kaisar Jasper dan Ibu Suri. Lalu tatapan terakhirnya pada Permaisuri Michelina.
"Maaf, aku mengganggu sarapan kalian. Aku tidak sengaja menyenggolnya. Maaf atas ketidak sopanan ku." Michelina merasa tak enak hati, ia sudah bertindak tidak sopan. Menjadi seorang bangsawan bukanlah perkara yang mudah, harus ini dan itu, peraturan dalam makan pun harus beretika, dimana melakukan kesalahan sedikit saja akan di cemoh.
Bukan itu urusan utamanya, tapi wanita ular di depannya. Mengingat matanya saja, ingin sekali 6â¹mencongkelnya. Berani sekali wanita di depannya membayangkan. Ia yakin, cepat atau lambat pikirannya akan di penuhi otak licik.
"Maaf nona Kellin aku mengagetkan mu,"
"Ti-tidak apa-apa Permaisuri. Lagi pula Permaisuri tidak sengaja kan," ucap Kellin merasa jengah.
__ADS_1
"Sepertinya nona Kellin tadi tersenyum sambil melihat Baginda. Apa ada masalah dengan Baginda?"
Kaisar Jasper pun menatap sengit Kellin, bulu kuduknya pun langsung merinding.
Kellin menunduk, "Tidak Baginda, saya hanya."
"Lain kali, tidak perlu melihat ku seperti itu. Cukup fokus pada sarapan mu." Kaisar Jasper merasa tak nyaman, apa hubungannya akan ada badai lagi. Memikirkannya saja membuatnya ingin langsung mengeluarkannya dari istana. Jika bukan memikirkan sang ibu yang sudah menganggapnya anaknya sendiri hanya karena persahabatan. Keluarganya memang dari rakyat biasa tapi ibu maupun ayahnya tidak pernah membedakan status sosial. Mereka akan berteman dengan siapa saja.
"Saya salah, saya hanya mengagumi Baginda."
"Baginda, nona Kellin hanya mengagumi tidak lebih dan untuk Permaisuri jangan khawatir." Ucap Ibu Suri menyela.
Kaisar Jasper menggenggam tangan Michelina dan mencium punggung tangan kirinya. "Terima kasih Permaisuri, aku akan menjaga cinta ku."
Ibu Suri menganga, apa mereka tidak melihat situasi. Masih ada dirinya dan Kellin, serasa dunia hanya milik berdua. Dulu pun Kaisar, suaminya tidak akan melakukan hal seperti ini. Dia masih menjaga kewibawaannya. Wanita berada di bawah laki-laki tapi sekarang melihat putra dan menantunya, sepertinya sudah terbalik. Permaisuri membuat putranya tergila-gila. Seandainya dulu seperti ini, ah mungkin dia sudah menggendong cucu. Ia bersyukur, semoga mulai saat ini keduanya tidak akan di pisahkan.
"Baginda, jangan seperti ini tidak enak." Michelina melihat ke arah Ibu Suri yang tersenyum.
"Ibu senang kalian seperti ini, ibu berharap semoga kalian tetap bersama selamanya. Seperti Ibu ingin muda lagi, dulu Baginda tidak seperti putranya yang pintar menggombal dan mengambil hati. Ah, bukan Ibu tidak seperti Permaisuri, selain baik hati dia bisa membuat Baginda tergila-gila."
__ADS_1
Michelina terkekeh, begitu pun Kaisar Jasper ia tidak menyela sedikit pun. Justru ia menyetujui perkataan ibundanya. Permaisurinya, sudah membuatnya tergila-gila.
Suasana ruangan itu pun kembali menghangat, mereka melanjutkan obrolannya tanpa memperdulikan seorang wanita yang tengah berpura-pura senang.
Di tempat lain.
Duke Lastar kembali ke kediaman Duke Ronaf, kali ini ia ingin meyakinkan Duke Ronaf yang sudah menghukum keponakannya itu. Ia melangkah, memasuki pintu itu. Lalu duduk di salah satu sofa setelah di persilahkan masuk oleh salah satu pelayan.
Duke Ronaf turun dari lantai atas, ia melihat wajah senang Duke Lastar.
"Yang Mulia Duke," Duke Lastar ingin memeluknya. Namun Duke Ronaf menghindar. Ia mengalihkan tatapannya.
"Em, ada apa Yang Mulia Duke datang kesini?" wajahnya datar bak patung es.
"Aku ingin meminta maaf dan aku sudah menghukum Zoya. Ya, semoga dengan begitu Zoya mau berubah." Ucap Duke Lastar menghilangkan sikap formalnya. Bukan maksud hati dia ingin mengusir Zoya, tapi ia berharap Zoya mau berubah. Mengusik kehidupan orang bukanlah benar.
Duke Ronaf pun tak menyangka, pengorbanan Duke Lastar demi memberi pelajaran dan mempertahankan hubungan mereka. Duke Lastar rela menghukum Zoya dengan mengasingkannya.
Sebenarnya dia tidak tega, seandainya putrinya. Ia akan melakukan hal yang sama. Duke Ronaf merentangkan tangannya, menyambut Duke Lastar yang ingin memeluknya. Dan sekarang kedua laki-laki itu berpelukan.
__ADS_1