
"Permaisuri," sapa Duchess Mia. Ia melihat putrinya sedang di rundung pilu hanya sendirian di taman istana. Dia menangis dalam terisak-isak sendirian. Sementara Lucilla tak berani mendekat
"Ayah, Ibu." Michelina pun memeluk sang Ibu begitu hangat. Ia meluapkan semua kesedihannya di dekapan sang ibu.
"Bu, aku salah. Sangat salah, aku sudah mengorbankannya." Michelina melepaskan pelukannya.
Duchess Mia pun menghapus jejak air matanya. "Semuanya sudah terjadi, kali ini Ibu tidak meragukan ketulusan cinta Baginda."
"Benar sayang, temuilah Baginda. Temani dia, aku yakin saat ini dia sedang bersedih."
Michelina mengangguk, "Ibu, Ayah pulanglah besok. Ini sudah larut malam, aku takut terjadi sesuatu pada kalian."
Duchess Mia mengangguk, putri kecilnya sekarang butuh dukungan dan butuh seorang teman. Bagaimana bisa dia akan meninggalkan Michelina dalam keadaan sendiri?
"Ibu dan Ayah akan di sini."
"Lucilla, siapkan kamar untuk mereka."
"Baik Permaisuri."
__ADS_1
Duchess Mia dan Duke Ronaf pun mengikuti Lucilla. Sementara Michelina bergegas pergi menuju kediaman Kaisar Jasper. Sesampainya di sana, saat memutar handle pintu. Samar-samar ia mendengarkan isakan tangis. Tangannya langsung memutar handle itu, ia melihat Kaisar Jasper bersama Marquess Azel.
"Baginda,"
Marquess Azel menunduk, setelah merasa puas melihat penderitaan Kellin, ia bergegas menuju kediaman Kaisar Jasper. Hatinya khawatir, lalu nekad memasuki kamar Kaisar Jasper setelah mengetahui Michelina sedang keluar.
Matanya, pertama kalinya ia melihat Kaisar Jasper begitu rapuh. Menangis seraya menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang. Kaisar Jasper yang melihat kedatangannya. Lalu menulis sesuatu, "Aku tidak bisa bicara, bagaimana jika dia meninggalkan ku?" Mengingat semua kejadian itu, Marquess Azel pun nekad berbicara. Ia mengambil sebuah kertas yang jatuh di lantai, memberikannya pada Michelina.
Michelina pun membacanya, ia meremas kertas itu. "Keluarlah, aku akan berbicara dengan Baginda."
Marquess Azel keluar dari ruangan itu, ia sudah meyakinkan Kaisar Jasper Permaisuri Michelina tidak akan meninggalkannya. Jika sampai semua itu terjadi, maka dia sendirilah yang akan menahannya dengan cara apa pun agar junjungannya sekaligus sahabatnya tidak bersedih.
Michelina melangkah, "Apa ini?" tangannya memperlihatkan kertas putih di tangannya. "Aku pernah berfikir untuk meninggalkan mu, Baginda." Seketika Kaisar Jasper menoleh, air matanya langsung terjatuh.
"Tapi sekarang tidak," Michelina merobek kertas itu menjadi dua bagian. Ia duduk di samping Kaisar Jasper. "Karena aku mencintai mu, tidak peduli apa pun yang terjadi. Aku mencintai mu Baginda." Michelina memeluk Kaisar Jasper. "Aku berjanji." Imbuhnya.
"Permaisuri, Baginda."
"Masuklah," ujar Michelina.
__ADS_1
"Maaf mengganggu Permaisuri, saya datang kesini hanya menyampaikan. Besok Raja Almos ingin berkunjung, Baginda."
Michelina menoleh ke arah Kaisar Jasper yang hanya di balas anggukan. "Baiklah, Baginda sudah menerimanya. Persiapkan untuk penyambutan bagi Raja Almos."
Selepas kepergian Marquess Azel, Kaisar Jasper menatap dalam Michelina. Ia meraih bahu Michelina membaringkannya dengan lembut. Pipi Michelina memerah, pikirannya melayang entah kemana. Sementara Kaisar Jasper ia menenggelamkan kepala di pangkuan Michelina.
Michelina menghembuskan nafas kasarnya, ia membuang pikiran anehnya. Tangan kirinya yang di jadikan bantal, ia gerakkan mengelus kepala Kaisar Jasper. "Aku mencintai mu Baginda," ujar Michelina seraya mencium kening Kaisar Jasper.
Kaisar Jasper pun tersenyum, pengakuan yang selalu ia tunggu-tunggu dan ciuman hangat dari istrinya. Ia sangat dan sangat mengharapkan rasa tulus di hati Michelina. Ia merasa kali ini Michelina pun telah mencintainya dengan tulus. Seandainya ia bisa berbicara, kali ini ia akan mengatakan jika dirinya sangat bahagia. Kaisar Jasper mendongak, ia mencoel pipi Michelina dengan gemas.
Michelina mendengus, ia menarik jari Kaisar Jasper dan menggigitnya pelan. "Nakal."
Kaisar Jasper terkekeh kecil, sudah lama bahkan tidak pernah ia bercanda dengan Permaisurinya. Kaisar Jasper bangkit, dengan usilnya ia menggelitiki Michelina. Hingga membuatnya tertawa lepas. "Ampun Baginda,"
Kaisar Jasper menarik lengan Michelina sampai membentur dadanya. "Aku sangat menyayangi mu Permaisuri." Ia mencium kepala Michelina.
"Apa besok Baginda akan menemui Raja Almos?" tanya Michelina seraya mendongak dan Kaisar Jasper pun mengangguk.
"Baginda,"
__ADS_1
Hemmmmm
Kaisar Jasper hanya berderhem seraya mengelus kepala Michelina. "Bagaimana kabar Zoya?"