
Kaisar Jasper merangkul pinggang Michelina, ia sekejap melihat ke arah Ibundanya. Lalu melangkah pergi membuat kedua wanita itu menunduk dengan pikiran masing-masing.
Kellin berusaha menahan teriakannya. Rasanya ia ingin mengeluarkan amukannya, ia tidak tahan dengan Michelina yang selalu membuatnya naik darah. Selalu saja ada Kaisar Jasper yang akan membelanya di saat situasi menyulitkan dirinya.
Sedangkan Ibu Suri ia sangat merasa bersalah. Ia bisa merasakan apa yang di takutkan oleh Michelina sama sepertinya dulu. Mengingat tentang kehidupan istri kedua suaminya. Ia jadi penasaran bagaimana kehidupannya? akankah dia bisa hidup dengan baik di saat suaminya menceraikannya. Hanya dirinyalah yang tau rahasia ini dan tentu Michelina yang pernah mendengarkan perdebatan mereka sewaktu dia masih bertunangan dengan Kaisar Jasper.
"Ibu Suri," cicit Kellin.
Raut wajah wanita paruh baya itu mendadak berubah hangat. "Ada apa Kellin?"
"Maaf, bukan maksud saya."
"Aku paham Kellin, aku paham hati mu merasa tersinggung dan aku paham apa yang di rasakan Permaisuri. Sebagai seorang wanita dan seorang istri mereka akan bertindak tegas jika seseorang melirik suaminya. Aku pernah ada di posisinya Kellin. Ibu berharap apa yang di tuduhkan oleh Permaisuri tidak benar. Ibu tidak ingin keduanya terpisah, jangan mengecewakan Ibu yang sudah menganggap mu sebagai putri ku," ujar Ibu Suri. Ia pun pergi dengan perasaan tak menentu.
Sedangkan di ruangan megah itu, terlihat seorang wanita yang tengah mendorong seorang pria sampai dia terhuyung ke belakang. Wanita itu menghapus air matanya di pipinya dengan kasar dan menghentikan tangisannya.
Laki-laki itu menaikan alisnya dan merasa aneh. "Permaisuri kenapa kamu mendorong ku?"
Michelina berdecih kesal, ia sudah puas ber akting. Kini ia harus kembali ke dunia nyata. "Aku sudah selesai menangis Baginda," serunya seraya menggelengkan kepalanya.
Kaisar Jasper tambah bingung, bukankah wanita di depannya bersedih. Lalu kenapa sekarang malah sangat kesal. Seharusnya wanita di depannya memeluknya, menangis di dadanya. Lalu ia akan menenangkannya. "Apa Permaisuri tidak sedih lagi?"
__ADS_1
"Buat apa aku bersedih karena wanita sepertinya. lagi pula laki-laki sangat banyak,"
Kaisar Jasper membulatkan matanya, apa maksud wanita di depannya? ingin meninggalkannya, tidak akan bisa.
"Apa Baginda tidak bisa mengusirnya?" tanya Michelina yang merasa jengah ingin menyingkirkan wanita itu. Ia malas harus repot-repot berdebat dan memutar keras otaknya.
Kaisar Jasper berjalan lelah ke arah ranjangnya. Ia menjatuhkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Tidak akan mudah menyingkirkan sesuatu di samping Ibu Suri. "Apa Permaisuri berfikir aku harus menculiknya?" Kaisar Jasper langsung duduk, ia memandang lekat wanita di depannya yang sedang bersandar di depan nakas dan menyilangkan kedua tangannya. Ia sudah tidak mempermasalahkan sikapnya yang hanya berdua saja.
"Sama saja percuma, Ibu Suri akan sedih dan akan mencarinya. Lebih tepatnya dia akan meminta tolong pada ku."
Michelina sedikit menimang-nimang ucapan Kaisar Jasper. "Benar juga, ia tidak sepenuhnya menyalahkan Ibu Suri karena wanita itu berpura-pura teraniaya." Michelina mengelus dagunya, semenit kemudian ide licik pun terlintas di otaknya. "Bagaimana jika Baginda yang melakukannya."
"Baginda berpura-puralah baik, mendekatinya atau Baginda membuatnya masuk ke perangkap kita."
"Maksud Permaisuri,"
"Ehem, begini. Baginda mendekatinya, bisa saja dia membuat jebakan atau semacamnya .. "
"Jangan membuat ide gila Permaisuri," potong Kaisar Jasper. "Aku tidak mau berdekatan dengannya. Kulit ku bersentuhan saja dengannya membuat ku harus mandi bunga mawar tujuh warna." Sambungnya sambil mendekik tajam. "Jangan mendorong suami mu bersama wanita lain. Ingin sekali aku mengguliti kulit ku saat bersentuhan dengannya."
"Lalu aku harus apa? apa Baginda tidak bisa melihatnya tadi. Dia sudah berani memfitnah ku, tapi sejujurnya yang di katakannya memang benar. Kemudian dia akan terus mencari cara menjatuhkan diri ku. Baginda ingin melihat ku bersedih,"
__ADS_1
Kaisar Jasper menggeleng, mana bisa ia membuat Permaisurinya bersedih. Ia meraih pinggang Michelina, menyandarkan kepalanya di perutnya. "Aku harus apa Permaisuri. Aku tidak bisa berdekatan dengan wanita lain." Lirih Kaisar Jasper.
Michelina mengelus kepala Kaisar Jasper. "Hanya sebentar, wanita licik sepertinya bisa memikirkan seribu jebakan. Aku tidak ingin ada yang mengusik hubungan kita Baginda. Maka dari itu kita harus cepat menyelesaikannya."
"Apa tidak ada cara lain selain cara yang tidak ingin aku lakukan?"
Michelina merangkup kedua pipi Kaisar Jasper, hingga Kaisar Jasper mendonggak ke wajahnya. "Hanya sementara, percayalah. Kita bisa melakukanya. Kita harus membuat Ibu Suri sadar bahwa apa yang di lihatnya tidak seperti yang dia lihat."
Kaisar Jasper tersenyum, dia kembali menyandarkan kepalanya di perut Michelina. "Aku percaya hanya sementara kan. Aku akan menuruti permintaan Permaisuri, tapi tolong jangan terlalu lama menyiksa ku."
"Iya Baginda, aku akan mengusahakannya." Ucap Michelina tersenyum penuh arti.
Setidaknya kamu akan menahan sesuatu yang tidak kamu sukai. Anggap saja itu hukuman kedua mu, Baginda. Ya, aku tidak sabar melihat wajah mu yang kesal.
Kellin selamat datang di permainan ku.
"Terima kasih Baginda, apa perlu kita berkeliling istana untuk menjernihkan pikiran Baginda?"
"Aku mau,"
Michelina pun mengangguk, ia menggenggam tangan Kaisar Jasper meninggalkan kediamannya.
__ADS_1