
"Hah, kenapa dia malah tidur?" Kaisar Jasper menghembuskan nafasnya yang berat. Malam ini dia berharap bisa memiliki Permaisuri seutuhnya. Namun hal itu kembali terjadi lagi. "Permaisuri," Kaisar Jasper mencoel pipi Michelina. Tidak ada jawaban mungkin Permaisurinya memang tidak bisa di bangunkan. Ia pun beralih memutari ranjang, lalu menaikinya.
Tidak masalah dia tidak bisa melakukannya, bisa lain kali, masih banyak waktu, yang terpenting sekarang dia bisa lebih dekat. Ia mendekat, mengelus pipi, lalu mencium keningnya. "Selamat malam Permaisuri," Kaisar Jasper menyandarkan kepalanya di bahu Michelina. Sedangkan tangannya melingkar di perut Michelina.
Tidak butuh waktu lama, terdengar dengkuran halus. Michelina membuka sebelah matanya, ia mengintip mata Kaisar Jasper yang tertutup rapat.
Michelina membaringkan kepala Kaisar Jasper dengan benar agar lehernya tidak sakit. "Aku perlu bukti Baginda," Michelina mengelus kepala Kaisar Jasper. Kenapa sangat sulit melupakan masa lalunya. Setiap kali mengingatnya pasti hatinya terluka. Wajah yang dulunya sangat ingin dia sentuh, tangan yang dulu sangat menjijikkan baginya. "Aku tidak bisa melupakannya Baginda." Michelina menggigit bibir bawahnya.
Aku tidak sudi di sentuh oleh mu
Ia menggeleng, lalu mencium kening Kaisar Jasper. Entah aku bisa atau tidak Baginda. Tapi entahlah, aku rasa, aku butuh waktu untuk menerima mu. Melupakan tidak semudah memaafkan.
Michelina memperbaiki selimut Kaisar Jasper. Ia beranjak turun, menenangkan hatinya dengan keindahan malam.
"Hah,"
"Ayah, Ibu aku merindukan kalian. Aku tidak bisa melupakan semuanya. Rasanya sangat sakit, Tuhan ... " Michelina memejamkan matanya, ia membiarkan air matanya membasahi pipinya.
"Tidak ..... !" teriak Kaisar Jasper membulatkan matanya. Keningnya di penuhi keringat, nafasnya naik turun.
Michelina yang mendengarkan teriakan Kaisar Jasper berlari memasuki kembali kamarnya. Dia melihat Kaisar Jasper sangat panik, cemas dan ketakutan. "Baginda, ada apa?" tanya Michelina seraya menaiki ranjang Kaisar Jasper.
Kaisar Jasper menoleh, Bibirnya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Permaisuri," Kaisar Jasper memeluk Michelina. Ia takut mimpinya menjadi nyata, rasanya sangat sakit. Bahkan jantungnya saat itu rasanya sudah berhenti berdetak. "Aku takut,"
Tubuh kokoh itu bergetar, dia menangis di dalam pelukan Michelina.
__ADS_1
"Takut kenapa? apa yang bisa Baginda takuti? Baginda orang yang kuat." Michelina mengelus punggung Kaisar Jasper.
"Aku takut, aku takut kamu meninggalkan ku." Kaisar Jasper melepaskan pelukannya. Ia menggenggam kedua tangan Michelina seraya menatapnya dengan tatapan memohon dan air mata yang terus mengalir. "Di dalam mimpi ku kamu meninggalkan ku. Mata mu memerah, seakan kamu membenci dan kamu malah berkata meninggalkan ku, membenci ku."
Deg
Michelina tersenyum samar, benar pikirannya memang masih mengarah meninggalkan Kaisar Jasper. Ia menghapus air mata Kaisar Jasper. "Mimpi hanya bunga tidur Baginda, tidak akan menjadi nyata." Ucap Michelina seraya beralih ke pipi satunya.
"Tapi aku takut menjadi nyata, aku sangat takut. Katakan apa yang kamu benci dari ku, sehingga aku bisa memperbaikinya."
"Aku tidak membenci Baginda." Sangkal Michelina.
Kaisar Jasper menggeleng, "Bohong mata mu masih membenci ku. Katakan, tapi aku mohon jangan mengatakan akan meninggalkan ku."
"Permaisuri selalu mengatakannya, aku sangat minta maaf di kehidupan lalu ku menyakiti mu. Aku minta maaf,"
Michelina meneteskan air matanya, buru-buru dia menghapusnya. "Tidak akan,"
"Jika kamu tidak ingin tinggal di istana, akan aku ijinkan kamu keluar istana tapi tidak untuk meninggalkan istana." Ia mengeluarkan suara hatinya. Sangat takut, bahkan dia tidak ingin tidur kembali. Takut mimpi itu akan datang kembali dan saat ia membuka matanya ia akan melihat Michelina sudah tidak ada di sampingnya.
"Jika dulu Baginda menyakiti ku dengan membunuh orang tua ku,"
"Bunuh aku," potong Kaisar Jasper dengan cepat.
Mely meremas jubah tidur Kaisar Jasper, "Jika dulu Baginda lebih memilih Zoya, bahkan demi dirinya Baginda menyakiti ku."
__ADS_1
"Tusuk mata ku, berarti saat itu aku tidak bisa melihat dengan baik." Kaisar Jasper melepaskan pelukannya. Meskipun ia tidak mengerti, tapi ia tau. Jika Permaisurinya takut semuanya menjadi nyata. "Dan seandainya aku membunuh mu, maka bunuhlah aku."
Michelina kembali memeluk Kaisar Jasper, ia mencium kening Kaisar Jasper. Apakah benar jika ia memulai kehidupan baru tidak akan terjadi seperti kehidupan lalu. "Terima kasih Baginda, tidurlah Baginda harus banyak istirahat."
"Aku tidak mau tidur, aku takut." Kaisar Jasper semakin memeluk tubuh Michelina.
Michelina pun membaringkan tubuh Kaisar Jasper masih dalam posisi berpelukan. "Aku akan menemani Baginda. Aku janji, mimpi itu tidak akan menjadi nyata."
Michelina mengelus kepala Kaisar Jasper. Perlahan mata itu pun kembali redup dan tertutup. "Aku hanya ingin mengikuti hati ku, Baginda." Ia mencium kening Kaisar Jasper. Kemudian ikut memejamkan matanya.
Ke esokan harinya.
Michelina bangun lebih dulu, satu hal yang selalu ia inginkan. Membuka matanya dan melihat orang yang ia sayangi. "Selamat pagi Baginda." Michelina mencium pipi kiri Kaisar Jasper. "Sepertinya dia memang kelelahan."
Michelina turun dengan hati-hati, ia membuka pintunya membiarkan Lucilla memasuki kamarnya.
"Permaisuri,"
Lucilla mengedarkan pandangannya, ia tersenyum melihat kelambu itu masih mengurung ranjang junjungannya. "Baiklah, Permaisuri. Mari, pelayan ini akan membantu membersihkan tubuh Permaisuri." Ucap Lucilla dengan tersenyum.
Michelina hanya tersenyum dan menurutinya. Kedua wanita itu memasuki kamar mandi, Michelina membuka jubah tidurnya dan turun ke bathub itu.
"O, iya Permaisuri. Di bawah ada Nona Kellin katanya dia anak dari teman Ibu Suri." Ucap Lucilla.
Michelina tersenyum, ia merasa akan ada boneka baru.
__ADS_1