Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Obat Perangsang


__ADS_3

Michelina menyelipkan jarinya di sela-sela rambut Kaisar Jasper. Memijatnya dengan lembut di sertai dengan wewangian di kepalanya. Sebagai tebusan atas kemarahannya dengan senang hati dia mau menuruti permintaan Kaisar Jasper yang ingin mandi dengannya.


"Baginda,"


Tidak ada sahutan, sepertinya bayi besarnya masih kesal. "Sayang,"


Kaisar Jasper membuka matanya, bukan maksudnya mengabaikan Michelina, tapi ia masih merasa kesal mengingat Kellin. "Apa sekarang Permaisuri membujuk ku?" Ia memutar lehernya.


"Tentu," Michelina mencubit gemas hidung Kaisar Jasper membuat dia tercengang dan pipinya bersemu merah.


Michelina mencium kening Kaisar Jasper dengan dalam. "Maaf, tidak akan ada lain kali."


Kaisar Jasper memutar tubuhnya, ia memeluk Michelina dengan tubuh yang masih basah.


"Aku bukan marah pada mu Permaisuri, tapi aku marah pada wanita itu. Mengingatnya saja, uh."


"Sudah jangan di ingat,"


Di dalam air itu pun sudah menegang, nafasnya berat. Ia memulai mencium leher Michelina menjilatnya dan memberikan kecupan miliknya.


"Baginda,"


Keduanya pun saling menatap dan memulai dengan ciuman panas di bibir mereka, rasa manis dan kenyal tak mampu membuatnya berhenti. Mereka saling menyambut, saling menyesapi, saling bermain.


Kaisar Jasper berdiri di ikuti Michelina. Dengan tubuh telanjang dan bendanya yang menegang. Michelina meneguk air ludahnya dengan mata yang tercengang.


"Aku ingin istri ku." Kaisar Jasper membuka resleting di bagian gaun belakang Michelina. Gaun itu pun merosot jatuh ke lantai.

__ADS_1


glek


Tubuh Kaisar Jasper semakin memanas melihat dua benjolan yang sangat besar dan memuaskan itu. Sudah berapa kali ia bermain di belahan buah itu.


Michelina memalingkan wajahnya seraya menutupi kedua bendanya.


Kaisar Jasper tersenyum puas, ia menarik dagu Michelina. Lalu mencium bibir Michelina dengan lembut. "Aku sudah merasakannya Permaisuri, jadi untuk apa kamu malu?"


"Baginda," Michelina menggigit bibir bawahnya. Sengatan listrik menjalar di lehernya dan bagian salah satunya seperti sesuatu yang mengguncang. Namun menghangatkan seluruh tubuhnya.


Ciuman Kaisar Jasper turun ke arah dua benda kenyal itu. Satu persatu ia *******, Michelina meremas rambut Kaisar Jasper. Satu desahan keluar dari mulut indahnya. Kaisar Jasper semakin menggebu-gebu,


emm


Kaisar Jasper mendorong pelan tubuh Michelina sampai ke belakang, keduanya saling menatap dengan nafsu. Michelina pun langsung ******* bibir Kaisar Jasper. Keduanya saling berciuman kembali.


Suara desahan itu pun terjadi. Keduanya saling menyalurkan hasratnya di dinding kamar mandi itu.


Tak terasa, pesta pun telah tiba. Michelina menggunakan gaun berwarna biru langit dengan perhiasan yang sangat simple namun elegan. Setelah Mahkota putih dengan mutiara dan batu safir bertengger di kepalanya. Michelina berdiri, ia menunggu Kaisar Jasper menjemputnya.


"Permaisuri."


Michelina menoleh, Kaisar Jasper belum menggunakan jubahnya dan mahkotanya. Justru ia melihat dua pelayan yang sedang mengikuti Kaisar Jasper.


"Kenapa Baginda belum memakai jubahnya?"


"Aku ingin Permaisuri yang melakukanya."

__ADS_1


Michelina memberikan kode pada pelayan yang membawa jubah Kaisar Jasper. Ia mengambil jubah itu dan memakaikannya di tubuh Kaisar Jasper. Setelahnya, ia mengambil mahkota itu dan menaruhnya di atas kepala Kaisar Jasper.


"Aku harap rencana Permaisuri malam ini akan berjalan dengan lancar. Marquess Azel pun sudah mengerti, walaupun dia sedikit mengomel pada ku." Ucap Kaisar Jasper. Ia malas mendengarkan omelan dari Marquess Azel. Telinganya hampir meledak. Jangan lupakan tentang Kellin, ia sudah berusaha bersikap baik padanya. Mungkin sekarang wanita itu akan terbuai dengan kebaikannya.


"Sebagai hadiahnya, setiap saat istri mu ini akan menurutinya kan."


Kaisar Jasper mengangguk patuh. Benar, Michelina selalu menurutinya di mana saja jika dia menginginkannya termasuk di ruang kerjanya yang pernah menjadi saksi keduanya.


"Ya sudah, ayo." Michelina menggandeng lengan Kaisar Jasper. Mereka bersanding menuju aula istana.


Keduanya berjalan di atas karpet merah dan para bangsawan berbaring memberikan sebuah penghormatan. Keduanya duduk di singgasanahnya masing-masing. Kaisar Jasper memulai acaranya, setelah selesai mengucapkan rasa terima kasihnya pada bangsawan yang sudah menghadiri dan ikut bertisipasi dalam acara pesta pasangan sebagai rasa hormat kepada mendiang dari ayah dan para Kaisar terdahulu.


Acara dansa pun di mulai. Michelina dan Kaisar Jasper berdansa di tengah-tengah bangsawan. Keduanya menarik perhatian para bangsawan. Mereka saling berbisik dengan keromantisan keduanya. Kaisar Jasper selalu mengembangkan senyumannya pada Michelina. Hal itu tak pernah lepas dari penglihatan kaum bangsawan. Baru pertama kalinya mereka melihat senyuman Kaisar Jasper yang menambahkan ketampanannya.


Sama saja dengan Michelina. Namun matanya melirik kanan kiri, tidak mendapati Kellin. Semoga saja kali ini akan berhasil. Jika gagal, taruhannya adalah Kaisar Jasper.


Acara dansa pun selesai, Michelina bergabung di antara para wanita bangsawan. Mengucapkan selamat serta doa yang tulus bagi Michelina dan Kaisar Jasper. Namun Michelina tidak merasakan ketulusan melainkan merasakan sindiran. Ya, ejekan dan sindiran mampu ia atasi dengan kalah telak. Mengingat rumor Zoya dan hal lainnya.


"Permaisuri."


Michelina meninggalkan para wanita bangsawan, ia menarik lengan Lucilla ke terasa depan.


"Bagaimana?"


"Dia menaruh obat perangsang di dalam minuman Kaisar Jasper Permaisuri."


Michelina membulatkan matanya, ia mengedarkan pandangannya. Kaisar Jasper meminum sebuah wine dan sudah menghabiskannya. Ia menggigit bibir bawahnya. Dari kejauhan, ia melihat Kellin yang sedang menghampiri Kaisar Jasper.

__ADS_1


__ADS_2