Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Membiarkannnya


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Kaisar Jasper memeluk erat tubuh Michelina dari belakang. Ia menyandarkan dagunya ke bahu kanan Michelina. menghirup wangi tubuh Michelina yang memabukkan.


"Baginda," Michelina menaikkan bahu kanannya yang merasa geli. Wajahnya memerah, sedangkan jantungnya seakan ikut pacuan kuda.


"Permaisuri,"


Michelina menoleh, bibirnya pun merasakan sesuatu yang sedang mencumbu bibirnya. Michelina menatap dalam-dalam manik Kaisar Jasper. Hingga kedua bibirnya saling menyatu.


Hembusan angin sore, di iringi langkah kuda yang berpacu dengan cepat. Gemersik aliran air sungai dan kicauan burung menambah kesan keromantisan mereka. Sedangkan Marquess Azel dan yang lainnya tidak tahu, jika kedua orang di depannya saling menyatukan kehangatan di atas kuda yang berlari kencang karena jubah hitam Kaisar Jasper menutupi kedua.


Langit malam mengantarkan mereka telah sampai ke depan gerbang istana. Kaisar Jasper turun dari kudanya, kemudian ia menengadahkan tangannya seraya berjongkok. Ia ingin Michelina menginjakkan kakinya di telapak kanannya sebagai tangga.


"Baginda,"


"Tidak masalah Permaisuri, injaklah."


"Baginda aku bisa turun sendiri," ujar Michelina. Mana mungkin ia menginjakkan kakinya di kedua tangan Kaisar Jasper. Di kehidupan lalunya pun Kaisar Jasper tidak pernah melakukan hal itu pada Zoya. Dia hanya membantu Zoya turun seperti biasa. Dia tidak enak melihat tatapan semua orang yang tertuju padanya. Apa lagi Marquess Azel yang merasa menahan tawa. "Jangan seperti ini Baginda, aku tidak .."


"Kalian semua, pergilah. Permaisuri tidak enak dengan keberadaan kalian." Perintah Kaisar Jasper.


Semua pelayan dan pengawal, sekaligus Duke dan Marquess Azel. Mereka pergi meninggalkan Kaisar Jasper.


"Semuanya sudah pergi, sekarang apa yang kamu takuti? turunlah. Anggap saja semua ini aku lakukan karena sebuah cinta."

__ADS_1


Michelina tersenyum kecil, ia menginjakkan kaki kanannya lebih dulu kemudian kaki kirinya. Michelina menunduk, walaupun ada sebuah kebencian di hatinya. Namun masih ada rasa cinta sedikit yang tersisa.


"Istirahatlah," Kaisar Jasper mencium kening Michelina.


"Baginda,"


"Lucilla, siapkan makan malam untuk Permaisuri. Bawa saja ke kamarnya." Teriak Kaisar Jasper. Lucilla yang berdiri tak jauh dari sana segera berlari dan menyanggupi perintah Kaisar Jasper.


"Aku akan mengunjungi mu nanti,"


Michelina mengangguk, ia pun membalikkan badannya di ikuti Lucilla.


Terima kasih Tuhan, aku merasa senang Permaisuri mau membuka hatinya kembali.


Michelina pun membuka bajunya dan memasukkan tubuhnya ke bathub di depannya.


"Permaisuri, aku merasa senang Permaisuri mau membuka hati untuk Baginda."


Michelina membuka matanya, ia merasa nyaman dengan pijatan Lucilla di tangan kanannya. "Entahlah,"


"Jangan meragukan Baginda Permaisuri. Saya yakin Baginda sangat mencintai Permaisuri." Ucap Lucilla seraya mengelus bahu Michelina dan memijat pelan. "O iya Permaisuri, saya mendengarkan Zoya telah di asingkan di Desa Harbes,"


"Desa Harbes, bukankah desa itu desa wilayah Duke Lastar. Aku kira dia akan mengasingkan Zoya ke tempat asalnya. Mungkin karena dia tidak ingin jauh dari Zoya. Aku tidak mungkin mempercayainya untuk memberikan hukuman pada Zoya."

__ADS_1


"Tapi nona Zoya hidup sederhana, Yang Mulia Duke Lastar tidak memberikan apa pun padanya. Mungkin dia akan kembali menjadi rakyat biasa."


"Sudahlah, kita tidak perlu membahasnya. Kamu harus memantaunya Lucilla," ujar Michelina seraya berdiri.


Lucilla pun mengambil jubah mandi Michelina di sampingnya. Lalu memakaikannya. "Baiklah, Permaisuri tenang saja."


"Emm, Permaisuri apa Baginda akan malam di sini?"


Seketika Michelina ingat, "Aku ngantuk, aku akan beristirahat," ujar Michelina menuju ke kasurnya. Ia baru ingat, Kaisar Jasper akan mengunjungi.


"Tapi Permaisuri, Permaisuri belum makan malam."


"Aku sudah kenyang, cepat pergilah. Aku capek mau istirahat." Michelina menutupi semua tubuhnya dengan selimut putihnya. Bayangan demi bayangan ciuman Kaisar Jasper membuat wajahnya memanas. Ia menyingkapi selimutnya, kemudian menepuk kedua pipinya. "Tidak, tidak, aku tidak boleh memikirkannya."


krek


Michelina menoleh, ia langsung menjatuhkan kembali tubuhnya dan memejamkan matanya. Ia belum puas memberikan pelajaran bagi Kaisar Jasper. Biarkan laki-laki itu sekali lagi membuktikan cintanya dengan tulus.




Semoga lancar rezekinya kak biar bisa beli wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2