
"Em, Permaisuri. Silahkan masuk,"
"Miya, siapa?" tanya seorang wanita, ia heran melihat sang pelayan merasa gugup. Sejak tadi ia menikmati malam di teras depan dan membayangkan dirinya menjadi bagian istana. Alangkah baiknya, mendapatkan cinta dari Kaisar Jasper menjadi wanita yang paling utama. Saat ia meminta Miya untuk menyiapkan camilan malam. Ia malah melihat pelayanannya berdiri di belakang pintu dengan melihat ke arahnya.
Michelina pun langsung masuk, kemudian di ikuti Kaisar Jasper.
Kellin tercengang, ia melihat Michelina tanpa berkedip. Baru pertama kalinya ia melihat Permaisuri dari Kaisar Jasper. Ternyata wanita di depannya memang cantik, tapi kecantikannya sangat di sayangkan tidak bisa membuat Kaisar Jasper terpana sedikit pun.
"Apa aku mengganggu nona Kellin?"
"Ti-tidak Permaisuri, justru saya merasa senang. Dan Baginda," Kellin menampilkan senyuman terbaiknya. Seakan lebah pun terpikat olehnya. "Silahkan duduk,"
Ingin menggoda suami ku, mimpi
"Huh," Michelina duduk dengan angkuhnya, ia akan memulai peperangannya saat ini.
"Saya datang kesini hanya meminta maaf pada nona Kellin,"
Nona Kellin pun tersenyum licik, "Tadi Baginda sudah mengatakan jika Permaisuri tidak enak badan. Saya hanya bisa memakluminya saja. Ternyata Baginda sangat perhatian pada Permaisuri."
Michelina mengangguk, ia menyeruput teh yang di bawakan oleh pelayan Miya. Teh hangat di malam hari, menghangatkan hatinya yang baru saja dingin.
"Benar," Michelina menggenggam tangan kanan Kaisar Jasper yang duduk di sampingnya. "Dia selalu memanjakan ku. Aku merasa beruntung, dia mencintai ku, menjaga ku."
__ADS_1
Kaisar Jasper mengulum senyum, ia mengelus pucuk kepala Michelina. "Apa pun yang kamu minta akan aku turuti, semuanya akan aku lakukan."
Kellin merasa panas melihat adegan di depannya, ia meremas gaunnya di bawah meja. Seandainya dia bukan wanita di depannya. Ia sudah mencari tau, Kaisar Jasper tidak mencintai Permaisuri Michelina sama sekali. Lalu apa rumor itu bohong?
"Sepertinya hubungan Permaisuri dan Baginda sangat baik," ujar Kellin berusaha tersenyum. Senyuman indah itu siap menusuk Michelina dari arah mana saja.
"Saya merasa senang pernikahan Permaisuri dan Baginda baik-baik saja. Awalnya saya khawatir dengan rumor itu," Kellin menghindari tatapan Michelina dan Kaisar Jasper. "Rumor itu memang tidak baik, saya dengar jika Baginda tidak mencintai Permaisuri. Dulu Permaisuri mengejar Baginda, begitulah rumor itu."
Michelina mengeraskan genggamannya, hingga Kaisar Jasper pun tau, jika dia berusaha menahan amarah. Begitu pun Kaisar Jasper ia merasa Kellin menghina secara langsung.
"Rumor hanyalah rumor nona, kenyataannya aku mencintai Permaisuri ku. Mereka hanya melihat depannya saja tidak belakangnya. Kadang yang di lihat di depan belum tentu kebenarannya dan sebaliknya. Jadi saya rasa depan dan belakang harus di koreksi kebenarannya." Kaisar Jasper berdiri, "Dan saya berharap nona tidak mengatakannya lagi. Lain kali jika nona mengatakannya lagi, aku tidak akan segan." Kaisar Jasper menatap manik Michelina yang berkaca-kaca. "Ayo sayang, kamu harus istirahat. Lagi pula aku sudah membuat mu lelah."
Michelina melirik sekilas, Kellin pun berdiri ia memberikan hormat. Selepas Kaisar Jasper dan Permaisuri Michelina berbalik. Matanya menatap dingin ke arah punggung Michelina.
Disisi lain.
Michelina melepaskan tangan Kaisar Jasper. Kebodohannya di masa lalu membuatnya menjadi sasaran hinaan. Seharusnya ia dulu berfikir panjang. Semuanya tidak akan terjadi.
Kaisar Jasper pun yang melihat istrinya seperti sedang marah. Ia ragu dan takut, tapi apa boleh buat ia yang membuat Permaisurinya malu.
"Permaisuri,"
"Puas ! puas mempermalukan diri ku." Michelina menghapus keringat dingin di dahinya. "Seharusnya aku dulu tidak sebodoh itu, mengejar mu sampai harga diriku di pertaruhkan. Aku menahan hinaan demi hinaan. Rasanya aku tidak tahan menahan hinaan itu. Aku bodoh, wanita bodoh."
__ADS_1
Kaisar Jasper menarik lengan Michelina, ia memegang pinggang Michelina. Menatap detail matanya, wajahnya. Ia menyesal sangat menyesal, kenapa baru sekarang dia menyadari betapa cintanya dirinya. Betapa sayangnya dirinya. "Permaisuri, jangan menghina diri mu lagi. Aku mohon jangan melakukan ini, aku salah. Aku sangat menyesal."
Michelina mendorong tubuh Kaisar Jasper membuatnya terlepas dari dekapannya. "Menyesal tidak akan mengubah semuanya Baginda. Seandainya aku tidak masuk istana dan mendengarkan nasehat ayah dan ibu ku. Semuanya tidak akan terjadi, aku dulu yang bodoh mengejar mu."
"Jadi maksud mu Permaisuri, Duke Ronaf dan Duchess Mia tidak merestui hubungan kita,"
"Benar, mereka tidak menginginkan diriku menjadi seorang Permaisuri karena mereka takut akan terjadi sesuatu pada putrinya. Dan kenyataan itu pun benar."
Bibir Kaisar Jasper tak bisa di gerakkan, ia salah sangka. Awalnya dia kira Duke Ronaf dan Duchess Mia hanya ingin memperkuat kekuasaannya, menjadikan dirinya di hormati. Namun sekarang kedua mertuanya tidak merestuinya. Ia kembali mengingat, dulu Duke Ronaf mendatanginya, meminta agar melepaskan Permaisurinya. Ia kira kemarahan Duke Ronaf hanyalah semata.
"Apa Baginda pikir ayah ku menginginkan posisi? tidak, ayah dan ibu ku bahkan ingin aku secepatnya meninggalkan istana."
"Sampai kapan pun tidak akan pernah terjadi Permaisuri. Aku tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milik ku, kamu milik ku dan akan tetap menjadi milik ku."
Michelina menoleh, mata laki-laki itu menyiratkan kejujuran, tidak ada kebohongan sama sekali. Ia kembali memalingkan wajahnya.
"Aku merasa, pergilah Baginda aku butuh waktu."
"Tidak akan," Kaisar Jasper memeluk Michelina dari samping, ia menyandarkan kepalanya di bahu kiri Michelina. "Aku masih ingin bersama mu, keluarkan semua amarah mu jika itu membuat mu lega. Aku yang bersalah,"
Aku harus berhati-hati, wanita itu yang membuat Permaisuri ku marah
Michelina tersenyum licik, dengan begini Kaisar Jasper tidak akan tergoda dan tertipu dengan keluguan Kellin.
__ADS_1