Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Menerima


__ADS_3

Michelina melirik Kaisar Jasper. Ia menggenggam erat tangan kirinya. Kebenaran ini pasti akan menyayat hatinya. Sekarang yang ia harus lakukan adalah mencegah apa yang seharusnya tidak terjadi. "Sayang," Michelina mengelus tangan kirinya yang ia genggam dengan menggunakan tangan kanannya.


Kaisar Jasper tersenyum dengan bibir gemetar, ia memandang sang Ibu yang menggeleng.


"Baginda saja tidak tau masalah ini Viscount. Bukan hanya anda yang merasa tersakiti. Baginda juga merasa tersakiti, melihat ibunya di khianati. Seharusnya yang salah adalah Ibu mu buka kamu atau pun mereka." Tegas Michelina.


"Tanyakanlah pada Ibu mu," Viscount Andry membalikkan tubuhnya. Ia ingin menangis dan berteriak, kenapa hidupnya harus seperti ini. Demi memberikan kemewahan pada sang Ibu dia belajar dengan giat agar mendapatkan gelar Viscount demi sang Ibu supaya berhenti dari hobynya, tapi dugaannya salah. Ibunya tetap melakukannya.


"Pintu istana terbuka untuk, mu."


Seketika Viscount Andry menghentikan langkah kakinya.


"Dan hati ibu akan terbuka untuk mu, Nak. Pulanglah ke istana."


Viscount Andry semakin dilema, ia langsung menuju kediamannya yang telah di sediakan oleh Kaisar Jasper. Sesampainya di sana, ia menangis dalam diam. Merasakan betapa sesak hatinya. Pantas saja dia tidak di akui, penghinaan untuknya saat masih kecil karena hobby ibunya yang berganti pria dan dia tidak memiliki seorang ayah. "Anak Haram." Telinganya pecah saat mendengarkan ejekan demi ejekan itu.


Aaaaaaa


Sang kesatria pun yang mendengarkannya merasa iba. Jadi sebuah kebenaran terungkap di sini. Ternyata junjungannya adalah seorang Pangeran.


Ia menggeleng, jika benar. Ia tidak bisa kembali. Dia akan menjadi laki-laki yang menodai istana. Semua bangsawan pasti mengejek Ibu Suri dan Kaisar Jasper karena sudah menerima kehadirannya. "Aku tidak akan kembali, biarkan aku hidup sendiri." Gumamnya pelan. Meskipun hatinya sangat menginginkan sebuah keluarga yang utuh. Benar, ia sangat kecewa tapi ia salut pad Ibu Suri yang mau menerimanya meskipun sudah tau semuanya.


Dan penjelasan ibunya bertolak belakang. Sementara perkataan Ibu Suri sangat masuk akal. Ibunya memang pernah berkata. Jika dirinya tidak bisa lepas dengan pria asing.


Sedangkan di tempat lain.


Kaisar Jasper masih diam, meminta penjelasan dari mulut sang ibu.


"Baginda, jauh sebelum dirimu. Ayah mu pernah melakukan kesalahan. Dia, dia anak dari ayah mu."


Kaisar Jasper tidak tau harus melakukan apa? Yang dikatakan oleh ibunya dan Michelina tadi memang benar. Setidak suka apa pun dia, laki-laki itu tetap saudaranya, darah ayahnya mengalir di tubuhnya, yang ia tidak suka kenapa ibunya tidak pernah mengatakan rahasia itu sama sekali dengan dirinya. Jika bukan karena Michelina yang memberi tahunya. Seumur hidup pun dia tidak akan tau.

__ADS_1


Ibu Suri beralih menatap Michelina. Ia sangat berterima kasih pada Michelina yang mau membelanya. Tapi yang ia herankan dari mana Michelina tau. Dulu ia pernah mencari informasi tentang wanita itu dan benar saja, wanita itu kelakuannya memang sudah tidak baik. Padahal ia hanya memberi informasi tentang Kaisar yang menikah lagi. "Permaisuri dari mana kamu tau, semua yang kamu katakan itu benar."


Michelina tersenyum, ia harus menjawab apa? Jika dia mengatakan semuanya pasti tidak akan percaya, mungkin akan menganggapnya orang gila. "Sebenarnya aku tidak tau apa-apa Ibu. Setiap aku tidur ada sebuah mimpi aneh. Seperti aku melihat kejadian di masa lalu."


Kaisar Jasper mengkerutkan keningnya, ia tidak tau jika Permaisurinya memiliki keistimewaan itu. "Contohnya seperti kejadian nona Kellin Aku bisa menebaknya."


"Kamu sangat istimewa Permaisuri." Ucap Ibu Suri tersenyum. Ia tidak salah memilih menantu.


Ia yakin, Michelina akan menjadi obat untuk Kaisar Jasper. "Aku akan berbicara dengannya dulu." Ucap Ibu Suri. Tatapannya memohon pada Michelina agar mau menasehati Kaisar Jasper sedikit demi sedikit.


Sesampainya di kediaman Viscount Andry. Sang pelayan mengetuk pintu bercat putih itu. Pintu itu terbuka, mata mereka saling bertemu.


"Boleh Ibu masuk,"


Viscount Andry tak menjawab, ia melangkah ke samping memberi jalan. Lalu pintu itu pun di tutup kembali.


"Ibu tau, kamu pasti syok dan sedih, mungkin kamu menganggap Ibu yang salah. Benar, Ibu memang bersalah. Ibu tidak mencari mu, seharusnya Ibu mencari mu. Tapi saat melihat wajah mu. Ibu jadi teringat yang lainnya. Kamu boleh membenci Ibu, Nak. Karena Ibu lah yang membuat mu menderita bersama Ibu mu. Akan tetapi Ibu sangat yakin, kamu bahagia tanpa Ibu dan juga saudara mu."


Ibu Suri terkejut, ia tidak menyangka Viscount Andry mau memeluknya. "Aku butuh Ibu,"


Ibu Suri mengelus punggungnya, ia mencium bahu Viscount Andry. Rasa pelukannya sangat sama dengan pelukan suaminya dan Kaisar Jasper. Hangat dan nyaman. "Mulai saat ini, Ibu akan menebus kesalahan Ibu pada mu dan pada Ibu mu. Pulanglah dan bawa ibu mu."


Viscount Andry melepaskan pelukannya. "Aku tidak mau." Ia tidak akan membuat istana malu akan kehadirannya dan ibunya.


"Kenapa? apa kamu tidak senang bersama ibu mu ini?"


"Bukan begitu, tapi aku tidak ingin membuat kalian malu."


"Kalian tidak akan membuat kami malu. Sudahlah, masa lalu biarlah berlalu. Tidak akan ada yang berani menghina kalian. Ibu akan melindungi mu Putra ku."


Deg

__ADS_1


Dadanya semakin berdetak kencang, dari dulu inilah yang ia inginkan bersama sang Ibu yang sangat menganggap kehadirannya. Ia pun kembali memeluk Ibu Suri. "Ibu,"


"Iya, aku ibu mu. Pulanglah, Nak. Tinggallah bersama Ibu mu."


"Aku tidak mau, kelakuan Ibu ku akan membuat mu malu."


"Tidak Putra ku, ibu tidak malu. Ibu akan mencari cara."


Aku harus berbicara pada ibu ku, aku tidak ingin dia mengganggu ibu suri.


Di tempat lain.


Kaisar Jasper duduk di sofa berwarna merah itu. Air matanya mengalir, ia tidak bisa membayangkan sakit hati ibunya saat mengetahui kebenarannya dan sekarang, ibunya malah ingin memberikan status pada anak lain dari ayahnya.


"Baginda, semuanya akan baik-baik saja."


Kaisar Jasper menyandarkan kepalanya ke bahu Michelina.


Michelina pun mengelus kepala Kaisar Jasper yang bersandar di bahu kirinya dengan penuh kasih.


Kaisar Jasper membaringkan tubuhnya di pangkuan Michelina. Ia menaruh tangan Michelin di atas dahinya. Tangan yang sangat lembut dan aroma wangi di kulit tangannya membuat pikirannya kembali rilex tanpa beban apa pun.


"Ini sudah jalannya Baginda,"


"Baginda, Permaisuri. Waktunya Baginda meminum obatnya." Ucap Lucilla seraya menunduk dan membawa sebuah nampan. Ia menaruh obat itu di atas meja. Lucilla pun menunduk hormat, pamit undur diri.


"Baginda, waktunya minum obat."


Kaisar Jasper menggeleng membuat Michelina mau tidak mau harus memaksa bayi besarnya. Michelina mengambil cairan obat yang hitam itu. Di lihat dari warnanya saja sudah pahit apa lagi meminumnya. Ia meminum obat itu, lalu mencium bibir Kaisar Jasper.


Kaisar Jasper meminum obat itu, rasanya bukan pahit seperti dia minum, tapi ada rasa manis saat obat itu turun ke tenggorokannya. Ia semakin menekan tengkuk Michelina, ciuman itu terus berlangsung sampai keduanya mengatur nafasnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2