Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Pengganggu


__ADS_3

Suara dentingan sendok memecahkan keheningan, sering kali Kaisar Jasper menambahkan sesuatu ke piring Michelina membuatnya menaikkan bahunya dan menatap kesal. Sudah ketiga kalinya ia menambahkan sayur, sup dan daging panggang. Perutnya sangat kenyang dan hampir mengeluarkan isi perutnya.


Sedangkan Kaisar Jasper ia hanya terkekeh, istrinya harus banyak bertenaga untuk melayaninya malam ini. Michelina menahan kekesalannya membuatnya bibirnya maju ke depan.


Dia menggemaskan sekali batin Kaisar Jasper.


"Baginda sangat perhatian pada Permaisuri." Ucap Kellin memecahkan kedua orang yang saling lempar senyum, lempar kesal.


Mengganggu saja batin Kaisar Jasper melirik sekilas. Lalu melihat kembali ke depan.


"Benar, Baginda sangat perhatian. Dia sangat memperhatikan kesehatan ku."


"Senang bisa mendengarkan keharmonisan kalian. Em, Permaisuri untuk masalah kemarin Ibu minta maaf."


Michelina menaruh sendoknya ke atas piringnya. "Tidak apa Ibu, masalah kemarin hanya sebuah kesalahpahaman." Sahut Michelina.


"Untuk pesta pasangan nanti, apa gaun Permaisuri sudah ada?" tanya Ibu Suri.

__ADS_1


"Baginda sendiri yang sudah menyiapkan semuanya Ibu. Jadi saya tidak memikirkannya lagi. Apa yang di sukai oleh Baginda, tentu aku juga menyukainya, Ibu."


"Benar, Ibu. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Di pesta pasangan nanti. Dia akan menjadi pasangan ku yang paling sempurna." Ucap Kaisar Jasper menyanggah membuat Ibu Suri terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.


Seusai makan malam, Michelina dan Kaisar Jasper menghabiskan waktu bersama di halaman depan istana. Suara tawa dari Kaisar Jasper membuat para pelayan dan penjaga kagum. Pasalnya mereka belum pernah mendengarkan suara Kaisar Jasper yang tertawa lepas. Setiap harinya berpapasan mereka hanya di hantui wajah dingin bak es beku dan wajah datar bak tembok.


"Miya, kamu lihat. Mereka saling memiliki satu sama lainnya, tapi tidak akan lama lagi Miya. Aku akan masuk dan merebut perhatian Baginda." Ucap Kellin yang memperhatikan kedua sejoli di mabuk cinta itu. Ia merasa jijik melihat kedekatan mereka.


Miya tak tahu harus apa lagi menasehati nonanya. Ia tidak mau, majikannya berbuat sesuatu yang bisa mencelakainya sendiri.


"Mereka saling mencintai, nona pasti akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari pada .."


Miya memejamkan matanya, majikannya pasti akan memarahinya.


"Kamu sadar apa yang kamu ucapkan? mereka hanya baru mencintai. Aku yakin cinta mereka tidak akan dalam. Lagi pula Baginda sudah memberikan celah pada ku. Di malam pesta dansa nanti, aku yakin Baginda akan menjadi milik ku selamanya." Ucap Kellin penuh percaya diri. Dia sudah memiliki rencana yang sangat cantik yang tak akan bisa membuat Michelina menolak atau pun Kaisar Jasper.


"Nona saya mohon jangan ... "

__ADS_1


Kellin menatap sinis, "Sudahlah kamu tidak akan mengerti, yang jelas jangan mengganggu rencana ku. Jika bukan karena ibu ku yang meminta tidak memecat diri mu, huh." Kellin menarik sudut bibir kanannya. "Aku sudah pasti memecat mu." Imbuhnya lagi meninggalkan Miya.


"Nona," gumam Miya.


Suara burung kicau pun telah menyambut, matahari tampak bersinar terang. Seorang wanita tengah melebarkan senyumannya. Ia mengelus-eluskan kepalanya ke dada suaminya. Rasa nyaman yang tak ingin ia lepaskan begitu saja. Rasa takut di setiap detiknya kini berbuah manis. Lupakan tentang manis, masih ada satu hal lagi yang harus ia singkirkan yaitu Kellin.


"Masih merindukan kan ku?" tanya Kaisar Jasper dengan suara beratnya.


"Tidak, justru aku bosan melihat Baginda tiap harinya."


"Benarkah, tapi aku sangat, sangat merindukan istri kecil ku."


tok


tok


tok

__ADS_1


"Maaf Permaisuri dan Baginda mengganggu. Di luar ada Nyonya Herly yang sedang menunggu kedatangan Baginda dan Permaisuri." Ucap seorang wanita.


Tatapan keduanya saling mengunci, saling terdiam. Telinga mereka tidak akan salah dengar. Suara itu, suara Kellin.


__ADS_2