Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Maaf


__ADS_3

Michelina mengelus pipi Kaisar Jasper dengan penuh kasih. Laki-laki di depannya adalah sosok laki-laki yang sering di bicarakan karena ketampanannya. Apakah dia berlebihannya karena mengorbankannya? pikirannya kembali mengingat kejadian tadi malam, ia sudah mengorbankan Kaisar Jasper begitu jauh hanya demi memperlihatkan sebuah kebenaran.


Emmmm


Pertama kali ia membuka matanya, melihat seorang wanita yang kini telah menguasai jiwa dan raganya. Ia meraih tangan yang mengelus pipinya, wanita di depannya pun menyadari jika dirinya telah bangun.


"Ada apa?" tanya Kaisar Jasper. Akan tetapi hanya mulut yang bergerak tanpa suara.


Michelina mengkerutkan dahinya, tidak mungkin. Ia ingat betul Kaisar Jasper tidak mungkin kehilangan suaranya. "Baginda, aku akan memanggilkan Dokter." Michelina pun hendak turun. Namun tangannya langsung di cegah. Kedua tidak sadar mereka masih bertelanjang.


Kaisar Jasper bangkit, dia menggeleng pelan. Semuanya sudah terjadi, biarkan dia berkorban demi kebahagiaan Permaisurinya. Sehingga wanita di depannya mau melihatnya. Dia tidak bisa jika harus bisu sekali pun. Baginya, keinginan Michelina adalah hal berharga dari pada hidupnya.


"Jangan menghalangi ku Baginda,"


Kaisar Jasper menggeleng dan tersenyum. Matanya berkaca-kaca, ada rasa senang dan sedih. Biarkan dia yang merasakannya. "Permaisuri, aku tidak apa-apa."


Air mata Michelina mencolos keluar, ia memegang dadanya. Laki-laki yang ia permainkan mau berkorban untuknya. Senyuman di sela-sela air matanya.


"Maaf, maaf, maaf," Michelina memeluk Kaisar Jasper. Keduanya berpelukan tanpa pembatas sehelai kain pun. Michelina merangkup wajah Kaisar Jasper, menciumnya dengan lembut.


"Aku berjanji Baginda, aku akan mencari obat yang bisa menyembuhkan Baginda. Aku berjanji,"


Michelina menyatukan keningnya dengan kening Kaisar Jasper. Ia menangis seraya memejamkan matanya. Kaisar Jasper menghapus air matanya yang mengalir deras.


"Jangan bersedih, aku tidak apa-apa. Asalkan bersama mu. Aku bisa melewatinya, aku yakin aku bisa sembuh. Jika pun aku tidak bisa sembuh tidak masalah. Selama ada dirimu, aku kuat menghadapinya." Ucap Kaisar Jasper tanpa bersuara.


Michelina mencium telapak tangan kanan Kaisar Jasper. Meskipun ia tidak tau apa yang di katakannya, tapi ia paham. Jika laki-laki di depannya menyuruhnya jangan bersedih.

__ADS_1


Keduanya pun kembali saling berpelukan. Hingga Kaisar Jasper sadar, ada sesuatu yang menempel di dadanya. Kaisar Jasper melepaskan pelukannya, matanya menatap nafsu ke arah buah yang kenyal itu.


Michelina terkekeh, ia menarik leher Kaisar Jasper sampai bibir indah keduanya menyatu. Kaisar Jasper semakin buas, ia mencium setiap inci dari lekukan tubuh Michelina. Meninggalkan lukisan indahnya. Bisa di katakan tubuh Michelina saat ini di penuhi lukisan indahnya.


Setelah puas menjalar di tubuh Michelina bagian depan. Kaisar Jasper memposisikan Michelina tengkurap. Ia mencium, menjilati mulai dari bahu Michelina sampai ke punggung dan pinggangnya.


Kedua tangan Kaisar Jasper mengangkat pinggul Michelina. Menjajarkan dengan kepemilikannya. Ia memajukan pedangnya dengan perlahan-lahan sampai pedang itu memenuhi rahim Michelina.


Michelina mendesah, entah ide gila dari mana Kaisar Jasper memposisikan tubuhnya dan menjamahnya dalam posisinya saat ini.


Michelina meremas bantal di depannya. Kaisar Jasper mulai menggerakkannya dengan lembut dan pelan. Lalu semenit kemudian, Kaisar Jasper melajukannya dengan cepat. Hingga keduanya mengeluarkan suara merdu, tetesan keringat di iringi angin memasuki jendela mengiringi langkah keduanya yang kembali menggema di ruangan itu. Desahan keduanya saling bersahutan bahkan burung pun yang bernyanyi di pagi hari merasakan iri dengan suara keduanya.


Tiga jam telah berlalu, entah berapa kali Michelina bolak balik dalam posisi tengkurap dan terlentang. Hingga keduanya menyerah dan saling berpelukan untuk mengistirahatkan kembali tubuh mereka.


Michelina pun merasakan pinggangnya seakan patah. Sangat sulit ia menggerakkan tubuhnya. Sementara Kaisar Jasper, dia sudah menutup mata dengan dengkuran halus dalam dekapan Michelina. Kepalanya di sandarkan di dalam ceruk leher Michelina, tangan kirinya memegang salah satu benda kenyalnya. Kaki kirinya berada di atas pahanya. "Baginda," Michelina bergumam pelan. Ia tidak mungkin mendorong Kaisar Jasper. Badannya terasa remuk, tapi apa boleh buat demi bayi besarnya saat ini.


Seorang laki-laki paruh baya tengah memeriksa kondisi Kaisar Jasper. Sementara kelima pria paruh baya lainnya berdiri di sampingnya. "Bagaimana?" tanya Michelina. Ia berharap akan ada obatnya untuk menyembuhkan Kaisar Jasper.


"Permaisuri, obat perangsang itu di gunakan dalam dosis yang tinggi. Seandainya tubuh Baginda tidak kuat. Saya pastikan, Baginda tidak akan bisa bersuara, tapi saya percaya, saya yakin jika Baginda mengonsumsi obatnya secara rutin pasti akan sembuh walaupun membutuhkan waktu yang lama dan Baginda tidak boleh meminum wine dan sejenis makanan yang pedas karena bisa mempengaruhi tenggorokannya." Jelas sang Dokter.


"Lama? sampai kapan?" tanya Michelina.


Pria paruh baya itu terdiam menunduk. "Kami belum memastikannya Permaisuri, tapi kami yakin keajaiban pasti terjadi."


Kaisar Jasper menggenggam tangan Michelina. Menguatkan dirinya, tidak akan ada masalah bagi tubuhnya.


"Kenapa bisa seperti ini?" Michelina menggigit bibir bawahnya. Seharusnya dia yang menguatkan, tapi laki-laki yang saat ini butuh dukungannya. Justru dia lah yang menguatkan dirinya, meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


Ibu Suri yang berada di samping Michelina langsung keluar dengan dada yang perihnya. Ia salah membiarkan Kellin berada di istana, ia tidak waspada. Sampai kecelakaan menimpa putra semata wayangnya.


Duchess Mia yang melihat Ibu Suri, ia mendekat dan tentu saja Ibu Suri langsung memeluknya. Duchess Mia pun hanya menepuk pelan punggung Ibu Suri. "Semuanya akan baik-baik saja Ibu Suri."


"Ini salah ku,"


Duke Ronaf, Duke Lastar dan Maruqess Azel menunduk dengan wajah bersedih. Mereka juga bisa merasakan kesedihan Michelina dan Ibu Suri apalagi Kaisar Jasper yang harus kehilangan suaranya untuk beberapa waktu tantu hal itu tidak akan mudah.


Sementara di dalam ruangan itu. Michelina masih memeluk Kaisar Jasper. Tatapannya kosong.


Kaisar Jasper menguncang lengan Michelina, membuatnya tersadar. "Permaisuri, aku ingin istirahat."


Michelina tidak mengerti, ia mencari sebuah kertas dan pena di lacinya. "Tulislah Baginda,"


Kaisar Jasper mengangguk, ia menulis sesuatu yang ingin dia tulis.


"Aku ingin beristirahat."


Michelina mengangguk, sebelum itu Baginda harus minum obat. Michelina meraih bubur di atas nakas, ia menyuapi Kaisar Jasper. Membantunya berbaring dan menemaninya sesaat sampai mata itu terpenjam. Setelah Michelina keluar, Kaisar Jasper membuka matanya. Air matanya keluar seraya menatap langit-langit.


Sementara di tempat lain.


Suara cambukan dan lolongan meminta ampun terus terjadi. Hingga wanita itu di penuhi luka dan darah di tubuhnya, rambutnya acak-acakan seperti orang gila.


Begitu pun kesatria dari Kaisar Jasper. Dia menyiksanya tanpa kenal ampun. Dia tidak peduli dengan jeritan dan tangisannya.


#Nanti mampir ya ke novel baru di lapak NT/MT dengan judul "One Night Love With Emperor"

__ADS_1


__ADS_2