Pembalasan Permaisuri Yang Dingin

Pembalasan Permaisuri Yang Dingin
Nona Kellin


__ADS_3

Michelina menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat. Dugaannya pun benar, Kaisar Jasper mencarinya.


"Permaisuri," Kaisar Jasper seperti orang linglung, kelambu masih tertutup. Sementara orang di sampingnya tidak ada. "Permaisuri."


"Lucilla, pergilah. Aku akan memanggil mu nanti."


Lucilla memberikan hormat, ia akan menunggu sesuai permintaan sang junjungan.


"Baginda, ada apa?" Michelina menyingkapi kelambu itu, lalu menaiki ranjangnya. "Ada apa?" Michelina memeriksa kening Kaisar Jasper yang terasa panas. "Astagah ! Baginda."


"Permaisuri," Wajahnya pucat, tadi tidak sepanas ini. "Aku akan memanggilkan Dokter istana."


"Tidak perlu, bentar lagi sembuh." Kaisar Jasper memeluk Michelina. Mimpinya tadi malam membuatnya takut melihat Michelina menjauh.


"Kamu obat ku Permaisuri,"


Michelina mencium bahu Kaisar Jasper yang terasa cemas. "Tidak ada, aku tidak akan meninggalkan Baginda." Michelina melepaskan pelukan Kaisar Jasper. "Tunggu di sini, aku akan bersiap-siap dulu."


Wajah Kaisar Jasper memerah, ia merasa hawa panas di sekujur tubuhnya. Baru ia menyadari pemandangan di depannya sangatlah menggugah seleranya sebagai laki-laki. "Ba-baiklah." Kaisar Jasper memalingkan wajahnya.


Namun secepat kilat ia menarik lengan Michelina sampai jatuh membentur dadanya.


"Baginda," Michelina mendonggakkan wajahnya dengan kesal. Ia mendorong Kaisar Jasper. Namun Kaisar Jasper malah menarik tubuhnya hingga menempel erat. "Aku menginginkan mu Permaisuri." Nafasnya memberat, ia mencium bibir Michelina, ********** dengan lembut.

__ADS_1


Michelina terbuai, ia membalas ciuman itu. Tanpa ia sadari, kini Kaisar Jasper berada di atasnya. Kaisar Jasper pun menarik tali jubah Michelina. Mencium lehernya lalu turun ke dadanya.


"Baginda," Otaknya menolak sentuhan itu, namun tubuhnya tidak. Aliran darahnya yang semakin memanas, ada rasa geli, tapi ada kehangatan. Apa lagi laki-laki di atasnya memainkan kedua benda kenyalnya, menciumnya dan menyesapinya.


Emmm


Michelina menggigit bibir bawahnya, ia tidak tahan dengan sentuhan dan ciuman yang di berikan oleh Kaisar Jasper. Aliran listrik dari mulutnya seakan menyengat semua tubuhnya, membuat tubuhnya tak berdaya.


"Baginda, Permaisuri di luar ada nona Kellin dan Ibu Suri." Suara seorang pelayan.


Michelina menahan amarahnya, di kehidupan dulu. Wanita itu yang memfitnahnya, menuduhnya mendorong Zoya dari atas tangga. Dan dia lah yang di hukum, membuat nama baiknya bertambah buruk.


"Jangan menolak ku Permaisuri."


"Katakan, Baginda masih beristirahat." Teriak Michelina.


Kaisar Jasper tersenyum, dalam satu kali tarikan jubah putih itu terlepas. Kaisar Jasper melanjutkan menyesapi salah satu buah benda kenyal itu seraya mengangkat pinggul Michelina.


Michelina mendesah pelan, gairah itu semakin membuncah, saat dia terbuai tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang memasuki di area bagian bawahnya. Sakit dan perih, air matanya langsung keluar.


Kaisar Jasper mendiami juniornya, ia mengangkat tubuh Michelina ke dalam dekapannya. Junior itu pun diam di dalam areanya. Menyalurkan kehangatannya secara pelan-pelan.


"Maaf, hanya sebentar."

__ADS_1


Michelina diam, ia memeluk erat Kaisar Jasper. Hembusan nafas hangatnya membuat tenang dan pasrah.


Kaisar Jasper pun menurunkan kembali tubuhnya. "Jadilah milik ku selamanya Permaisuri. Meskipun akan ada rintangan di masa depan, mari kita lewati."


Michelina menerima kehangatan di keningnya, Kaisar Jasper begitu mencium keningnya dengan lembut. Seolah ketakutan itu sirna dalam sekejap.


Michelina memeluk Kaisar Jasper, sementara di bawahnya ia merasakan sebuah lajuan pelan dan lembut. Tentu saja membuatnya terlena. Ia semakin mengeratkan pelukannya, kedua kakinya ia kalungkan ke pinggul kokoh itu.


Emmm


"Baginda,"


Kaisar Jasper menatap wajah Permaisurinya tanpa menghentikan lajuannya. Kebahagiaan yang ia impikan dan ia tunggu kini menjadi nyata. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya. Kaisar Jasper semakin mempercepat kendaraannya tanpa menancapkan rem sedikit pun. Ia tancapkan gasnya hingga menyemburkan cairan kental di dalam rahim Michelina.


Alunan musik di taman istana, mengiringi sebuah kebahagiaan dan kehangatan serta angin sejuk yang masuk melalui jendela di ruangan itu, menjadi sela-sela ingin menambahkan kehangatan itu dan langit biru yang cerah, secerah hati Kaisar Jasper saat ini.


"Hah,"


Kaisar Jasper melepaskan penyatuannya, ia membaringkan tubuhnya di samping Michelina. "Istirahatlah, Permaisuri pasti lelah."


Michelina mendekap, ia menenggelamkan kepalanya di bidang Kaisar Jasper. Senyumannya merekah, ia yakin di bawah sana ada seseorang yang menunggu kedatangannya.


Dia akan membuat setiap orang yang menghinanya akan merasakannya.

__ADS_1


Dan tentu benar, permainan biola itu membuat seorang gadis berharap, alunan melodinya membawa seseorang padanya. Dia menunggu Kaisar Jasper datang padanya dan mengagumi permainannya. Senyuman itu dan matanya menatap ke arah balkom yang tak jauh dari penglihatannya.


__ADS_2