
Marquess Azel pun berpapasan dengan Michelina dan memberikan hormat. "Apa kamu ingin bertemu dengan Baginda?" tanya Michelina, ia menoleh ke arah Kaisar Jasper yang sedang duduk bersama dengan Kellin. Kemudian beralih menatap laki-laki di depannya.
"Sepertinya Permaisuri tidak suka dengan kedatangan saya yang takut karena mengganggu Baginda dan nona Kellin?" tuduh Marquess Azel.
"Terserah, kalau kamu mau menemuinya." Jawaob Michelina seraya melangkah melewati Marquess Azel. Baginya tidak ada urusan dan hubungannya dengan Marquess Azel. Laki-laki itu juga ia benci.
"Sepertinya Permaisuri hanya mempermainkan Baginda,"
Michelina langsung memutar badannya, matanya nyalang, ia tidak bisa mengendalikan dirinya, selalu saja Marquess Azel ikut campur dengan urusannya di kehidupan ini dan di kehidupan lalu.
"Lalu apa masalahnya dengan mu? O iya, karena tuan Marquess orang yang sangat begitu menyayangi Baginda. Seharusnya Tuan Marquess akan bertepuk tangan seperti ini."
prok
"Dari dulu sampai sekarang Tuan Marquess tidak menyukai ku. Karena bagi anda, saya hanyalah wanita manja yang hanya menginginkan kekuasaan. Saya membenarkan ucapan itu, namun saat itu masih ada cinta di hati saya, tapi saya sekarang ragu. Sakit hati karena tidak di perdulikan sama saja membunuhnya secara perlahan-lahan."
__ADS_1
"Permaisuri,"
Matanya berkaca-kaca, ia kira Michelina telah menyerahkan hatinya, ia salah. Wanita di depannya tidak bersunguh-sungguh mencintainya. Pantas saja dia sangat enteng menyerahkan dirinya pada wanita lain.
"Baginda," kedua orang itu memberikan hormat. Setelah memberikan hormat Michelina memilih pergi, sedangkan Marquess Azel merasa tak nyaman. Ia melihat kesedihan di mata yang tajam itu.
"Baginda, saya permisi." Ucap Kellin dengan senyum kemenangan. Dengan begitu Kaisar Jasper akan sadar jika dirinya lebih baik dari pada Permaisuri Michelina. Ia tidak akan berhenti sampai Kaisar Jasper bertekuk lutut padanya.
Kaisar Jasper mengangguk, dadanya terasa panas perih. Usaha yang ia yakini sudah berhasilnya, tapi nyatanya masih belum. Sangat tidak mudah menaklukan hatinya. Lalu dia harus menggunakan apa lagi agar Michelina sadar, ia benar-benar mencintainya.
"Baginda,"
"Aku akan berbicara padanya," Kaisar Jasper melangkah pergi. Awalnya dia senang dengan kedatangan Marquess Azel dengan kedatangannya ia bisa mencari alasan meninggalkan Kellin. Namun pada akhirnya, ia malah kecewa sangat kecewa.
"Permaisuri,"
__ADS_1
Michelina merasa enggan berbicara, ia tidak tau harus memulai dari mana. Ia tidak bisa mengontrol emosi dan amarahnya. "Ada apa?" tanya Michelina datar, matanya melihat ke arah lain.
"Jadi kamu hanya mempermainkan ku," Kaisar Jasper tertawa seraya menyeka air matanya. Cinta membuatnya lemah sampai ke urat-urat tubuhnya. "Kamu puas, baiklah dengan senang hati aku akan menuruti permainan mu. Dengan senang hati akan aku lakukan sesuai perintah mu. Jadikan aku boneka hidup mu dengan begitu Permaisuri pasti sadar."
"Apa aku salah? Dulu Baginda mempermainkan ku. Aku masih ingat saat Baginda tidak menginginkan diri ku, aku harus menikah dengan orang lain katanya lebih baik dari pada Baginda." Michelina memukul dahinya, menarik kedua sudut bibirnya. "Aku berhasil memasuki istana, aku berhasil bertahan dan sekarang aku menyesal memasuki istana. Lalu Baginda datang kepada ku dengan mengatakan cinta. Luka itu masih ada Baginda, luka itu masih membekas. Tidak akan menghilang begitu saja."
"Maaf," Kaisar Jasper menunduk, ia berjongkok di hadapan Michelina. Menggenggam tangannya. "Aku minta maaf, benar luka itu pasti membutuhkan waktu lama. Maka aku akan menyembuhkannya secara pelan-pelan. Tapi jangan meninggalkan ku, aku akan menuruti semua permintaan Permaisuri." Kaisar Jasper mencium punggung tangan Michelina.
Michelina merasa kasihan, tapi yang namanya luka hati akan membekas dan akan membutuhkan waktu untuk menyembuhkannya.
Ia pun duduk berjongkok dan memeluk tubuh Kaisar Jasper. "Maaf masih belum mempercayai Baginda sepenuhnya, tapi aku akan berusaha membuka hati ku. Aku akan berusaha menghilangkan rasa sakitnya."
Kaisar Jasper tersenyum, masih ada kesempatan untuk waktu yang lama. Ia akan berusaha menggunakan kesempatan itu dengan baik. "Marquess Azel ingin menemui Baginda, temui dia dulu. Nanti kita akan melanjutkannya setelah urusan Baginda selesai."
Kaisar Jasper mengangguk patuh, "Baiklah, tunggu aku." Ucap Kaisar Jasper. Ia mencium kening Michelina dan meraih kedua bahunya berdiri agar mengikutinya. Sekilas bibir itu menyatu kemudian terlepas.
__ADS_1