
Perjalanan pagi itu melewati hutan, pohon oak menjulang tinggi dan banyak batangnya yang di penuhi daun rimbun. Sinar matahari yang menebus di sela-sela pohon. Hawa dingin dan sejuk terasa di setiap langkah dan dedaunan yang masih basah. Tetesan embun itu berjatuhan ke tanah. Segala beraneka macam buah yang bisa di makan dan bisa menjadi racun. Kaisar Jasper, Marquess Azel dan Duke Bernat serta kesatria dan para pengawal yang berjumlah 100 orang mengikuti dari arah belakang.
Kaisar Jasper menghentikan langkah kudanya, mengedarkan pandangnya. Kuda putih itu melolong, terasa ada yang mengganjal.
"Kalian harus berhati-hati, pasang telinga tajam kalian dan mata kalian." Teriak Kaisar Jasper memberi peringatan. Ia ingat akan nasehat Michelina. Dia harus berhati-hati, memenuhi janjinya. Bahwa tidak akan ada luka apa pun yang menyentuh kulitnya. Ia sudah mempersiapkan zirah besinya dan pedang yang berada lekat di samping pinggangnya.
"Kita lanjut," ujarnya.
Kuda putih itu pun melangkah di ikuti rombongan lainnya. Sesampainya di jalan pintas, jalan yang bisa di gunakan oleh para warga dengan nyaman di iringi pepohonan yang rimbun.
Kaisar Jasper terus melangkah. Hingga ada sebuah anak panah yang mendatanginya dari arah samping. Ia mengambil pedangnya dan langsung menepis anak panah itu ke kiri, menancap tepat di salah satu pohon.
"Lindungi Baginda," teriak Marquess Azel. Para pengawal dan Kesatria pun langsung mengelilingi Kuda Kaisar Jasper. Anak panah pun menghujami mereka. Para pengawal yang sudah di siapkan sekitar 50 orang anak panah. Langsung mengambil anak panah masing-masing dan siap menyerang darimana anak panah itu berasal.
Sekali serangan, 10 orang berbaju hitam terjatuh dari pohon dan sekitar 15 orang keluar dari sarangnya. Mereka saling menatap dan mengangguk. Kemudian menyerang Duke Bernat, Marquess Azel dan Kesatria lainnya yang masih berdiri di atas kuda. Satu per satu dari mereka turun melawan orang berbaju hitam itu. Sementara 10 orang itu, langsung di ikat oleh para pengawal. Ada 20 pengawal maju, ikut membantu para Kesatria dan kedua Bangsawan.
Permainan pedang, saling menyerang dan mempertahankan menjadi tegang. Bunyi dentingan pedang itu memekik di telinga. Orang berbaju hitam itu yang sudah di latih, bisa menangkis serangan dari Kesatria dan Kedua bangsawan. Setiap pedang yang bergesekan itu, seolah meminta sebuah nyawa.
Dentingan pedang itu selalu menyudutkan pedang mereka. Hingga 15 menit berlalu. Lima belas orang itu mendapatkan luka-luka di sekujur tubuh mereka. Marquess Azel memerintahkan pada pengawalnya agar mengikat mereka.
Kaisar Jasper tersenyum, ia merasa beruntung akan nasehat Permaisuri. Setelah pulang nanti, ia akan memberikan sebuah hadiah.
Hadiah yang di inginkan Michelina selama ini.
Ia turun dari kuda putih itu, menatap satu per satu orang yang berbaju hitam itu. Matanya menatap tajam ke arah salah satu orang yang menggunakan sebuah topeng di bagian sebelah matanya.
__ADS_1
Kaisar Jasper pun membuka topeng itu dengan kasar. Lalu membuangnya ke sembarangan arah. Terlihat jelas matanya putih dan buta. "Apa kalian suruhan dari Raja Almos?" tanya Kaisar Jasper setajam petir yang siap menyambar.
Laki-laki berpakaian hitam itu pun menarik salah satu sudut bibirnya. "Tidak ada orang yang menyuruh ku." Jawabnya berbohong. Janji setia pada sang penguasa tidak akan ia bocorkan begitu saja. Namun saat ujung pedang itu menekan tenggorokannya. Peluh keringat pun semakin menetas, lidah tak bertulang itu telah gatal ingin mengeluarkan suara. "Ba-baik, tolong jangan bunuh saya. Saya hanya di suruh, itu saja."
"Em, em Raja Almos."
Kaisar Jasper tersenyum, "Lakukan langkah selanjutnya. Kalian harus mengepung istana Raja Almos." Ujar Kaisar Jasper. Ia tak perlu khawatir. Karena setiap pedang pengawalnya telah di lumuri racun. Bahkan anak panah yang mereka siapkan telah di berikan racun pelumpuh.
"Kita lanjutkan perjalanan,"
Kaisar Jasper menarik kembali pedang itu. Ia akan memberikan sebuah kejutan pada Raja Almos. Beraninya seorang Raja rendahan mengusik rakyat yang telah ia percayakan untuk menjaga ketentraman dan kemakmurannya. Raja adalah pemimpin yang harus bertanggung jawab semua kebutuhan seorang rakyat. Seorang Raja harus mengedepankan rakyatnya dari pada dirinya sendiri.
Sesampainya di istana Raja Almos, Kaisar Jasper menatap tegak gerbang kokoh bercat putih itu. Marquess Azel turun. Dia memberikan kode pada kesatrianya agar menangkap kedua penjaga dan memukul tengkuknya supaya tidak mengundang keributan.
Para pengawal pun menyebar, selincah dan serapi mungkin melumpahkan penjaga istana Raja Almos. Dengan sabarnya Kaisar Jasper menunggu Kesatrianya dan Kesatria Marquess Azel yang di pimpin menjadi empat bagian.
Ketiga Kesatria pun muncul berurutan di ikuti masing-masing kedua pengawal. "Buka gerbangnya." Perintahnya menekan.
Pintu gerbang itu terbuka lebar. Para prajurit yang masih berjaga di depan memberikan hormat dan saling menatap.
Para pengawal pun siap siaga melumpuhkan mereka. Kaisar Jasper turun, ia mencari di aula. Namun tidak ada sama tanda-tanda Raja Almos memperlihatkan batang hidungnya.
"Biar saya mencarinya Baginda." Ujar Duke Bernat.
"Tidak perlu, aku akan mencarinya. Sekaligus berkeliling istana." Ujar Kaisar Jasper. Ia bersendekap di belakang pinggangnya, berjalan dengan santai. Menikmati angin suasana malam di istana Raja Almos.
__ADS_1
"Baginda, Raja Almos sedang beristirahat di kediamannya." Ujar salah satu Kesatria.
"Antarkan," Kaisar Jasper berbelok kanan mengikuti arahan sang Kesatrianya. Namun ia merasa ragu, ia mendengarkan suara aneh di depan pintu kediaman Raja Almos. Setelah melumpuhkan kesatria dan pengawalnya.
Sampailah Kaisar Jasper di depan pintu itu. Dahinya berkerut, mendengarkan suara aneh-aneh yang membuatnya jijik.
brak
Kaisar Jasper menendang pintu itu dengan kasar. Membuat kedua orang yang sedang asik memandu kasih itu menghentikannya dan membulatkan matanya. Ketiga orang itu pun menyudahi ikatan itu. Lalu memungut pakaian yang berserakah di lantai.
Kaisar Jasper bergidik ngeri, ia jijik dengan ketiga orang itu. Kedua wanita dan salah satunya laki-laki yaitu Raja Almos.
"Cih !"
"Baginda," ujarnya mereka memberikan hormat.
Ke empat kesatria itu pun langsung menangkap Raja Almos dan kedua wanitanya.
"Apa maksud ini Baginda?" tanya Raja Almos. Padahal esok pagi dia sudah menyiapkan jamuan dan para wanita tercantik menyambutnya. Ia tidak terima, seorang Raja bermartabat harus mendapatkan penindasan seperti ini. Bahkan dia sudah menyarankan pada pembunuh andalannya untuk membunuh Kaisar Jasper.
"Bawa dia ke aula istana." Perintah Kaisar Jasper.
Raja Almos duduk di lantai, menatap sengit ke arah Kaisar Jasper yang duduk di singgasanahnya. "Apa salah saya Baginda?"
"Masuk," bentak seseorang.
__ADS_1
Raja Almos membulatkan matanya, ia tak percaya Kaisar Jasper menemukan kebenarannya dan bahkan tertangkap.