PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
KEJUTAN DISIANG HARI


__ADS_3

 


Seperti biasa, pagi ini aku sudah bersiap untuk berangkat kesalah satu toko kueku. Tentunya setelah memastikan putriku Ayesa dan mas Imam sarapan terlebih dahulu.


"Mas maaf hari ini aku langsung berangkat pake ojol saja ya Mas ada yg harus segera diselesaikan soalnya" izinku pada suamiku


 


"Yakin dek gak mau bareng sama mas dan Ayesa"


"Iya mas bolehkan aku terburu buru soalnya"


"Ya udah dek hati hati ya nanti kalau sudah sampai jangan lupa kabari mas"


 


Setelah mendapatkan izin mas Imam aku langsung mencium tanganya tak lupa juga kukecup kening Ayesa sambil mengucapkan wejangan khas ibu ibu kepadanya.


 

__ADS_1


Ya seperti inilah keseharianku, biasanya selesai sarapan bersama aku dan mas Imam akan mengantarkan Ayesa sekolah kemudian putar balik mengantarkanku ketoko kue.


Kadang bila waktu senggang kami akan mengontrol beberapa toko kue kami, meski begitu kalau kami tak sempat mengeceknya alhamdulillah kami sudah punya orang kepercayaan sendiri disetiap cabang. Tapi khusus untuk toko yg aku rintis pertama ini aku yg menghandlenya sendiri, selain untuk kesibukanku juga karna kata para pelanggan meskipun resepnya sama tapi lebih enak kalau aku sendiri yg membuat kue kueku itu.


Selepas mengantarkanku mas Imam langsung akan pulang, dia memelihara banyak sekali burung dan menyukai tanaman terutama bonsai, hobinya itupun bukan sekedar hobi beliau merawat dengan baik untuk dijual, ya meskipun aku tak pernah tau kemana uangnya tapi tak apalah toh pemasukan dari toko semua masuk kerekeningku jadi aku tidak begitu memperdulikan kemana uang itu pikirku mungkin ditabungnya.


 


Entahlah meskipun sebenarnya kami cukup memiliki uang tapi Mas Imam melarangku menggunakan sopir yg standby dirumah kami sehingga seperti sekarang ketika aku terburu buru aku akan memesan ojek atau taksi untuk mengantarku, ya padahal mobil dirumah masih ada yg menganggur tapi aku tak berniat belajar menyetir.


Sesampai ditoko aku dibantu karyawan langsung membuat orderan dadakan yg dipesan langgananku untuk acara pentingnya, puas rasanya berkali kali mendapatkan repeat order dari pelanggan.


 


"Buk maaf kita sudah sampai dirumah ibuk"


"Ah maaf pak saya tertidur rupanya, terimakasih ya Pak kembalianya ambil saja" langsung turun seraya menyerahkan lembar merah padanya, kudengar Pak sopir taksi berterimaksih sambil mendoakanku dan pamit.


 

__ADS_1


Kubuka pintu dan langsung masuk rasanya sepi sekali, padahal mobil mas Imam ada digarasi mungkin lagi dikandang belakang pikirku, ingin sekali langsung merebahkan diri dikasur tapi rasa dahaga mengurungkan niatku, kuputuskan untuk kedapur mengambil minum dan membuka tudung saji ketika kurasakan lapar. Aneh Mbak Rumi belum memasak apapun.


Mbak Rumi adalah asisten rumah tangga kami, dia janda dari desa yg merantau kekota, dan kebetulan terserempet motor kakakku saat itulah aku iba dan menawarkan pekerjaan padanya.


Kucari Mbak Rumi kebelakang tapi tak kutemukan juga, aku berniat mencari kekamarnya tapi seketika duniaku seperti berhenti berputar badanku luruh seketika manakala mendengar desahan didalam sana, butuh beberapa saat untuk sekedar mengumpulkan kekuatan agar aku bisa berdiri kuyakinkan diriku bahwa itu bukan mas Imamku, tak mungkin beliau yg mengerti tentang ilmu agama itu akan mengkhianatiku. kuyakinkan diriku untuk melangkah maju menuju pintu yg setengah terbuka itu dan betapa hancurnya hatiku saat dia benar benar mas Imamku.


"Pranggg" reflek kujatuhkan gelas yg sejak tadi kugenggam, mereka sama terkejutnya dengan aku dan langsung menghentikan aktifitasnya. Aku bahkan tak mampu untuk sekedar berlari, aku belum mampu berkata Kata ataupun melakukan sesuatu, aku bahkan tidak menangis sedikitpun, sakit sekali rasanya tapi aku masih berharap ini hanyalah mimpi,


Mas Imam menggunakan kembali pakaiannya kemudian menghampiriku memapahku dan mendudukkanku dikursi, dia belum bicara apapun, reflek aku tampar pipinya sekeras mungkin detik itu juga aku menangis sejadi jadinya.


 


"Maafkah aku Asiyah" ucap mas Imam sambil memeluk dan menenangkanku tapi aku tak sedikitpun bergeming.


"Aku mohon maafkan aku dek , dan terimalah dia sebagai adik madumu"


 


Duaarrr rasanya bagai disambar petir, aku tak menyangka ternyata pembantuku itu adalah maduku, sontak saja kulepaskan pelukanya, aku masih belum percaya jika ini adalah nyata. semua baik baik saja, bahkan banyak yang iri melihat kehidupan rumah tanggaku saat ini, mereka tidak tau seberapa berat perjuangan kami untuk ada dititik ini.

__ADS_1


 


Dan sekarang ketika semua terasa sangat sempurna aku tak menyangka justru suamiku sendiri yg tega menghianatiku, tak ingatkah dia akulah yg menemani disinya dalam susah senangnya selama 8 tahun ini, bahkan ketika semua orang tak memandangnya aku tetap ada dan mendukungnya, ingatkah kamu masa masa itu mas.


__ADS_2