PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
TERKEJUT


__ADS_3

"Wahh ada acara apa ini rame sekali"


Bapak tiba-tiba muncul dari pintu depan bersama Rini adik Mas Imam yang saat ini masih berkuliah, katanya mereka habis mencari kebutuhan tugas kuliah Rini.


"Ini Pak anak kita main kesini bawain barang-barang bagus, nah sini Rin ini ada baju-baju bagus buat kamu juga, nanti bisa kamu pake pergi kuliah" ucap ibu dengan wajah yang sumringah.


"Kebetulan bapak sudah datang, Pak Buk sebenarnya ada yang mau saya bicarakan"


"Mau ngomong apa Asiyah, sepertinya penting sekali"


"Sebenarnya mau minta saran aja sih Buk, dari Ibuk sama Bapak, sebaiknya kami harus gimana"


Mas Imam terlihat sedikit gelagapan, mungkin dia merasa takut rahasianya akan terbongkar.


"Jadi gini Buk, Bapak sama Ibuk ingat Rumi kan? pembantu kami itu, jadi ternyata Mas Imam sudah menikah siri dengan dia" Aku kemudian menjelaskan detail semua peristiwanya.


"Halah kalau cuman itu sih kami sudah tau, ehhhhh" ibu mengucap itu lalu menutup mulutnya, dia seperti keceplosan, mungkin karena sedang asyik membongkar oleh-oleh ku jadi dia tidak konsentrasi.


Bagai disambar petir disiang bolong, rencananya aku ingin membuat mereka kaget tapi justru aku yang syok dan terkejut dengan jawaban mereka.

__ADS_1


"Jadi? maksut Ibu gimana? Mas Imam maksutnya apa ini Mas, apa disini hanya aku yang tidak mengetahui peristiwa ini?


Detik itu juga tulang-tulangku rasanya menghilang, lemas sekali tubuhku, rasanya aku sudah tidak sanggup lagi, apa maksud mereka?


"Maafkan kami Asiyah"


"Jadi maksut Ibu, kalian semua sudah mengetahui pernikahan Mas Imam dan Rumi"


Meski tercekat aku mencoba untuk bertanya, ini gila mereka sudah gila, keterlaluan sekali kalian semua.


"Mas bisa tolong jelaskan apa lagi ini mas?


Tak ada air mata yang kukeluarkan, aku harus kuat, aku harus tegar batinku, aku sedikit meminum minumanku untuk membasahi tenggorokanku.


"Kenapa mas? kenapa buk, pak?"


Mereka semua hanya bisa terdiam, wanita mana yang sanggup diperlakukan seperti ini oleh suami dan keluarganya.


Baiklah jika ini yang kalian inginkan, kalian bisa tidak peduli denganku, akupun bisa lebih kejam.

__ADS_1


"Apa salahku buk, tolong kalian jawab, apa aku perempuan mandul sehingga mas Imam harus menikah agar mempunyai anak dari wanita lain? apa aku sudah tak cantik lagi, atau aku wanita miskin yang tidak bisa memberi kalian uang, apa aku sedikit saja tak pantas mendapatkan kebahagiaan hingga kalian tega melakukan ini padaku? apa salahku buk? apa ibuk malu memiliki menantu sepertiku? "


Gemetar rasanya tubuhku, mati matian aku menahan amarah dan kesedihan yang bercampur jadi satu, aku tidak boleh lemah kali ini.


"Apa Mas Imam juga sering mengajak wanita itu kesini buk? jangan terdiam saja buk, katakan sesuatu"


"Maafkan kami Asiyah, dan bisakah kamu mengikhlaskan ini saja, ini juga tidak sepenuhnya salah Imam bukan? kalian tetap bisa kok menjadi keluaga yang bahagia meskipun Imam menikah lagi, usaha Imam sudah maju dan punya penghasilan besar kamupun juga sudah memiliki usaha sendiri, akan mudah untuk Imam berlaku adil jika dia berpoligami, kamu juga tau kan kalau agama membolehkan untuk berpoligami"


"Hahahahaaa"


Aku tertawa sepuas puasku mendengar penuturan ibu mertuaku itu.


"Ibuk bapak, Mbak kalian semua silahkan baca ini, Mas Imam yang kalian bangga banggakan itu tak ada artinya apapun untukku, usaha Mas Imam bahkan bukan seperti yang kalian bayangkan, dan semua uang yang kami kirimkan itu murni uang hasil usahaku buk, selama ini aku menghormati suamiku sehingga aku menutupinya, kupikir biarlah keluarga tau ini uang hasil jerih payah kami berdua, tapi aku rasa sekarang tidak ada lagi yang perlu ditutupi, usaha mas Imam yang kalian bangga banggakan itu hasilnya bahkan untuk membeli bensin bulanan kamipun masih kurang." Aku menunjukkan kemereka bukti bukti aset dan usaha yang semua atas namaku.


"Bapak ibuk dan Mbak Ima maaf mulai sekarang aku akan menghentikan jatah bulanan kalian semua silahkan saja kalian minta pada anak kesayangan kalian ini, atau pada menantu baru kalian itu."


Kini justru mereka yang menangis, ibu bahkan sampai bersujud sujud kepadaku agar aku tak melakukan ini, terang saja mereka menangis, uang bulanan yang kuberikan pada keluarga mertuaku tidaklah sedikit.


Bahkan bisa dibilang mereka bergantung sepenuhnya denganku.

__ADS_1


__ADS_2