PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
MIMPI


__ADS_3

Mas Imam tiba-tiba datang ke rumah dengan sangat marah, dia mendobrak pintu dan langsung mendekatiku.


Aku sangat takut, tidak biasanya dia seperti ini, dia seperti bukan Mas Imam yang kukenal.


Kucoba memanggilnya tapi tetap tak bergeming sedikit pun, perlahan tapi pasti dia terus mendekatiku, aku terus mundur sampai akhirnya terpepet kemeja ruang tamu.


Mas Imam tiba-tiba membanting dokumen dokumen keatas meja dan memintaku menandatangani kertas-kertas itu.


"A-apa ini mas?"


"Sudahlah jangan banyak tanya, cepat tanda tangani saja berkas ini!" bentaknya.


"Ttt-tapi aku harus tau dulu mas b berkas a apa ini?"


Rasanya lidahku kelu melihat kemarahan Mas Imam, ini benar-benar bukan Mas Imam yang kukenal, matanya menyorot penuh kebencian dengan muka merah padam menahan amarah.


Rumi kamu benar-benar telah menguasai mas Imam sampai membuatnya seperti ini.


"Cepat tanda tangani atau aku yang akan memaksamu menandatanganinya" kursi di sampingnya pun tak luput dari amarahnya, dia menendang dengan keras seolah-olah itu hanya sebuah bola plastik.


Aku masih tetap terdiam, aku tak percaya bahwa ini Mas Imam, aku tetap menolak menandatangani berkas itu sedetik kemudian kurasakan Mas Imam semakin mendekatiku tapi aku tak punya pilihan lain, aku hanya bisa memundurkan badanku saja karna dari pinggang kebawah tertahan badan meja, mas Imam tiba tiba mencekikku dan mendorong sampai kepalaku menyentuh permukaan meja, aku tersengal tentu saja aku tak mampu melawan badanya yang besar itu, kurasakan leherku semakin tercekik aku berusaha menendang bahkan memukul tapi tak terjangkau sedikitpun, Mas Imam justru memperkuat cekikannya aku semakin tercekat mungkin sebentar lagi akan mati pikirku.


"Bunda-bunda bangun bun" teriak putriku Ayesa membangunkanku

__ADS_1


"Hahhh haahhh hhaahhh" Rupanya ini hanya mimpi, tapi mengapa mimpi itu terasa begitu nyata sampai sekarangpun nafasku masih tersengal sengal.


"Bunda mimpi apa bun, tadi pas dikamar mandi Yesa denger bunda minta tolong gitu, terus Yesa takut bun Yesa kira bunda kenapa-kenapa tadi"


"Gak papa kok sayang bunda mimpi buruk saja tadi, kamu kok tadi gak bangunin bunda nak, kan bunda jadi kesiangan ini sholat subuhnya"


"Abisnya Yesa lihat bunda tidurnya nyenyak banget bun Yesa jadi gak tega mau banguninya"


"Ya sudah bunda mau sholat subuh dulu ya sayang"


Aku mengecup kening Ayesa lalu pergi kekamarku untuk sholat, selepas sholat subuh aku masih merenung memikirkan mimpiku tadi, mungkin karna terlalu terbawa mimpi karna semalaman aku memikirkan mas Imam.


Tapi dari mimpi itu aku seperti mendapat pentunjuk, ya aku tidak boleh lengah, perempuan itu pasti akan menghasut Mas Imam untuk menguasai hartaku.


Tiba-tiba sebuah ide muncul, akan kuajak sedikit bersenang-senang kamu mas.


Aku masih diatas sajadah sambil membaca qur'an ketika kudengar pintu kamarku diketuk sesorang


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam, masuk saja mas pintunya tidak dikunci"


"Kamu memang istri yang sholekhah sayang, aku salut kamu selalu menyempatkan waktu untuk membaca Qur'an" ucapnya sambil mengecup keningku, aku sebenarnya jijik dengan perlakuannya, tapi mau gimana lagi aku masih istri sahnya.

__ADS_1


"Darimana lagi mas aku bisa mendapat pahala kalau bukan membaca Qur'an, dari berbakti kepada suami?


"Sudah Dek lupakan saja"


"Iya mas, ya sudah mas aku kangen sama Ima nih mas, habis antar Ayesa kesekolah kita kerumah Ibuk yuk mas"


"Ya sudah sayang kita sarapan dulu yuk"


Pagi ini setelah kita berdua mengantar Ayesa kesekolah kami langsung menuju rumah orang tua Mas Imam, mas Imam meminta uang untuk isi bensin, lucu sekali uang untuk sekedar isi bensin pun dia tidak punya, dulu dia bebas belanja apapun kebutuhannya, tapi sekarang aku tak mengizinkan Mas Imam membawa kartu debit, kalau ambil uang ketoko juga sudah tidak bisa karna sudah kupantau ketat.


Aku mengajak Mas Imam berbelanja terlebih dahulu, tentu saja belanja untuk kubawa kerumah mertuaku, aku membelikan mereka banyak hal mulai dari kebutuhan pokok sampai baju-baju mewah untuk ibu dan kakak Mas Imam jelas saja mereka akan suka mengingat mereka sebenarnya hobi belanja.


Biar saja mereka bahagia terlebih dahulu biar nanti tidak kaget kalau dengar kabar tentang Mas Imam.


Benar saja dugaanku begitu sampai mereka menerima bawaan kami dan langsung membongkarnya sambil heboh sendiri.


"Eehhmm ehhhmm, ada tamu bukanya dibuatkan minum malah pada sibuk sendiri nih" Mas Imam jelas terlihat bangga bisa membelikan barang barang itu.


"Ehh Iya Mam sebentar kakak buatkan minum dulu ya, kalian mau minum apa"


"Apa yang ada saja Mbak, maaf lho sudah merepotkan"


"Ah tidak kok hanya mengambil minuman dan makanan kecil tidak sebanding dengan apa yang kalian bawa"

__ADS_1


Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu mereka, mas Imam sama sekali tidak curiga waktu aku mengajaknya pergi kerumah ibu, mungkin karna Mas Imam memang sudah lama belum kesini sehingga rindu kebersamaan dengan keluarganya. Aku sudah menyiapkan beberapa bukti ditas yang kubawa, tinggal sebentar lagi akan kukatakan pada mereka semua kebenaranya.


__ADS_2