
Setelah sampai, aku benar benar takjub melihat rumah dan seisinya. Mereka begitu baik menyambutku, aku seperti merasa saudara mereka bukan Art mereka
"Nah ayo Mbak Rumi aku tunjukkan kamar Mbak Rumi"
"baik buk"
"panggil aku Mbak Asiyah saja Mbak, aku lebih suka dipanggil begitu lebih akrab, jangan cangung canggung lagi, anggaplah kita ini saudara"
Sambil berjalan menuju kamar dia banyak bercerita, ternyata orangnya asik baru sebentar saja aku sudah nyaman berada disini.
"Nah disini kamar Mbak Rumi ya, Mbak Rumi kan masih sakit jadi istirahat dulu saja kebetulan tadi mas Imam sudah pesan makanan nant aku antar kekamar Mbak Rumi saja, yang terpenting biar Mbak Rumi istirahat dan pulih dulu.
__ADS_1
"iya buk eh mbak, terimakasih banyak ya Mbak sudah menerima saya kerja disini, insyaallah besok sudah bisa mulai bekerja"
Sebenarnya badanku masih sedikit pegal pegal, tapi aku tak enak bila terus terusan dikamar, jadi aku putuskan hari ini untuk memulai bekerja, Mbak Asiyah mengajakku berkeliling rumah dan menjelaskan apa saja pekerjaanku dia juga juga bercerita aktivitas keluarga ini dari pagi sampai sore agar bisa menyesuaikan. Ternyata Mbak Asiyah memiliki toko roti dan sudah punya beberapa cabang, suaminya berbisnis jual beli tanaman hias dan burung, suaminya itu memang baik kepadaku tapi dia seperti menghindariku, tentu saja Karna dia orang mengerti agama jadi wajar dia menjaga jarak denganku.
Kini tak terasa sudah 2 tahun aku bekerja disini. Selama ini mereka sangat baik kepadaku, aku benar benar betah bekerja dengan mereka. Aku tak menyangka nominal gaji yang diberikan kepadaku tidaklah sedikit belum lagi bonus bonus dan tunjanganya, sehingga aku bisa mencukupi kebutuhan keluargaku dikampung. Setiap sebulan sekali aku pulang ketika aku pulang Mbak Asiyah pasti membawakan aku kue kue mahal yang tidak sedikit jumlahnya.
Hari ini putri mereka Ayesa sudah mulai masuk SD mereka mendaftarkan anaknya full day school islami yang mahal biayanya. Semenjak anak mereka sekolah Mbak Rumi jadi lebih sering berada ditoko karna memang tokonya itu sedang ramai ramainya, mas Imam tentu saja dirumah mengurus burung burung dan tanaman hiasnya. Entah kenapa aku begitu kagum dengan sosok mas Imam. Semakin lama dirumah saja berdua denganya membutku kadang memikirkan yang tidak tidak. Berandai andai jika aku menjadi istrinya tentu aku sangat bahagia, keluargaku juga pasti akan berkecukapan mengingat sekarang emakku dikampung sering sakit sakitan dan dan butuh banyak biaya berobat.
Entahlah kenapa setiap hari aku jadi memikirkan mas Imam. Aku sengaja memilih baju baju yang agak sedikit terbuka dan menggoda ketika Mbak Asiyah sudah mulai pergi ketoko aku juga sedikit berdandan tipis agak lebih menarik perhatian, Saat Mbak Asiyah dirumah tentu saja aku hanya menggunakan baju baju kumal dan bersikap lugu seperti biasa.
Meskipun begitu aku tidak bisa membuat mas Imam sedikitpun melihatku, padahal aku sudah melakukan segala cara agar dekat denganya seperti ketika mas Imam dikandang burung belakang maka aku akan menyapu halaman belakang rumah. Melihat sikap acuhnya aku jadi semakin ingin memilikinya. Aku tak tahu sejak kapan tapi sepertinya aku mulai mencintainya atau aku hanya terobsesi denganya entahlah, setiap hari aku hanya memikirkan cara agar dekat denganya.
__ADS_1
Waktu jadwalku pulang kampung aku bertemu temanku, dia bercerita bahwa dia sudah memelet seorang lelaki sampai berumah tangga dan mempunyai anak, sepertinya dia membaca ketertarikanku dan dia bersedia mengantarkanku ketempat orang pintar tersebut. Tetapi aku minta waktu untuk berfikir terlebih dahulu, sempat aku tergoda dengan ajakanya tapi kupikir pikir pelet dan guna guna tak akan mempan untuk mas Imam ataupun Mbak Asiyah mengingat mereka adalah keluarga yang taat beragama, bukanya mempan nanti salah salah malah bisa berbalik ke aku. Akhirnya kuurungkan niatku untuk memelet mas Imam
Dalam perjalanan balik kekota tak sengaja kulihat iklan obat kuat, tiba tiba diotakku muncul sebuah ide. Kutanyakan pada penjualnya apakah ada obat perangsang untuk pria dengan dosis tinggi yang ketika diminum langsung berhasrat dan harus terpenuhi. Aku bersorak bagai memenangkan lotre ketika penjual mengatakan ada, langsung saja kupesan dan melanjutkan perjalanan.
Ah betapa senangnya hatiku membayangkan akan memiliki lelaki tampan dan mapan seperti mas Imam. Membayangkan saja rasanya sudah sangat bahagia apalagi jika benar benar memilikinya. Esok pasti akan segera aku lakukan rencanaku itu.
Esoknya kumulai rencanaku, ya ketika mereka sudah berangkat aku lekas pergi mandi sedikit bersolek agar tampak lebih fresh dan kukenakan baju yg baru kubeli kemaren. Aku lalu melakukan pekerjaanku seperti biasa tapi untuk tugas membersihkan rumah kulakukan nanti saja ketika mas Imam sudah pulang biar bisa sedikit caper caper.
Sesaat kemudian terdengar mobil mas Imam sudah pulang, dia memintaku membuatkan kopi seperti bisa, saat yang kutunggu tunggu batinku, aku mencampurkanya dengan serbuk yang Kenmaren kubeli, setelah kusuguhkan kopinya aku lekas mengambil sapu dan kemudian menyapu sambil berlenggak lenggok disekitarnya. Berhasilll kurasa dia sedikit meliriku tapi beberapa saat Kemudian dia pergi menggunakan mobil sial sepertinya rencanaku gagal, untunglah aku membeli obat itu banyak.
Setiap hari aku melakukan hal yang sama kadang kucampurkan air putih atau kucampurkan dimakananya agar dia tidak curiga tapi lagi lagi gagal, pernah sekali waktu dia mendatangiku dan tiba tiba memegang pundakku tapi tiba tiba dia beristighfar dan pergi. Ah nasibku benar benar sial tapi aku tidak akan putus asa.
__ADS_1