
Sesampai di depan rumah aku berniat mengendong Ayesa, tapi ternyata Ayesa malah terbangun mungkin dia merasa kalo sudah sampai rumah.
"Bunda Yesa lapar Bun"
" Loh emangnya tadi Ayesa belum makan Nak"
"Budhe Ris kan tadi pulang Bun gak ada yang masak, masakan Ayah gak enak Bunda, tadi Yesa makan cuma sedikit. Kalo Yesa pengen nasi goreng Bunda mau gak masakin"
"Tentu dong sayang, kamu tunggu dulu di sini Bunda mau masak dulu yah"
Aku langsung menuju ke dapur tanpa menyapa mlMas Imam sedikitpun.
Berniat langsung akan membuatkan Yesa nasi goreng saja keterlaluan sekali Mas Imam membiarkan Ayesa lapar. Kutengok makanan dimeja makan ada tumis yang rasanya memang sedikit aneh serta ayam goreng yang gosong, pantas saja Ayesa tak mau memakannya batinku, dan yang paling menyebalkan hanya memasak 2 menu itu saja dapur benar-benar terlihat seperti kapal pecah.
Setelah siap Ayesa makan dengan sangat lahap, sepertinya dia memang benar-benar lapar.
"Masakan Bunda emang paling top, makasih ya Bun, oh iya bunda temenin Yesa tidur ya Bun, malam ini saja."
"pasti sayang, Bunda juga udah kangen bobok bareng Ayesa, yuk kita kekamar."
__ADS_1
Mas Imam sepertinya terlihat kesal karena dari tadi dicueki, terlebih Ayesa minta kutemani tidur pas sekali aku jadi tidak perlu alasan untuk menghindari tidur dengan Mas Imam.
Tidak butuh waktu lama Ayesa langsung tidur setelah setor hafalan surat surat pendeknya, sedari dulu memang sebelum tidur kubiasakan setor hafalan terlebih dahulu.
Kukecup keningnya lama sekali aku benar-benar merasa bersalah dengan Ayesa kuselimuti dia dan aku berniat akan tidur disampingnya.
Tapi sebelum tidur entah kenapa aku tertarik untuk melihat sebuah buku kecil berwarna pink di meja belajar Ayesa.
Disampul paling depan tertulis diari Yesa dengan hiasan bunga-bunga disekitarnya.
Ah anakku sudah semakin pintar sekarang, isinya lucu -ucu sekali, dia menuliskan aktivitasnya sehari-hari dengan tulisannya yang belum seberapa tapi, sampai pada di pertengahan buku aku berniat menutupnya tapi sekilas aku membaca tentang Ayah dan Bunda akhirnya aku baca detail bukunya.
"Diari kamu tahu enggak aku lagi sedih banget soalnya aku enggak punya teman. Bunda sering menangis sekarang dan Ayah juga sering pergi, jadi aku cuma mainan sama boneka dan sering ditemani Budhe Ris.
Diari aku enggak ngerti maksudnya cerai itu gimana, aku enggak sengaja mendengar Bunda sama Ayah bicara tentang cerai tapi kata Intan orangtuanya cerai dan Intan tinggal sama Ibunya, kata Intan cerai itu Ayah sama Ibunya enggak satu rumah lagi.
Aku kemaren bilang sama Intan kalo kadang kadang ayah sama bunda juga cerai kadang kadang gak jadi cerai. benar kata Intan orangtuanya cerai itu ternyata tidak enak.
Tapi kata Intan itu berarti tidak cerai kalau cerai itu tidak satu rumah untuk selamanya.
__ADS_1
Diari aku jadi takut apa jangan jangan ayah sama bunda mau cerai.
Ahaa aku punya ide nanti aku bantu jelasin saja sama Bunda kalau Ayah menggendong Mbak Rumi itu karena membantu Mbak Rumi yang kakinya lagi sakit biar bunda sama Ayah enggak jadi cerai.
Kututup buku Ayesa dengan berlinang air mata. Gadis 7 tahun itu masih polos sekali rupanya.
Ini yang sering membuat aku bimbang. Karna yang dia rasakan selama ini keluarganya sangat bahagia kemana mana selalu bertiga dengan ayah bundanya jadi kalau harus terpisah dari salah satunya pasti dia akan sedih sekali.
Sampai sekarang aku masih memikirkan cara seperti apa yang tepat untuk menyampaikan nya pada Ayesa.
Aku masih susah sekali tidur dan berniat akan menemui mas imam saja.
Untunglah mas Imam masih duduk duduk dimeja depan televisi, aku duduk disampingnya dan dia tampak berbinar senang.
"Mas bisakah aku meminta tolong padamu?
"Bantu apa dek mas pasti akan bantu selagi mas mampu"
"Mas tolong bantu beri penjelasan yang tepat untuk Ayesa, maafkan aku Mas tapi aku sudah tidak sanggup, aku sudah tidak bisa lagi bertahan.
__ADS_1
Kita memulai rumah tangga ini dengan baik-baik dan aku mohon Mas setuju kalau kita juga mengakhiri rumah tangga kita secara baik-baik juga"
Mas Imam masih terdiam dia terlihat sangat kaget dengan ucapanku barusan.