PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
Ulah Rumi


__ADS_3

"Maksud dokter?" kata kata dokter berlalu begitu saja, pikiranku buntu, aku tak dapat mencernanya.


"Jadi begini pak buk, hasil cek darah kemaren bisa bapak dan ibu baca sendiri bahwa disitu jelas terlihat ada yang tidak beres, gampangnya putri bapak itu mengalami kecanduan obat tidur, tadi diawal makanya saya bertanya apakah putri bapak mengalami insomnia sehingga diusia yang masih sedini ini harus banyak mengkonsumsi obat tidur atau karna alasan lain sehingga mengkonsumsinya, tadi Bu Asiyah sempat berkata kalau Ayesa kadang susah tidur atau pusing nah itu sebenarnya gejala awalnya Buk, kalau sudah kecanduan obat tidur, begitu berhenti tidak mengkonsumsi maka kepala akan pusing, mengalami susah tidur dan terkadang badan rasanya gemetar, lebih parahnya lagi jika terlambat penangananya bisa menimbulkan kematian karena itu bisa memicu timbulnya penyakit lain, tapi beruntungnya putri bapak dan ibuk tidak sampai di tahap itu jadi masih bisa kembali sehat tapi tentunya dengan perawatan yang maksimal."


Jegleeeerrrrr


Bagai disambar petir tubuhku lunglai seketika, aku bahkan sedikit tak mempercayai ucapan dokter karna aku merasa selama ini Ayesa tidak minum yang aneh aneh, ya Allah aku sungguh tak menyangka bagaimana mungkin ini terjadi, selama ini Ayesa terlihat baik baik saja, pagi kami berangkat bersama, sekolah Ayesa juga berbasis full day school jadi pulangnya agak sore, ya paling 2 sampai 3 jam sebelum aku pulang dari toko dia sudah pulang terlebih dulu dan selama ini tidak ada yang aneh menurutku, lalu bagaimana mungkin dokter bisa mengatakan seperti itu, tapi itu sudah hasil laborat jadi tidak bisa disangkal lagi.


Aku tidak banyak menanggapi penjelasan dokter, setelah kupastikan Ayesa masih bisa sehat kembali aku berpamitan untuk keluar dari ruang dokter.


"Apa ada yang bisa kamu jelaskan mas? jika kamu menyakitiku aku mungkin masih bisa terima mas, tapi ini Ayesa mas anak kita, kamu apakan dia selama aku tidak ada mas? kamu apakan?"


Aku dan mas Imam memutuskan untuk mampir ke taman dan berbicara dulu sebelum masuk ke ruangan Ayesa dirawat, ada yang harus kami bicarakan.


"Sumpah demi Allah dek aku tidak tau apapun tentang ini, dengar dek aku memang lelaki bejat tak bertanggung jawab tapi Ayesa anakku darah dagingku tak mungkin aku mencelakai putriku sendiri, kamu sendiri tau aku menyayanginya bahkan teramat menyayanginya bagaimana mungkin aku bisa tega mencelakainya."


Detik kemudian aku sudah tak sanggup lagi menahan air mataku, kupukul pukul dada mas Imam sebagai pelampiasan ku.


"Lalu kenapa mas, kenapa Ayesa bisa seperti ini, kenapa ya Allah kenapa harus Kau uji hambamu ini dengan cobaan yang begitu berat, kenapa ya Allah? kenapa mas? kenapa harus Ayesa, Ayesa masih terlalu kecil untuk menghadapi semua masalah ini mas."

__ADS_1


Kurasakan mas Imam merengkuh bahuku dan membawa kedalam pelukannya serta mengusap puncak kepalaku, aku pasrah saja toh aku masih sah jadi istrinya, aku juga benar benar butuh sandaran sekarang, aku tidak peduli dengan pemikiran orang aku hanya ingin menangis meluapkan sesak dalam dadaku. Setelah sedikit tenang mas Imam melepaskan pelukannya.


"Ayo ikut aku sekarang dek"


"Kemana mas?"


"Sudah ikut saja, kamu disini dulu aku akan pamit kedalam kalau kita ada urusan keluar sebentar, sekalian nitip Ayesa dulu kemereka."


Aku menurut saja menyerahkan kunci motor dan membonceng dibelakangnya, entah akan pergi kemana kami, aku masih belum tau.


Kini aku tiba didepan rumah petak kecil, mas Imam masih memarkirkan motornya, aku baru menyadari mungkin ini rumah Rumi si perempuan ular itu, ya aku yakin Rumilah pelakunya.


"Ada apa sih mas, gak sabaran banget pake gedor gedor pintu segala, kalo pintunya rusak memangnya mas bisa ngeganti, eh ada mbak Asiyah juga ternyata."


Rumi terlihat kaget karna aku ikut mas Imam kesini ditambah wajah mas Imam yang merah padam menahan amarahnya.


"Mari silahkan masuk dulu mbak"


Sebelum sempat aku menjawab mas Imam sudah menjawabnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tidak perlu berbasa basi Rumi, jawab saja kau apakan anakku selama ini hah?"


Dari nadanya aku tau mas Imam terlihat benar benar sangat marah, dia memang jarang sekali malah tapi sekalinya marah akan terlihat benar benar menakutkan.


"Maksud kamu apa mas? aku tidak tau apa yang kamu bicarakan."


"Sekali lagi aku tanya Rum, apa yang sudah kamu lakukan kepada anakku selama ini? jujur saja apa yang sudah kau lakukan padanya hahhh?"


"A- aku tidak memberinya apa apa mas, kenapa kau menuduhku yang bukan bukan jangan sembarangan ya, aku bisa melaporkan kasus ini kepolisi atas dasar pencemaran nama baik."


"hahahaha jangan mimpi Rum, jelas sekali dari perkataanmu bahwa kamu telah melakukan sesuatu pada anakku, aku hanya bertanya apa yang kamu lakukan tapi kamu justru menjawab tidak memberi apa apa, apa yang sudah kamu berikan padanya haaa?"


"Aku tidak melakukan apapun mas? kamu pikir aku ini apa? Ayesa masih kecil apa kalian pikir aku akan setega itu menyakitinya."


"kamu lihat ini Rum, anakku terkapar dirumah sakit karena ulah busukmu itu." mas Imam melemparkan kertas hasil lab Ayesa tadi didepan Rumi. Rumi hanya membacanya sekilas.


"Aku tidak memberinya apa apa mas, hanya obat tidur, hanya obat tidur saja kenapa kalian berlebihan hahhh? aku istrimu mas aku ini istrimu bukan babumu, apalagi baby sister anak dari istri pertamamu, apa kalian pikir aku tidak capek hah mengurusi semua pekerjaan rumah lalu setelah Ayesa pulang aku masih harus mengurusnya yang kadang rewel dan banyak maunya, aku hanya memberinya obat tidur agar dia bisa istirahat, apa salahnya hah? sekali lagi aku katakan aku ini istrimu mas istri sah meskipun hanya dimata agama saja."


Detik berikutnya hal yang sungguh tak kusangka sangka terjadi mas Imam menampar pipi Rumi dengan cukup keras, aku sampai saat ini masih terdiam, biarlah mas Imam masih melampiaskan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2