
Hari ini tepat seminggu kepergian mas Imam semenjak malam itu mendapat telepon dari Rumi, aku tak menyangka kalau dia memilih pergi daripada tetap dirumah, padahal sudah aku ancam segala tapi tetap tak mempan, hemmm mungkin memang benar mas Imam sudah terkena pelet Rumi. Aku sebenarnya tak masalah justru aku senang karena memang sebentar lagi toh kami akan berpisah, ya sekalian itung itung membiasakan diri.
Sebenarnya 3 hari yang lalu mas Imam kesini tapi cuma sebentar, malas sekali rasanya tapi dia menggunakan Ayesa sebagai alasan ya tak apalah kebetulan Ayesa juga dari kemaren menanyakan ayahnya terus, lagian aku tidak akan mempersulit mereka karna sampai kapanpun mas Imam tetap menjadi ayah Ayesa.
"Dek mas ingin menjenguk Ayesa, bagaimana keadaanya sekarang?"
"Masih peduli rupanya kamu mas, bukannya kemaren kamu lebih mementingkan istrimu itu? silahkan saja mas, tapi hanya menjenguk Ayesa sebentar kemudian langsung pergi."
"Bukan begitu dek, Rumi sakit dan tidak ada yang menemani jadi mas putuskan untuk tetap disana sampai Rumi dipanggil polisi sekalian, dan mas mau kasih kabar kalau Rumi pagi tadi sudah dipanggil kepolisian, terus kenapa dek mas harus langsung pergi setelah menjenguk Ayesa."
"Kamu masih tanya kenapa mas?malam itu aku sudah memperingatkan padamu mas tapi kamu tetap pergi juga dan aku katakan aku tidak main main dengan ucapanku, kalau urusan Rumi sudah dipanggil polisi ya syukurlah kamu benar benar membuktikan ucapanmu, sebenarnya akupun tak peduli bahkan dari awal aku bisa dengan mudah melaporkan kalian berdua kepolisi tapi aku masih punya perasaan mas, bagaimanapun Ayesa pasti akan terpukul kalau ayahnya menjadi narapidana, hidupnya pasti tak akan tenang disekolah juga dia pasti terkena bullyan makanya aku memilih diam, tapi diam pun percuma ternyata kamu justru semakin mempermainkanku jadi keputusanku sudah pasti mas tidak dapat diganggu gugat aku tidak akan mencabut gugatan ceraiku, kamu masih bisa menemui Ayesa kapanpun yang kamu mau karna selamanya tidak ada yang namanya mantan anak."
"Dek kamu pikirkan lagi keputusanmu itu, jangan gegabah, mari kita bicarakan baik baik dulu semua pasti ada solusinya."
"Sudah mas, mas juga sudah kuberikan pilihan tapi tetap saja memilih pergi kerumah perempuan itu."
"Mengertilah dek itu bukan keinginan mas, Rumi sakit dan mas harus kesana."
Mas Imam terlihat gusar mengusap wajahnya, biarlah dia pikir dia bisa bermain main denganku.
__ADS_1
"Keputusanku sudah bulat mas, sudahlah mas temui saja Ayesa dan langsung pulanglah kerumah istrimu itu, jangan lupa kemasi dulu barang barangmu, terimakasih untuk 8tahun lebih pernikahan kita, bagaimanapun kamu pernah membuat hidupku bahagia mas seburuk apapun kamu sekarang tapi dulu aku pernah mengenalmu sebagai orang baik, maaf jika selama aku menjadi istrimu aku belum bisa menjadi istri yang baik maafkan semua kesalahanku mari kita berpisah dengan cara baik baik mas."
Kulihat mata mas Imam memerah dan dia menahan tangisnya.
"Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku dek, kita masih bisa perbaiki semuanya dan memulai lagi semuanya dari awal, apa 8 tahun melewati suka duka bersama akan mudah berakhir dalam sekejap saja dek, mas janji mas akan berubah lebih baik lagi, mas akan jadi Imam yang baik untuk keluarga kita dek, mari kita besarkan Ayesa bersama sama sampai mempunyai cucu nanti, seperti mimpi kita dulu, tetap bersama sampai kakek nenek."
"Maaf mas, tapi kemaren juga aku sudah memberimu kesempatan yang hanya kamu abaikan, kamu sendiri mas yang sudah merusak mimpi itu."
"Baiklah dek, maafkan mas belum bisa menjadi suami yang baik, ikhlaskan kesalahan kesalahan mas dimasa lalu, sampai kapanpun mas tetap mencintai adek, semoga adek bahagia dengan keputusan adek, sebelum bercerai boleh gak dek mas memelukmu terlebih dahulu, sebentar saja, untuk terakhir kalinya sebelum kita berpisah."
Aku mengangguk mengiyakan, detik berikutnya kurasakan mas Imam sudah merengkuh tubuhku menenggelamkan ku kedalam dada bidangnya, sesekali mas Imam mengusap puncak kepalaku, aku membalas pelukannya,pelukan yang sudah lama sekali tak kudapatkan dulu setiap hari aku selalu merasakan perlakuan manis seperti ini, ya bagaimanapun kami pernah berbahagia bersama, berpisah bukan hal yang mudah, kurasakan air mataku mengalir dengan sendirinya sekelebat bayangan lika liku yang kualami bersama mas Imam berputar begitu saja dipikiranku, aku lekas melepas pelukannya sebelum berubah pikiran.
"Sudah mas temui Ayesa, dia ada didalam kamarnya kalau ingin bertemu."
"Maafkan ayah ya nak kalau belum bisa jadi orang tua yang baik untukmu."
"Ayah kenapa nangis, Yesa dari kemaren nungguin ayah kok gak dateng dateng sih yah, kaya bunda ayah lagi sibuk ya, sibuk apa sih yah sampai Ayesa sakit ayah gak nungguin dirumah."
Jlebbb pertanyaan Ayesa jelas sekali langsung menghujam mas Imam.
__ADS_1
"Maaf ya nak kalo ayah udah ngecewain kamu, Ayesa sebentar lagi sudah sembuh, semoga bisa sehat kembali seperti sedia kala ya nak, jadi anak Sholehah yang berbakti pada orangtua serta taat pada agama jangan nakal sama bunda ya nak, ayah pamit ayah gak bisa tinggal disini lagi sekarang."
Mas Imam memeluk Ayesa begitu kuat dia benar benar menangis, bukan lagi menitikkan air matanya.
"Kenapa ayah gak mau tinggal disini yah? apa karna Yesa nakal, Yesa janji gak bakalan nakal lagi yah asal ayah jangan pergi pergi lagi."
Ayesa juga sesenggukan sejak dipamiti mas Imam tadi.
"Maaf sayang, ayah tetap harus pergi."
"Bunda, bunda tolong bilang sama ayah jangan pergi Bun, ayo Bun bilang ke ayah biar ayah tetap disini."
"Maaf sayang ayahmu harus pergi, nanti dia akan main main kesini jengukin Ayesa nanti juga Ayah bakal ngajak Ayesa liburan tapi sekarang ayah harus pergi dulu."
"Ayah jahatttt bunda juga jahat gak mau bilangin ayah."
Ayesa terus menangis, aku dan mas Imam hanya mendekap dan menenangkannya saja sampai Ayesa tertidur karna kelelahan, maafkan kami nak maafkan orangtuamu yang belum bisa membahagiakanmu.
Peristiwa 3 hari kemaren masih begitu jelas dalam memori ku, terutama Ayesa, dia begitu terpukul dengan kepergian ayahnya, sebenarnya aku berpikir tak perlu memberitahu Ayesa terlebih dahulu, tapi mas Imam terlanjur pamit padanya.
__ADS_1
Aku sudah langsung mencari pengacara kemaren, dan kebetulan pagi tadi sudah ada undangan untuk sidang pertamaku dari pengadilan disitu tertulis acaranya untuk besok pagi, ya hari ini tepat 2 Minggu aku mengajukan cerai dan akhirnya besok sidang pertamaku akan dilangsungkan, bismillah semoga aku kuat ya Allah.
Siang ini Ayesa tiba tiba panasnya tinggi sekali, aku sudah memberikan obat penurun panas tapi tak kunjung reda juga, aku takut terjadi apa apa dengan Ayesa, kemaren kemaren keadaanya sudah sehat dia sudah beraktifitas seperti biasa didalam rumah hanya saja masih sangat berhati hati mengingat kondisinya belum pulih benar, tapi kenapa siang ini tiba tiba panasnya tinggi padahal pagi tadi masih normal.