
Sudah seminggu ini Ayesa dirawat dirumah sakit.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan kini kondisinya memang sudah lebih baik, kemungkinan besok atau lusa sudah boleh pulang tapi tetap harus dalam pengawasan.
Sebenarnya dari kemaren Ayesa sudah tidak betah dan meminta pulang tapi aku takut terjadi apa-apa kalau diluar pantauan dokter secara langsung.
Setiap hari aku menunggui anakku dirumah sakit, kalau siang hari bergantian ibu bapak dan mertuaku pun juga sering kesini.
Sedangkan malam hari Mas Imam yang menemani, tapi kalau siang entah dia pergi kemana, mungkin ketemu istri barunya. Selama ini katanya sih dia akan menyelesaikan urusannya dengan Rumi dan mengumpulkan tambahan bukti-bukti tentang kejahatan Rumi.
Kemaren kata Mas Imam dia berniat melaporkan Rumi kepolisi. Aku memang sengaja diam saja, tak mendukung atau menghalangi, biarkanlah akan kulihat saja nanti apakah dia benar-benar serius dengan ucapannya atau hanya sekedar menenangkanku saja.
Mengenai perceraian ku dengan Mas Imam aku memang belum tau seperti apa kelanjutannya, akan kupikirkan lagi nanti harus bagaimana,ntoh pengadilan juga belum memberikan undangan sidang.
Aku masih ragu mengambil keputusan soalnya beberapa hari lalu Mas Imam benar-benar menguji obat yang ditemukannya ke laboratorium dan hasilnya membuatku tercengang seketika. Aku masih ingat waktu itu Mas Imam datang dengan sangat tergesa-gesa dan memberikan amplop yang masih disegel kepadaku.
"Dek coba lihat apa yang Mas bawa." Dia menyodorkan kepadaku sebuah amplop merah berlogo resmi sebuah instansi rumah sakit didaerahku.
"Amplop apa mas memangnya? tagihan rumah sakit?"
__ADS_1
"Bukan Dek, coba Adek bukak dan lihat sendiri hasilnya, Adek masih ingat kan yang kemaren Mas bilang mau ke laboratorium itu, nah ini hasilnya Dek, Mas bener-bener gak nyangka."
Aku membuka amplop tersebut, diketerangannya tertulis kandungan kandungan yang ada didalam serbuk botol itu, sejujurnya aku juga kaget melihat hasilnya tapi aku berusaha untuk biasa saja.
"Ah jangan-jangan itu memang sudah kamu rekayasa Mas biar aku percaya sama kamu dan akhirnya kamu berhasil mengembalikan nama baikmu."
"Sumpah demi Allah Dek itu hasil aslinya, makanya sengaja gak Mas bukak amplopnya biar kamu percaya, tadi Mas cuma dengar pernyataan dari dokternya saja karna dia sudah tau hasilnya kemaren."
"Atau jangan-jangan yang Mas ujikan bukan sample dari obat yang kemaren? siapa tahu Mas mengganti obatnya gitu."
"Ya Allah Dek amas memang sudah banyak salah sama Adek tapi apa sedikit saja gak ada lagi kepercayaan untuk Mas."
"Ya habis gimana lagi Mas, berbohong untuk hal besar kayak kemaren aja Mas bisa melakukanya apalagi hanya berbohong untuk hal kecil seperti ini."
"Halah sama aja Mas, paling juga aslinya Mas seneng karena jadi ada alesan buat nikahin Rumi."
"Tapi beneran lho Dek pantesan Mas kemaren itu kok rasanya aneh banget rasanya bener-bener bergairah makanya sampe Mas kemaren nyamperin adek ketoko terus kita sewa hotel, pas udah lihat adek bawaannya pengen langsung tak terkam aja soalnya gak tahan lagi kalo harus nunggu sampe rumah."
"Tau gitu alesannya sih kemaren gak bakalan aku kasih Mas."
__ADS_1
"Hemmzz tega ya Dek, udah deh Dek jangan ngomongin kayak gituanlah, Mas kan jadi pengen Adek mau tanggung jawab."
"Idiiihhh sana-sana minta aja sama istri mudamu itu Mas males banget aku, malah bikin keinget terus tambah sakit hati deh,"
"Iya-iya Dek maaf, aku kan udah minta maaf, terus kan Adek juga udah tau alesannya kenapa Mas sampe ngelakuin itu, berarti gak usah jadi cerai ya Dek, Adek cabut aja gugatan cerainya." Mas Imam merengek layaknya anak kecil yang meminta permen pada ibunya, puas sekali aku melihatnya.
"Hemmm aku pikir-pikir lagi deh Mas, siapa tau nanti Mas kumat lagi ngelakuin kayak gitu terus bilangnya khilaf lagi kan aku gak mau kecolongan berkali-kali."
"Astagfirullah enggaklah Dek, punya istri 1 kayak adek aja udah lebih dari segalanya, ya Dek cabut ya, pleaseeeee."
Lucu sekali mengingat ekspresi memohon mas Imam waktu itu, sekarang aku yang jadi bingung harus gimana, disatu sisi aku merasa senang karena yang dilakukan Mas Imam waktu itu bukan atas dasar keinginannya semata ya benar kata Mas Imam masih bagus dia tidak berzina, tapi disisi lain luka hatiku masih belum sembuh, meskipun ada alasannya tapi kalau membayangkan apa yang mereka lakukan hatiku masih sakit, sesak sekali dadaku.
Aku belum bercerita pada siapapun tentang masalah ini, penyebab sakit Ayesa pun aku belum menceritakan pada siapapun termasuk Ibu dan keluargaku. Mungkin besok aku akan meminta solusi pada ibu apa yang harus kulakukan. Sekarang biarlah aku fokus dulu mengurus Ayesa semoga hari ini keadaanya sudah stabil biar besok boleh pulang.
"Bun ayah kemana sih Bun kok belum dateng-dateng?" pertanyaan Ayesa menyadarkan lamunanku.
"Oh ayah sedang ada urusan nak, kamu pengen sesuatu atau gimana?"
"Gak pengen apa apa sih Bun, pengen bareng bareng terus aja sama Ayah dan bunda, Yesa seneng banget tiap malem ditemenin ayah sama bunda meskipun Yesa harus ngerasain sakit dulu tapi Yesa seneng."
__ADS_1
Perkataan polos anakku membuat dadaku sesak seketika, ahh maafkan orangtuamu ini nak kami memang orangtua yang egois, kini semakin bimbang keputusanku untuk bercerai dengan mas Imam.
"Maafkan Bunda ya nak, semoga Ayesa cepat sehat dan pulih kembali biar kita bisa kumpul sama sama lagi dirumah." Tak terasa air mataku mengalir mengucapkan itu pada anakku, sebagai orangtua aku merasa gagal menjaganya.