
Aku memang sengaja belum memberitahukan perihal pembatalan gugatan ceraiku kepada mas Imam, jadi kemaren selepas pulang dari rumah sakit dia meminta izin untuk tinggal dirumah dulu sementara waktu sampai Ayesa benar benar pulih.
"Maaf dek tapi bagaimanapun juga maslah salah satu penyebab Ayesa sampai sakit seperti ini, kalau boleh mas ingin menemaninya dirumah ini untuk beberapa hari." ucapnya disuatu pagi saat kami menemani Ayesa bermain sambil berjemur ditaman belakang rumah.
"Silahkan mas, bukankah sudah kukatakan aku tidak akan membatasimu untuk bertemu dengan Ayesa."
"Maafkan mas ya dek, kalau bukan karena kesalahan mas tentu keluarga kita akan tetap baik baik saja dan yang pasti Ayesa tidak akan sakit sakitan seperti ini."
"Mas apa kamu benar benar masih menginginkan keluarga kita tetap utuh seperti dulu lagi?"
"Tentu saja dek mas janji akan berubah dan memperbaiki semuanya, mas sadar mas bukan orang yang baik mas bahkan sudah terlalu banyak melakukan kesalahan, tapi mungkin hanya peristiwa ini yang bisa menyadarkan mas, 8 tahun lebih bersamamu tapi justru kepedihan yang kuberikan padamu dek, mas sadar permintaan maaf tidak dapat mengembalikan semuanya tapi mas benar benar minta maaf atas kekhilafan mas." kulihat binar keseriusan dimatanya saat mengucapkan kalimat itu.
"Mas apa kamu sungguh sungguh sudah memenjarakan Rumi? aku tak yakin kamu akan setega itu padanya"
"Sudah dek, lihat foto ini, ini mas ambil ketika tempo hari Rumi dijemput polisi, atau kamu ingin kita menjenguknya agar kamu yakin Rumi memang benar benar ditangkap polisi?"
"Tidak perlu mas, hanya saja aku heran kenapa mas tega melakukan itu pada Rumi sedangkan katanya untuk menceraikannya saja tidak mungkin."
"Mas sudah mentalaknya dek, masa indahnya akan habis ketika melahirkan nanti, ada beberapa alasan mas melakukan ini, suatu saat kamu pasti akan mengetahui."
"Aku sudah mencabutnya mas."
"Apa dek maksutnya?"
"Gugatan itu."
"Jadi maksut adek, adek mencabut gugatan cerai adek?"
Aku hanya mengangguk pelan, mas Imam langsung memelukku erat sekali, aku tak bergeming, sedikitpun aku tak membalasnya.
Aku memang mencabut gugatan cerai itu, tapi perasaanku tetap saja sudah tak seperti dulu lagi, bagiku pelukannya tetap saja terasa hampa, tak lagi menenangkan seperti dahulu kala.
"Ada syaratnya mas."
"Apa dek, mas akan berusaha memenuhinya meskipun berat." mas Imam melepaskan pelukanku dan berganti menatapku dengan ekspresi yang serius.
"Jadilah orang yang bertanggungjawab mas, aku yakin kamu tau kewajiban seorang lelaki sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai anak seperti apa mas, aku akan menganggap kita tak memiliki apa apa seperti dulu lagi, semua toko biar dipegang Indri dan orang kepercayaanku yang lain aku hanya akan mengambil uang untuk keperluan berobat Ayesa atau jika ada yang benar benar mendesak selebihnya berusahalah mas, anggap saja kita memulai dari nol, untuk jatah bulanan ibu bapakmu itu juga jadi tanggung jawabmu, katakan saja pada mereka jika aku sudah bangkrut atau alasan yang lain, dan untuk sementara waktu aku belum siap kalau harus tidur seranjang denganmu mas, gimana?"
"Baiklah dek aku akan berusaha tapi aku hanya takut belum bisa memenuhi semua kebutuhanmu dan Ayesa, belum lagi harus membayar gaji budhe Ris."
__ADS_1
"Gaji budhe Ris untuk setahun kedepan kan sudah kuberikan awal kemaren mas, kebetulan waktu itu kan dia butuh uang banyak untuk menambah biaya pendidikan anaknya sisanya mau buat tabungan."
"Owh syukurlah dek, doakan ya dek mas akan berusaha sebisa mas, semoga mas bisa membahagiakan kalian."
"Satu lagi mas nanti kita kerumah ibu bapakmu ya aku mau mas menjelaskan semuanya secara detail pada ibu dan bapak."
"Iya dek mas ikut gimana baiknya saja."
.
.
.
Menjelang sore hari kami berangkat kerumah ibu mertuaku tentu saja dengan mengajak Ayesa ikut serta. Kami tak membawa apa apa, seperti yang sudah aku katakan tadi aku meminta mengatakan pada keluarganya kalau aku bangkrut.
"Assalamu'alaikum." kami serempak mengucapkan salam berbarengan, sementara bapak dan ibu sedang berbincang sambil minum teh diteras samping, mbak Ima entah pergi kemana kata ibu kerumah temannya.
"Waahhhh Ayesa sudah sehat kembali ya, syukurlah nak, sini sini ikut nenek minum teh, Asiyah kamu bikin teh sana sekalian suamimu ini dibuatkan."
Aku hanya mengangguk dan berlalu kedapur, tampak sekali perbedaan mereka, tadi ketika datang ibu melirik sekilas dan seketika tatapannya berubah sinis manakala tau aku tak menenteng sesuatu, biasanya ibu sudah paling heboh untuk membuatkan minum tapi itu dulu jika ditanganku penuh dengan oleh oleh.
"Terimakasih ya dek seharusnya gak perlu repot repot tadi dirumah kan kita sudah minum teh, sini dek duduk disamping mas, pak buk Imam mau ngomong sesuatu sama ibuk dan bapak."
Mas Imam menjelaskan semuanya secara detail, termasuk semua kelicikan Rumi yang sekarang berakhir dipenjara.
"Mam bagaimana mungkin usaha kalian tiba tiba bangkrut begitu saja, cabang toko Asiyah itu kan ada banyak masak semuanya bangkrut." ucap ibu yang semakin sinis kepadaku.
"Buk ini salah Imam, gara gara Imam berulah kemaren Asiyah jadi sering tidak konsen dan melakukan kesalahan dan mengelola toko, akhirnya banyak pelanggan yang kabur dan toko banyak merugi, terpaksa ada yang harus kami jual juga mengingat biaya pengobatan Ayesa yang cukup besar buk, doakan saja semoga Imam cepat dapat pekerjaan ya buk."
Maafkan kami yang harus terpaksa berbohong buk, bukan maksut kami berdoa buruk lewat perkataan kami tapi insyaallah kebohongan kami ini demi kebaikan kita semua, aku juga berniat membantu keuangan mereka lagi nanti tapi hanya sebatas membantu bukan menanggung semuanya, tapi sekarang biarlah mereka belajar mandiri terlebih dahulu.
"Tapi jangan lupa Mam syurgamu ada ditelapak kaki ibu, buktikan wujud baktimu pada ibu bapakmu, dan kamu Asiyah jika bukan karena Imam dan bapak sudah pasti kamu jadi yatim piatu sekarang, jadi ingat kamu juga harus lebih berbakti pada kami."
Aku hanya mengangguk dan mengiyakan, keterlaluan sekali mereka kalau aku ada uang saja bersikap baik sedang dalam keadaan seperti ini mereka mengungkit ungkit lagi jasa mereka.
"Kamu gak kasian sama ibuk bapakmu ini Mam, kami seharusnya tinggal bersantai menikmati masa tua kami tapi sekarang justru harus banting tulang hanya demi mencari sesuap nasi."
"Iya buk nanti akan Imam usahakan memberi uang bulanan pada ibuk dan bapak meskipun jumlahnya tidak banyak."
__ADS_1
"Kalau dibantu Asiyah pasti kalian juga bisa berjaya seperti dulu lagi, toh kalian kan masih muda Ayesa juga sudah besar bisa ditinggal kalau untuk sekedar merintis usaha dari awal lagi, Asiyah jangan mentang mentang kamu dulu yang menjatah uang bulanan kami, membangunkan rumah dan lain lain kamu jadi merasa paling berjasa pada kami, sudah sepantasnya kamu melakukan itu pada kami ingat tanpa kami kamu mungkin tidak bisa seperti sekarang."
"Iya buk." Rasanya ingin mencakar cakar saja mukanya jika tak mengingat itu ibu mertuaku, kemaren padahal dia sudah menangis nangis bersujud kepadaku tapi begitu mengetahui aku bangkrut dia kembali sinis lagi.
"Karna keadaan kalian sedang susah begini sebaiknya pengobatan Ayesa dihentikan saja dulu, lebih baik dia berobat alternatif saja yang lebih murah, uangnya kan bisa untuk yang lain, dan jangan lupakan kewajiban kalian pada ibuk."
"Iya buk doakan semoga Ayesa cepat sembuh ya." mas Imam menimpali dengan santai, jelas saja dia santai karna tau khusus untuk pengobatan Ayesa aku akan membiayainya, ya berapapun asal anakku kembali sehat, biar saja kurahasiakan dari mertuaku itu.
"Maaf pak buk sepertinya kami sudah harus pulang Ayesa harus istirahat soalnya."
Aku berniat menyalami ibu mertuaku tapi dia hanya sekilas menyentuh tanganku bahkan sedikit menepisnya, ah buk kau belum tau saja aku bahkan mampu menyumpal mulutmu itu dengan uang agar kau diam. Geramm sekali rasanya, kapan dia akan berubah.
Dimobil aku sedikit menggerutu dengan mas Imam membicarakan ibu yang jelas hanya menganggapku ketika aku mempunyai uang saja.
"Yang sabar ya dek, aku minta maaf atas nama ibu."
"Kurang sabar gimana lagi aku mas, dia bahkan tau semua kelicikan Rumi tapi tak sedikitpun ada kata kata buruk untuk Rumi."
"Maafkan ibuk ya dek, mungkin karna tadi mas bilang kalau mas sudah menceraikan Rumi makanya ibuk diam saja."
"Halah emang dasar ibuk saja mas yang benci sama aku, kalau misal kita cerai mungkin ibu juga tidak akan bicara buruk tentangku atau malah aku semakin buruk dimatanya."
"Sudahlah dek jangan ngomong seperti itu lagi, kita doakan saja semoga ibuk bisa berubah lebih baik lagi."
***
Buat yang pengen Imam sama Asiyah cerai mereka gak bakalan cerai ya nanti bakal dapat karmanya sendiri-sendiri.
Yang kurang suka karena mereka tidak bercerai bisa langsung skip atau hapus dari favorit saja jangan komen toxic.
Karena suatu hal cerita ini aku post disini cukup sampai part ini aja.
Yang penasaran pengen baca lanjutannya bisa baca di ******* dengan judul yang sama karna disana udah aku up sampai part 56
Atau cari akun Facebook aku untuk bisa klik linknya.
Bisa juga dibaca lewat google cukup dengan masukkan kata kunci "pembantuku Maduku *******" nanti akan muncul pilihan ceritanya.
Sekali lagi aku ucapkan terima banyak untuk kalian yang sudah mampir dan suport cerita aku.
__ADS_1
Owh iya di awal part emang cerita ini pendek-pendek ya, tapi mulai part ini kebelakang insyaallah tulisannya lebih panjang.