
Pagi ini seperti biasa aku mencampurkan serbuk itu keminuman mas Imam, kulihat dia kemudian masuk kamar tapi tak lama setelah itu dia pergi keluar seperti biasanya. Hemmm kenapa susah sekali, bayanganku mas Imam tidak akan tahan dengan reaksi obatnya kemudian akan mendekatiku. Kupikir tidak apalah jika seandainya aku hamil duluan dan mas Imam nantinya akan bertanggung jawab.
Tapi nyatanya tidak sesuai rencana dia tetap bisa mengontrol nafsunya, sepertinya dia selalu ketoko menemui istrinya ketika sedang berhasrat. Rasanya aku hampir putus asa, tapi aku tetap akan mencobanya beberapa kali lagi, jika benar tidak berhasil maka aku akan memikirkan cara lain lagi.
Tak seperti biasanya pagi ini tiba tiba kudengar mobil mas Imam, ini tidak seperti biasanya, kali ini dia pergi benar benar sebentar dan mukanya terlihat kusut sekali dan berantakan, dia mendekatiku sebentar lalu langsung berlari kekamarnya dan mengurung diri seharian dikamar.
Lain harinya aku tetap mencoba dan masih sama selalu pulang cepat kemudian mengurung diri dikamar. Namun kali ini entah bagaimana ceritanya sepertinya keberuntungan berpihak kepadaku, memang rencanaku tak sepenuhnya gagal karna meskipun sedikit berbeda dari rencanaku ini bahkan lebih baik dari yang aku bayangkan, karena mas Imam tiba tiba mendekatiku meremas kuat tanganku, aku juga perempuan yang sudah pernah menikah aku tau dia benar benar sudah berada dipuncak hasratnya, kali ini aku benar benar tak habis fikir dia mengutarakan niatnya untuk menikah siri denganku. Oh astaga betapa kaget dan senangnya aku, aku tentu saja mau tapi aku harus sedikit berakting agar terlihat bukan perempuan murahan.
Aku menolaknya tapi sengaja sedikit kugoda agar semakin terpancing hasratnya, dia terus membujukku agar mau dinikahi siri. Aku akhirnya mengiyakannya, namun yang tak kusangka sangka adalah mas Imam mengajakku menikah siang itu juga.
Aku benar benar merasa wanita paling beruntung didunia saat ini, yang kudapatkan bahkan jauh lebih baik dari yang kubayangkan. Selepas kuiyakan ajakan mas Imam tadi tak menunggu waktu lama karna ternyata mas Imam sudah memanggil penghulu dan saksi. Tanpa persiapan dan tanpa make up seperti pernikahan pada umumnya akhirnya sah juga aku jadi istri mas Imam. Rasanya masih seperti mimpi.
Setelah berbasa basi sebentar penghulu dan saksi serta wali hakim yang menikahkanku pergi disinilah kami sekarang, diranjang kamarku yang tentunya tak sebesar dan seluas kamar utama, tapi aku tau betul mas Imam benar benar menikmati permainan kami, kami bahkan mengulangnya beberapa kali.
__ADS_1
Setelah selesai pun mas Imam tak kunjung keluar, kami tetap rebahan dikamarku, kami rasanya masih sama sama canggung.
"Dek Rum aku minta maaf ya kalau ini terlihat buru buru"
Aku sedikit heran dia merubah panggilanya menjadi dek kepadaku, mungkin dia akan benar benar berperan sebagai suami yang baik.
"Aku minta maaf kalau dek Rum kurang nyaman sama pernikahan kita, adek sekarang sudah resmi jadi istri mas, tapi kalau boleh, mas minta tolong jangan beritahu siapapun ya dek, kita bersikap biasa saja didepan semua orang tapi mas tetap akan menunaikan kewajiban mas sebagai suami adek"
"Mas juga bingung dek harus menjelaskannya seperti apa, mas memang belum sepenuhnya mencintaimu tapi mas akan tetap berusaha menjadi suami yang baik. Sambil menunggu waktu yang tepat nanti mas akan beritahu Dek Asiyah"
"Aku ikut bagaimana baiknya saja mas, tapi rasanya aku masih canggung mas, aku ini kan pembantu disini, masak tiba tiba menikah dengan majikanku sendiri, aku tidak mau disebut pelakor mas"
Dengaja aku menampakkan kesedihan agar menarik simpati mas Imam, dan benar saja dia merengkuhku dalam dekapanya sambil mengecup puncak kepalaku. Seperti mimpi rasanya dapat menhirup aroma tubuhnya, bahkan aku sudah memilikinya.
__ADS_1
"Jangan begitu dek, aku yang mengajakmu menikah, bukan kamu yang menggodaku, ya sudah mas keluar ya mau mandi nanti mas bantuin beres beres rumah sebelum dek Asiyah datang biar adek nggak capek"
Mas Imam langsung keluar kamar tapi sebelum itu dia membisikkan sesuatu yang membuatku langsung bersemu.
"Terimakasih ya dek, nanti malam mas pengen lagi"
Hemzz rupanya ramuan yang kudapatkan dari nenekku dulu bereaksi sangat baik, ya ramuan yang beberapa hari ini aku konsumsi agar laki laki ketagihan.
Sejak resmi aku dan mas Imam menikah dia selalu membantu pekerjaanku. Setelah Mbak Asiyah ketoko aku akan mandi dan terang terangan berdandan serta menggunakan baju baju menggoda. Kami seperti pasangan yang baru menikah pada umumnya, mas Imam selalu mesra padaku kami lebih sering bercinta disiang hari dimanapun kami may, namun ketika tiba waktu Mbak Asiyah pulang, kami akan bersikap biasa saja, aku bahkan akan memakai daster kumal kebanggaanku.
Tak apalah kucing kucingan seperti ini yang terpenting aku sudah mendapatkan mas Imam dan nafkah lahir batinya, ya mas Imam memberikanku uang yang tidak sedikit jumlahnya, ah rasanya aku senang sekali.
Mas Imam selalu memperingatkanku untuk memakai jilbab kalau keluar rumah tapi katanya kalau cuma dirumah gak apa apa gak dipakai, aku menurutinya saja. Dia memberikan uang untuk belanja baju dan jilbab baru, tapi mas Imam tak menemaniku belanja, yaa kami hanya suami istri ketika dirumah saja dan itupun ketika siang saat dirumah tidak ada orang. Aku tidak keberatan sama sekali, toh hidupku jauh lebih baik sekarang, segala kebutuhan apapun aku tinggal minta, biaya berobat ibuku dan adik adikku dikampung pun tercukupi, bahkan aku bisa sedikit memanjakan mereka.
__ADS_1