PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
TAFAKKURKU


__ADS_3

Aku masih belum percaya dengan apa yang menimpaku, aku bahkan tak keluar kamar sejak peristiwa kemaren, Ayesa sempat mengkhawatirkanku gadis 7 tahun itu memang dekat denganku sehingga meskipun masih sekecil itu dia tahu bahwa ibunya sedang tidak baik baik saja, kujelaskan padanya kalau aku sedang tak enak badan dia menurut kemudian masuk kekamarnya, sedang mas Imam entahlah mungkin tidur dikamar Mbak Rumi, aku tak peduli lagi, rasanya hatiku sudah mati, rasa hormat kagum dan seganku menguar begitu saja dari hatiku.


Semalam memang aku tak menangis lagi, air mataku sudah habis terkuras, dan lagi percuma aku tangisi seperti apapun juga keadaan tidak akan berubah bukan?


Semalaman kuhabiskan untuk mengadu pada Allah, membaca lembar demi lembar mushaf Qur'an hatiku sudah jauh lebih baik sekarang apalagi setelah semalam aku beristikhoroh. Aku bukan wanita bodoh mas aku tak ingin gegabah mengambil keputusan, hanya saja untuk saat ini aku masih ingin diam, untuk sementara aku absen ketoko dulu biarlah karyawanku saja yang menghandelnya.


Setelah sholat subuh aku keluar kamar, ternyata mas Imam tidur disofa ruang tamu. Aku tak peduli mas kamu mau tidur dilantai sekalipun aku sudah tak peduli. Tujuanku keluar kamar aku ingin berbelanja bahan makanan, aku ingin memasak sendiri makananku takut kumuntahkan lagi jika makan makanan wanita tak tahu diri itu.


"Dek mau kemana? mas antar ya dek"


"tak perlu mas sudah ada taksi didepan"


Kulihat sekilas mas Imam mengejarku tapi aku tetap berlalu, tepat ketika dia sampai dipagar taksi yg sudah kupesan sudah sampai didepanku.

__ADS_1


"jalan pak, kepasar ya"


"baik buk"


Ya aku sedang ingin berbelanja kepasar, aku ingin membuat sambal terasi dengan daun singkong dan ikan asin, aku sengaja ingin memasak menu paling wah untukku dan mas Imam 6 tahun yang lalu.


💔💔💔


Sesampai dirumah aku langsung memasak aku akan bersikap biasa saja, tak kuhiraukan ucapan mas Imam, Mbak Rumi pun terus meminta maaf dan berkata akan membuatkanku sarapan tapi aku tetap ingin memasak sendiri, kusuruh dia tetap memasak seperti biasanya.


"Mbak Rumi sini ikut makan bareng kita" sengaja aku mengajaknya makan bersama, biar saja aku akan bermain cantik, akan kupastikan mereka menyesal telah menghianati kepercayaanku.


"T ttapi mbak"

__ADS_1


"Gak apa Mbak, Mbak Rumi kan istri mas Imam juga jadi sudah sepantasnya kita sarapan bersama bukan?


"Bbaik mbak" dari dulu aku memang menyuruhnya memanggilku Mbak saja biar lebih akrab, aku lebih suka jika para pekerjaku tidak canggung dan dekat layaknya keluarga tapi tak kusangka dia benar benar ingin menjadi bagian dari keluargaku yang sesungguhnya.


"Bunda kok cuma makan sama sambel dan daun aja bun gak pake lauk"


"Bunda sengaja kok nak, lagi kangen aja makan makanan kayak gini, kamu tau gak nak pas kamu masih bayi dulu ini adalah makanan terenak yg bunda sama Ayah makan"


"yang bener bun? tapi masak sih bun, uang bunda sama Ayah kan banyak bun, kenapa bunda gak masak makanan yg lengkap bun?


"uang bunda sama Ayah emang banyak nak, tapi itu baru beberapa tahun terakhir ini, dulu kami sangat pas pasan makan dengan lauk garampun hampir tiap hari kami lakukan bahkan kadang tidak ada nasi sama sekali kami hanya memetik daun singkong saja untuk kemudian direbus tanpa nasi tanpa sambal hanya daun dengan garam, untungnya waktu itu kamu masih bayi nak kamu masih menyusu pada bunda jadi kamu belum banyak kebutuhan, dulu ayahmu sudah berusaha cari kerja tanpa kenal Lelah tapi semua lamaran yg dimasukkan tak ada yang berhasil satupun, bunda ingat sekali waktu itu punya tabungan uang 30rb bunda izin sama Ayah uangnya mau bunda gunakan untuk modal membuat donat, awalnya Ayah memang melarang karna kamu masih terlalu kecil tapi bunda terus meyakinkan ayah bahwa semua baik baik saja, dan dari uang 30rb itulah nak usaha bunda bisa sampai sebesar sekarang"


"Wahh bunda memang benar benar hebat, iyakan kan Mbak Rumi, aku kira Ayah sama bunda memang sudah kaya dari dulu tapi ternyata benar benar berusaha dari nol, terimakasih ya Ayah terutama terimakasih untuk bunda aku tau bun merawatku ketika masih kecil sambil berdagang pasti sangat susah ya bun, kayak Mbak Nas yg jualan disamping sekolah itu bun, aku kasihan melihatnya, dia selalu jualan sambil ngajak anak kecil katanya itu cucunya bun "

__ADS_1


Beruntung putriku itu ternyata secara tidak langsung mendukungku, aku sengaja mencertitakan sedikit penggalan masa lalu hidupku dan mas Imam, memang sengaja biar mas Imam teringat kembali masa masa sulit hidup kami, biar dia sadar betapa sempurnanya kehidupan kami saat ini, tapi malah dengan mudahnya dia menghancurkanya sendiri, kamu akan menyesal mas sudah memperlakukan aku seperti ini, kulihat mereka hanya diam saja, bahkan mengunyah makananpun seperti kesusahan, selamat datang dipermainan yang sudah kau buat sendiri mas Imam dan Mbak Rumi


"sudah mas antarkan Ayesa keburu kesiangan nanti"


__ADS_2