
Namaku Sumirah namun di komplek tempat tinggalku ini orang-orang tidak ada yang tau nama asliku, mereka hanya tahu namaku Mira.
Aku memiliki 3 orang anak, yang pertama Ima dia janda dan ikut serumah denganku yang kedua Imam anak lelakiku yang paling kubanggakan dan yang terakhir Rini yang saat ini masih kuliah.
Dulu kehidupanku sebenarnya biasa saja, dulu aku pun sempat merasa lelah hidup dalam keadaan pas pasan, dan sepertinya Tuhan mendengar dan mengabulkan doaku.
Imam yang awalnya sangat kubenci itu kini sudah berubah.
Bagaimana tidak? Imam dulu yang sudah menghabiskan sepetak sawahku untuk biayanya kuliah ujung ujungnya malah cuma jadi pengangguran, ketika ibunya ini benar-benar membutuhkan uang dia bahkan tak mampu memberikan aku uang barang 10ribu saja, aku hanya ingin dia jadi anak berbakti yang membalas budi orangtuanya.
Dan pada akhirnya aku mendiamkannya entah berapa lama, biar saja dia sadar bagaimana seharusnya menjadi seorang anak.
Tapi suatu hari tiba-tiba dia datang membawakanku dan adiknya oleh-oleh dia, juga memberikan aku uang.
Aku tentu saja senang anakku mulai mengingatku, katanya dia sudah mulai punya usaha, waktu itu dia kerja dan istrinya berjualan donat, gaji dari kerjanya semua dikirimkan kepadaku ah senangnya hatiku.
__ADS_1
Tapi itu cuma bertahan beberapa bulan saja.
Imam tidak betah bekerja, katanya gajinya cuma sedikit padahal gaji 2,5 juta menurutku sudah lumayan besar kan, aku jadi was-was sendiri takutnya sudah tidak dijatah lagi padahalkan kebutuhan semakin banyak, SMP-nya Rini juga sebentar lagi akan mengadakan wisata.
Tapi untungnya Imam bilang akan tetap memberiku uang, dia bilang dia akan bekerja sama dengan istrinya.
Ah aku tak peduli dia dapat uang darimana yang penting di masih rutin peduli pada ibu yang melahirkan dan membesarkannya ini.
Tapi kadang Imam meminta ingin menitipkan putrinya barang sehari karena mereka banyak orderan dan Ayesa tak ada yang menjaga, aku katakan padanya kalau aku sudah tua tenagaku tak lagi mampu untuk berlarian mengejar anak yang lagi aktif aktifnya itu.
Ya aku benar bukan, lagian ada-ada saja Imam itu punya anak masak dititipkan orang. Mungkin akhirnya Ayesa dititip kerumah besanku, entahlah aku tak mau ambil pusing.
Aku sebenarnya tak tau pasti apa usaha mereka yang jelas setiap bulan mengirimiku uang dan mencukupi kehidupan kami sekeluarga.
Bahkan ketika Ima diceraikan suaminya nasibnya terlunta-lunta dan penyakitan Imam juga yang membantu operasi dan mencukupi hidupnya.
__ADS_1
Pernah aku bilang padanya bahwa atap rumah bocor di sana sini dan rumah butuh direnovasi dia justru membangunkan rumah baru ditempat tinggalku sekarang. Benar kan Imam ini memang benar-benar anak yang patut dibanggakan bukan.
Istrinya juga sangat baik padaku dan keluargaku, aku tau dia juga mempunyai bisnis kue yang sukses diapun juga sering memberi uang dan membantu perekonomian kami.
Mantuku itu selain cantik dia juga pandai mencari uang bahkan untuk biaya kuliah Rinipun dibantu Asiyah.
Kurang lebih setahun lalu aku sempat kaget saat Imam pulang dengan perempuan yang dulu diserempet Ima, dan mengaku mereka sudah menikah siri.
Aku tentu saja syok tidak menyangka, aku ingin memarahi dan tidak merestui tapi aku takut Imam akan menghentikan jatah bulanan untuk keluargaku, jadi ya sudahlah aku restui saja hubungan mereka.
Mereka bahkan sering menginap di rumahku, aku cukup menyukai Rumi karena dia pandai memasak dan mengurus rumah,
Kurang apa lagi hidupku, punya 2 menantu yang satu pintar cari duit yang satu pintar urusan rumah.
Aku tinggal menghabiskan masa tuaku dengan berleha-leha saja, toh sudah sepantasnya mereka melakukan ini padaku karena memang aku ibu dari suami mereka yang sudah melahirkan dan membesarkan Imam.
__ADS_1
Tanpaku Imam tidak mungkin akan seperti ini bukan?
Mereka juga harus sadar kalau memang syurga seorang lelaki ada ditelapak kaki ibunya, yang yang pasti seorang lelaki juga wajib bertanggung jawab pada ibunya.