PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
POV IMAM


__ADS_3

Aku sangat bersyukur mempunyai istri cantik dan sholekhah seperti Asiyah, dulu banyak yang memperebutkan wanita yang kini jadi istriku itu, tapi alangkah beruntungnya karna justru aku yang terpilih menjadi imamnya, aku masih ingat dulu dia berkata


"Mas tau tidak kenapa aku diberi nama Asiyah? kata bapak Asiyah itu perempuan hebat yang dijamin masuk syurga, karna meskipun dia istri Fir'aun tapi dia tidak mendukung perbuatan Fir'aun, tapi sepertinya bapak salah karna anaknya ini menikah dengan mas Imam, tentu saja aku yakin kamu akan seperti namamu mas, menjadi imam yang baik untuk keluarga kita kelak"


Aku masih sangat mengingat kata kata itu, waktu itu kami berbincang bincang sembari minum teh didepan tungku kayu karna dulu kami belum punya apa apa. Sekarang keadaan sudah berubah drastis, semua juga berkat istriku. Saat itu kami benar benar dititik terendah, makan lauk garam sudah hal biasa bagi kami, aku sudah berkeliling mencari kerja tapi tak kunjung diterima, ingat waktu itu kami masih memegang uang 20ribu beruntung istriku dulu pernah bekerja ditoko kue, akhirnya dia inisiatif menggunakan uang itu sebagai modal dia membuat donat karna donat termasuk jajanan yang banyak disukai orang dan hanya menggunakan modal sedikit. Awalnya dia menjajakan donat itu keliling kejalan jalan, uang 20ribu tadi akhirnya bisa bertahan lama dan bahkan semakin bertambah, karna istriku kreatif jadi dia juga mencoba membuat kue kue lain, awalnya dia menjajakan keliling daganganya tapi lama kelamaan dia menitipkan ditoko ditoko dan menerima reseller. Tak kusangka perjuangan istriku waktu itu tak sia sia sedikit demi sedikit usahanya bisa semakin besar dan bahkan bertahan sampai sekarang. Dulu berbulan bulan aku berkeliling mencari kerja tapi tak ada yang cocok, sempat aku bekerja tapi lama kelamaan aku memilih keluar karna gaji yang sedikit dan akhirnya memilih untuk membantu istriku saja dirumah.

__ADS_1


Sampai dititik ini dia benar benar telah sukses merubah nasib keluarga kami, tapi sekarang justru aku merasa menjadi Fir'aun untuknya. Aku telah menikah diam diam dibelakangnya, sebenarnya aku tak ingin melakukan ini, aku sudah sangat bahagia dengan rumah tanggaku bersama Asiyah, tapi aku juga tidak tahu kenapa aku begitu berhasrat melihat Rumi pembantu kami, daripada menjadi zina akhirnya kunikahi saja dia.


Jujur awalnya aku tak memiliki perasaan apapun, tapi karna istri siriku itu begitu agresif kepadaku dan ya lelaki mana yang bisa menolak, lama lama aku merasa kecanduan denganya aku tak bisa menolak setiap sentuhanya itu. Sesaat aku merasa menjadi lelaki yang beruntung, untuk masalah ekonomi Asiyah dengan mudahnya bisa mencukupi semua kebutuhanku, bahkan seluruh kebutuhan keluargakupun dia yang menanggung, dan untuk kebutuhan biologisku ada Rumi yang selalu bisa membangunkan gairahku, ah betapa bahagianya hidupku waktu itu.


Sempat aku berfikiran ingin menceraikan Rumi saja, tapi dia sedang mengandung, lagi pula jujur aku tak bisa berpaling darinya, dia memang kalah cantik dari Asiyah istriku tapi dia selalu bisa memuaskanku diranjang dengan tubuhnya yang seksi itu, bukan berarti aku tak menikmati saat bersama Asiyah hanya saja ketika pulang dia sering mengeluh capek saat kuajak bercinta, akhirnya bukanya aku mendapat service darinya justru aku yang malah harus memijatnya, itulah kenapa sebabnya aku tak bisa menolak pesona Rumi.

__ADS_1


Tapi belakangan justru aku menyesali perbuatanku dulu. Aku rasa aku tidak siap jika harus kehilangan Asiyah dan Ayesa putri kami.


Ah kenapa Asiyah tidak mau berdamai saja sih, toh aku tetap menjadi lelaki perhatian dan penyayang seperti dulu bukan, kenapa dia tidak menerima dan diam seolah olah tidak terjadi apa apa saja, toh uang 10juta perbulan yang kuambil dari laba toko itu tidak ada apa apanya untuk Asiyah tapi uang segitu terasa sangat berarti untuk Rumi. Seharusnya justru ini akan meringankan dia bukan, Asiyah tak perlu repot melayaniku saat kelelahan, Rumi juga bisa membantu pekerjaan rumah dan menyiapkan kebutuhan kami seperti biasa kami akui memang masakan Rumi itu begitu nikmat, semua masakanya cocok dilidah kami, jadi Asiyah tak perlu repot menyiapkan makanan juga kan.


Tapi sepertinya itu hanya akan jadi mimpi, karna sebelum aku mengatur rencana bagaimana cara yang cocok untuk memberitahu istriku agar mau dimadu dengan pembantu, justru dia sendiri yang sudah mengetahuinya dan naasnya lagi dia benar benar tidak terima atas perlakuanku ini.

__ADS_1


__ADS_2