PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
Demi Ayesa


__ADS_3

Malam ini aku menelepon ambulance rumah sakit untuk menjemputku dan Ayesa karna panasnya tak kunjung reda, badannya juga menggigil sekali. Sebenarnya sudah dari sore aku akan membawanya kerumah sakit tapi Ayesa justru berontak dan kekeh ingin tidur dirumah sambil menunggu ayahnya katanya, sekarang dia terlalu lemah untuk menolak, dan sialnya aku tak bisa mengendarai mobil jadi harus menunggu ambulance datang, kali ini aku mengajak budhe Ris ikut serta kerumah sakit aku butuh teman sambil menunggu ibu bapakku datang.


Sampai rumah sakit Ayesa langsung masuk ke ruang ICU, tubuhnya semakin menggigil bahkan terlihat kejang kejang, Ya Allah aku takut sekali terjadi apa apa denganya.


Aku dan budhe Ris menunggu diluar dan hanya bisa berdoa. Begitu melihat ibu datang aku langsung menghambur memeluknya dan menangis menumpahkan segala sesak di dada, cobaan apa lagi ini mengapa semua datang bertubi tubi, aku pikir kehidupan seperti ini hanya ada di FTV atau dinovel novel tapi nyatanya aku mengalaminya sendiri, Allah memilihku untuk menguji seberapa kuatnya keimanannku entahlah kapan aku akan lulus dari ujian hidup ini.


krriiiieettttttt


Aku sedang menjelaskan apa yang terjadi dengan Ayesa ketika tiba tiba pintu dibuka.


"Gimana dok keadaan anak saya."


"Sudah tenang buk sekarang, syukurlah ibu lekas membawanya kemari terlambat sedikit saja mungkin sudah tidak akan selamat karna kejangnya akan berbahaya jika dibiarkan terlalu lama, tadi sudah saya berikan suntikan obat dan sekarang sedang beristirahat, tapi dia terus menyebutkan ayahnya Bu kalau bisa ayahnya biar ikut nungguin juga."


"Tapi dok anak saya gak kenapa kenapa kan dok?"


"Tidak Bu hanya panasnya terlalu tinggi jadi menyebabkan kejang ditambah keadaan anak ibu yang belum pulih total jadi memang tubuhnya masih rentan."


"Baik dok, apa saya boleh masuk dok?"


"Silahkan Bu, tapi hanya boleh satu orang saja ya."

__ADS_1


"Baik dokter, terimakasih banyak"


Aku langsung mengirim pesan ke mas Imam, meskipun sebenarnya aku tak ingin tapi tak apalah Ayesa sedang butuh ayahnya sekarang. Karna yang menunggu hanya boleh satu orang jadi hanya aku yang masuk kedalam keluargaku semuanya akan menginap tapi menunggu diluar.


Kupandangi wajah putri kecilku itu, nampak sekali pipinya semakin tirus, sesekali kuusap kepala dan kucium keningnya. Maafkan ibumu ini nak. Tak terasa air mataku mengalir begitu saja, aku merasa gagal menjadi orang tua,Ayesa terlihat kurus sekali mungkin sebenarnya dia banyak pikiran seperti waktu aku memergoki diarynya dalam tidurnyapun tampak tidak tenang, sekali lagi maafkan ibumu nak.


Ceklek


"Boleh aku masuk dek?"


"Silahkan mas tapi karna hanya boleh ditunggu satu orang jadi aku akan keluar."


"Oke dek nanti kamu saja yang menemaninya tidur aku hanya ingin melihat keadaanya dulu."


Aku memang belum menceritakan semuanya pada ibu bapakku dan sekarang kurasa saat yang tepat untuk mereka mengetahuinya. Aku menceritakan semuanya detail dan tak ada yang terlewat sedikitpun termasuk apa penyebab sakit Ayesa kemaren dan sidang perceraian ku besok.


"Astaghfirullohaladzim ibu benar benar tak menyangka kalau Rumi selicik itu nak."


Berkali kali ibu beristighfar karna heran dengan kelakuan Rumi, bapak pun terlihat kaget.


"Jadi baiknya aku harus gimana ya buk."

__ADS_1


"Memang Rumi sudah benar benar dipenjara belum nak."


"Kata mas Imam sih sudah buk tapi aku belum tau lagi pastinya, sebenarnya aku udah mantap besok juga udah sidang pertama perceraian kami tapi aku masih berat di Ayesa buk."


"Nak bukanya ibuk membela Imam tapi memang benar tidak sepenuhnya salah Imam ibuk hanya kasihan melihat Ayesa apalagi kondisinya masih rentan seperti ini dia masih sangat kecil untuk ikut menanggung kesedihan karna perpisahan."


"Aku juga berpikir begitu buk tapi sisi egoisku kadang ingin menang,nanti sajalah buk aku pikirkan lagi itu mas Imam sudah keluar aku masuk dulu ya buk, siapa tau Ayesa nanti membutuhkanku."


"Iya nak."


Aku masuk melewati mas Imam begitu saja tanpa menegurnya, didalam Ayesa masih tertidur. Aku duduk dan membaca Qur'an supaya lebih tenang.


Aku tidak bisa tidur sama sekali, hanya tadi sempat sedikit terpejam ketika duduk ditepi ranjang Ayesa.


Dalam sholat tahajud ku aku terus merapalkan doa doa kesembuhan untuk anakku, kutumpahkan semua yang kurasakan dalam sujudku, samar samar aku mendengar Ayesa mengatakan "Ayah jangan pergi", setelah kudekati ternyata dia masih tidur dan mengigau dalam tidurnya, aku jadi semakin bimbang, kulihat kembali amplop undangan sidang yang ada di tasku.


Entahlah aku menjadi gamang akan keputusanku, banyak yang menyuruhku untuk bercerai dengan mas Imam apalagi para pembaca cerbung ini tapi begitulah kelemahanku, aku tidak mampu melihat anakku menderita seperti ini, aku memang terlalu lemah hingga kadang orang lain banyak yang dengan mudahnya memanfaatkan ku.


Pagi ini seharusnya aku menghadiri sidang, tapi setelah aku sholat istiqoroh tadi aku menghubungi pengacaraku untuk menunda terlebih dahulu, kalaupun tidak bisa ditunda aku meminta tolong untuk mencabutnya terlebih dahulu.


Dalam sholat ku hasilnya lebih condong untuk tetap mempertahankan rumah tanggaku daripada harus berpisah dengan mas Imam, ibu sepertinya juga lebih mendukung kalau keluarga kami tetap utuh, aku tentu saja meredam rasa egoisku demi Ayesa ya hanya demi Ayesa ini kulakukan, aku tak tega mendengar rintihan pilu dalam tidurnya yang selalu menyebut nama ayahnya itu.

__ADS_1


Namun aku tidak akan membatalkan gugatan cerai ini secara cuma cuma. Nanti aku akan menemui mas Imam untuk memberikan syarat syarat jika rumah tangga kami ingin tetap utuh.


Bismillah ya Allah semoga keputusanku untuk bertahan bukanlah hal yang salah, aku hanya ingin mengabulkan keinginan anakku.


__ADS_2