PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
Semakin Yakin


__ADS_3

Ayesa terlihat sangat bahagia sekali, terbukti dengan tingkahnya disepanjang perjalanan.


Dia terus saja bercerita, sesampainya dirumah ibu pun dari jauh sudah memanggil utinya itu.


Ya memang akhir-akhir ini aku kurang perhatian kepadanya, disini syukurlah banyak yang peduli sehingga dia bisa merasa nyaman.


Selepas berganti baju tadi dia langsung lari dan naik ke rumah pohon sampai sampai belum mau makan dulu katanya sudah gak sabar pengen tiduran diatas pohon.


Begitu sampai diatas dia malah manggil akungnya.


"Kunggg Akunggg, Akung sama Uti naik sini deh"


"Iya nak sebentar"


Untung Bapak kemaren membuat rumah pohon cukup besar jadi muat untuk banyak orang.


Karena pada akhirnya aku dan Nisa pun naik ke atasnya, lucu sekali pikirku, tapi tempatnya cukup nyaman untuk sekedar duduk-duduk bersantai.


"Kung besok kalo Yesa sekolah Akung benerin lagi ya rumah pohonnya biar kalo malam bisa untuk tidur, kalo kayak gini kan namanya bukan rumah Kung cuma kayu aja"

__ADS_1


Kami semua justru tertawa bersama mendengar pernyataannya itu, memang Bapak hanya membuat papan dengan bentuk persegi panjang yang dikelilingi pagar saja.


Tapi ekspektasi Ayesa ternyata berbeda, dia berharap rumah pohon yang berbentuk real seperti rumah.


Akhirnya bapak jadi punya pekerjaan lagi hari ini, selepas Ayesa sekolah Bapak merenovasi menjadi benar-benar rumah pohon sesuai keinginan cucunya itu.


Sorenya setelah berganti baju Ayesa melihat rumah pohonya dan dia terlihat puas sekali.


"Nah ini baru namanya rumah pohon Kung, Akung memang hebattt, terimakasih ya Kung" Ayesan spontan langsung mengecup pipi Bapak kemudian mengajakku naik keatas, dia ingin makan sambil melihat pemandangan dari atas sana katanya.


Sepertinya dia terlihat puas dan bahagia sekali hari ini.


"Bunda kenapa sih Ayah gak ikut kita nginep di sini,kan enak Bun kita bisa bertiga dirumah pohon ini"


"Nanti kalo urusan Atah udah selesai suruh Ayah nyusul kesini ya Bun, Yesa pengen tidur dirumah pohon ini bertiga"


"Iya nak, Ayesa bunda mau tanya boleh?"


"Ya tanya ajalah Bun, nanti juga kalo Yesa bisa jawabnya pasti Yesa bakalan jawab"

__ADS_1


" Ayesa kalau misalnya nanti kita gak tinggal satu rumah lagi sama Ayah gimana nak? tapi nanti Ayesa tetap bisa sering ketemu Ayah"


"Kenapa Bun memangnya kok kita gak tinggal lagi sama Ayah? Ayah mau pergi kerja keluar kota ya kayak ayahnya Bella temenku itu"


"Bukan Nak, nanti kalau Ayesa sudah besar Ayesa pasti akan tau alasannya"


"Bunda, sebenarnya bunda kenapa sih kayaknya sering nangis"


"Bunda gak kenapa-napa kok sayang, Bunda cuma minta maaf kalo akhir-akhir ini Bunda kurang perhatian sama Ayesa, jadi gimana tadi jawabnya"


"Ya kalo Bunda gak papa Yesa juga gak papa Bun kalo gak bisa tinggal bareng Ayah lagi, tapi kalo tiap hari ketemu bisa kan bun?"


"Bisa dong sayang, nanti kan Ayesa pulang sama berangkat sekolahnya bisa dijemput sama Ayah, terimakasih ya nak"


Ayesa sepertinya sudah bisa menerima keadaan, mungkin secepatnya aku akan mendaftarkan diri ke pengadilan


Meskipun aku melihat kesedihan diwajah Ayesa tapi aku yakin suatu saat dia pasti bisa menerima.


tnggal aku harus lebih fokus lagi agar Ayesa benar-benar biza menerima keputusanku, setelah bercerai nanti mungkin aku akan banyak tinggal ditempat ibu.

__ADS_1


Disini Ayesa banyak yang menemani, jadi bisa kupastikan dia tidak akan kesepian nantinya.


Toh jarak rumahku dan rumah Ibuk tak terlalu jauh.


__ADS_2