PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
POV RUMI (PERTEMUAN)


__ADS_3

POV RUMI


Namaku Rumiyati janda dari desa yang nekat merantau demi peruntungan nasibku. Aku harus lekas mencari pekerjaan, meskipun aku tak mempunyai keahlian apapun setidaknya aku bisa menjadi art. Usiaku memang masih cukup muda waktu menjanda 3tahun lalu saat usiaku masih 21 tahun suamiku pergi meninggalkanku, dan aku semakin hancur ketika beberapa bulan setelah suamiku pergi bapak malah meninggal, meninggalkan aku ibuku dan ketiga adik adikku yang masih kecil.


Beruntungnya kami masih punya beberapa petak sawah peninggalan bapak yang masih bisa kami tanami sayur mayur untuk lauk makan kami sehari hari, namun sawah itu sedikit demi sedikit habis kami jual untuk biaya hidup kami, sekarang tinggal sepetak pekarangan dibelakang rumah kami, ya meskipun sederhana syukur kami masih memiliki rumah untuk berteduh sehingga tak perlu repot repot memikirkan uang sewa bulanan.


kali sudah kuputuskan untuk mengadu nasib kekota, aku tak sampai hati melihat adik adiku putus sekolah apapun akan aku lakukan untuk membuat mereka bahagia.


Namun sungguh malang nasibku, aku begitu mudahnya percaya pada seseorang yang katanya berniat ingin membantuku ternyata dia lari membawa dompetku, isinya memang tak seberapa hanya beberapa lembar uang kumal yg jumlahnya tak seberapa namun itu sangat berharga untukku saat ini.


Sekarang aku tak tau lagi harus bagaimana, untuk pulang kembali kedesa jelas tidak mungkin tapi disini bahkan untuk sekedar membeli minumpun aku tak Mampu.


Aku berjalan tak jelas entah mau kemana, sementara hari sudah semakin sore tapi aku masih tak kunjung mendapatkan tempat sekedar untuk berteduh, langkahku sedikit gontai Karna memang tubuhku sudah sangat lelah hampir seharian berjalan dan belum makan atau minum apapun.

__ADS_1


Entah seperti apa kejadian tiba tiba ada sebuah motor yang menyerempetku, aku tersungkur lukaku memang tak parah hanya ada beberapa goresan dan lebam lebam ditubuhku tapi tetap saja rasanya sakit semua diseluruh anggota badanku


"Mbak gak papa Mbak? apa ada yang parah Mbak, mari saya antar kedokter, maaf ya Mbak saya bener bener gak sengaja tadi"


"Gak papa Mbak cuma luka kecil saja kok"


Meski begitu aku tetap meringis kesakitan saat dia mencoba membantuku berdiri, akhirnya aku diajak kerumahnya untuk mengobati luka luka goresku.


"sekali lagi maaf ya Mbak, duhh saya beneran gak enak ini Mbak, apa gak sebaiknya kita kerumah sakit saja mbak"


"Jangan begitu Mbak, sudah seharusnya saya bertanggung jawab atas kelalaian saya Mbak, mari Mbak sambil diminum tehnya"


"iya Mbak terimakasih banyak ya, maaf sudah merepotkan"

__ADS_1


"oh iya Mbak kenalkan nama saya Ima"


"salam kenal ya Mbak, saya Rumi"


ketika tengah asyik berbincang bincang tiba tiba kulihat ada mobil yang mendekat didepan rumah, kemudian keluar sepasang suami istri dengan siistri yang menggendong anaknya. Melihat mereka seperti terselip rasa iri, gambaran keluarga yang sempurna suami yang gagah dan terlihat sekali bertanggungjawab dan istri cantik anggun dan sholekhah ditemani putri kecil mereka dilengkapi dengan kemewahan yang jelas tergambar dari semua yang dipakai mereka, aku memilih untuk bungkam diam saja karna memang aku tak tahu siapa mereka.


Mereka menyapaku lalu masuk kedalam, sesaat kemudian mbak Ima pamit sebentar dan menyusul kedalam. Dia tadi bercerita rupanya lelaki itu adalah adiknya yang bernama mas Imam dan tentu wanita beruntung tadi istrinya. Mbak Ima menawariku untuk bergabung bersama sama dengan mereka, tapi aku tak cukup percaya diri berada diantara mereka, aku menolaknya secara halus sebagai gantinya Mbak Ima memintaku beristirahat dikamarnya sambil menunggu luka lukaku mengering katanya.


Entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu menahu, aku rebahan dikasur empuk Mbak Ima, ah rasanya tubuhku rileks sekali, memang efek serempetan itu membuat tubuhku kaku dan memar sehingga rebahan seperti ini terasa sangat nikmat sekali hingga aku sudah terbuai mimpi. Dan betapa malunya aku Karna ketika aku terbangun hari sudah sore, aku langsung keluar kamar bertepatan dengan Mbak Ima yang akan masuk kekamar.


"gimana Mbak sudah lebih baikan belum?


ya kuputuskan saja untuk tidak keluar kamar kami berbincang bincang ditepi kamar, Mbak Ima menanyakan dimana rumahku dia akan mengantarkanku pulang katanya.

__ADS_1


Akhirnya aku menceritakan niat awalku pergi kekota dan semua rentetan peristiwa yang aku alami, kulihat raut wajah Mbak Ima yg tampak iba kepadaku, apalagi dia sudah menyerempetku tadi. Dia memintaku untuk tetap dikamar dan kemudian pamit keluar sebentar, beberapa menit setelahnya Mbak Ima masuk kembali dan mengajakku keluar, ternyata Mbak Ima menawariku untuk berkerja dirumah adiknya pekerjaannya kurasa cocok membantu mengurus anak dan tentunya mengerjakan urusan pekerjaan art lainya, aku tentu saja sangat sangat setuju.


Dan disinilah aku sekarang , duduk dimobil mewah menuju rumah Pak Imam dan Bu Asiyah majikan baruku.


__ADS_2