
Hidupku seperti telur diujung tanduk sekarang.Dan ini semua gara-gara juniorku yang sering berontak tidak bisa diajak kompromi, aku benar benar tidak bisa berfikir apa yang harus kulakukan sekarang. Entahlah kenapa aku sendiri justru merusak kesempurnaan dalam hidupku, kenapa dulu tak berfikir sejauh ini akhirnya sekarang aku sendiri yang terkena imbasnya.
Siapa yang tak mengenal seorang Imam Irawan seorang lelaki yang terkenal Sholeh dan kaya, yah tapi itu imageku dulu, sekarang jangan tanyakan lagi, justru aku pusing karna harus menafkahi istri mudaku, untuk menceraikannya rasanya tidak mungkin karena dia sedang hamil anakku dan lagi rasanya aku sudah mulai sayang dengannya meskipun sifatnya jauh berbeda dari istriku Asiyah.
Ditambah lagi ibuku yang terus saja menghujat dan memarahiku, kepalaku seperti mau pecah memikirkan masalah ini, semenjak ibu tau aku tidak memiliki apa apa ibu jadi sensitif sekali terhadapku, menyalahkan apapun yang aku lakukan, padahal seingatku dulu waktu aku memperkenalkan Rumi sebagai istri keduaku ibuku tidak melarangku dia justru suka kalau Rumi kuajak menginap karna ada yang memasak dan membantu membereskan rumah katanya.
Tempo hari saat dari rumah ibu, Asiyah memilih pulang kerumah orangtuanya, Ayesa sepertinya mengerti kalau keluarga kami sedang tidak baik baik saja, dia terus saja rewel dan memanggil bundanya akhirnya kami menjemput Asiyah dirumah orang tuanya.
Sesampai dirumah sesudah Asiyah menidurkan Ayesa alangkah terkejutnya diriku ketika dia meminta mengakhiri rumah tangga ini secara baik baik, aku tentu saja sangat terkejut, jangankan untuk berfikir untuk bicara saja rasanya sulit sekali, akhirnya aku hanya memilih untuk diam, sampai keesokan harinya pun aku tetap terdiam.
Hari ini jadwalku kekontrakan Rumi, aku sebenarnya tak bersemangat pergi kemanapun tapi aku tetap harus pergi, sampai dikontrakan Rumi pun aku memilih rebahan saja.
"mas ini kenapa sih dari tadi kok lemes banget kelihatanya gak semangat gitu"
__ADS_1
"gimana mau semangat dek, semalam Asiyah meminta cerai"
"ya udah sih mas gak papa cerai aja kan mas juga masih ada aku dan anak kita"
"gak segampang itu dek, mas sudah 8tahun bersamanya tak semudah itu untuk berpisah mas mencintai kalian berdua rasanya gak bisa kalau harus kehilangan salah satunya"
"mungkin yang mas maksut itu mencintai hartanya kan?"
"dek jangan ngomong kayak gitu"
"dek aku memang miskin tapi sekarang yang kurasakan aku jauh lebih membutuhkan Asiyah daripada membutuhkan uangnya"
"mas percayalah aku bisa menjadi satu satunya istri yang terbaik untukmu, kita bisa memulai semua dari awal untuk kehidupan kedepan yang lebih baik, kita bisa membuka usaha dan mengelolanya bersama nanti"
__ADS_1
"apa kamu yakin dek kamu akan setia meskipun aku sudah jatuh miskin?"
"tentu saja mas, apa aku terlihat seperti perempuan matre?"
"ya bukanya begitu dek, nyatanya seberapapun uang yang kuberikan selalu kauhabiskan"
"itukan pas mas Imam punya banyak uang kalau gak punya uang ya aku pasti berhemat lah mas, lihat saja aku tadi makan hanya lauk tempe goreng padahalkan aku ini sedang hamil anakmu mas, tidakkah kamu kasihan dengan anak kita? sudahlah mas terima saja jika memang mbak Asiyah meminta cerai, dan jangan lupa untuk menuntut pembagian harta gono gininya"
" maaf dek, maafkan mas, maaf untuk semuanya, maaf juga karna aku tetap akan mempertahankan rumah tanggaku dengan Asiyah"
Percakapanku dengan Rumi bukanya meringankan beban pikiranku tapi justru malah semakin membuat kepalaku pusing, pikirannya selalu tak jauh jauh dari uang, ya dia bilang akan memulai semua dari awal, tapi aku yakin begitu uang dari pembagian harta gono gini habis dia akan kembali pada sifatnya bahkan mungkin juga akan meminta cerai dariku. Yang kuherankan dia sebenarnya sudah terbiasa hidup susah dulu tapi mengapa denganku selalu menuntut harta yang banyak. Akhir akhir ini sifat buruknya benar benar semakin terlihat ketika aku dalam keadaan tak mempunyai uang.
Ah aku masih bingung bagaimana caranya agar Asiyah tak jadi menggugat cerai, kalaupun akhirnya aku harus memilih ya meskipun berat tapi aku akan memilih Asiyah tapi Asiyah sepertinya sudah terlihat terbiasa tanpaku, jelas saja hal yang mudah darinya, perempuan cantik menarik Sholehah dan sukses tentu tanpa aku dia tidak akan kehilangan apapun, yaaa bodohnya diriku rasanya aku telah menyia nyiakan berlian demi batu kali.
__ADS_1
Mungkin besok sebaiknya aku kerumah mertuaku, mengingat kemaren pembicaraanku dengan ibu mertuaku itu belum selesai, aku harus meminta maaf dengan tulus kepada mereka, ya semoga mereka masih bisa memaafkannya dan mendukung Asiyah untuk mempertahankan rumah tangganya.