
"Hanya kamu bilang Rum? hanya obat tidur tapi kamu berikan kepadanya setiap hari, apa kamu gak mikir kalo itu gak baik untuk kesehatannya?"
"Lalu menurutmu aku harus seperti apa mas? lelah mengurus rumah seharian, mengurusi anakmu dan masih harus melayani nafsu bejatmu itu tapi justru aku tak mendapat pengakuan? istri pertamamu bisa dengan santai hidup bermewah-mewah sementara istri keduamu lelah mengurusi semuanya tapi bahkan untuk makan pun sekarang aku harus prihatin, itukah yang dinamakan adil mas?"
"Cukup Rumi kamu sudah keterlaluan, awas saja kalau sampai terjadi apa apa dengan anakku!"
"Kamu bahkan lupa mas kalau disini juga ada anakmu."
"ehhmmmm, boleh aku bicara mbak mas?"
"mbak Rumi aku sungguh heran kenapa kamu bisa ngomong aku istrimu bukan babumu, maaf mbak bukannya mbak Rumi itu memang pembantu kami? Dan ingat mbak setiap tetes keringat karna kamu lelah mengurus rumah dan Ayesa bukankah aku membayarnya mbak, bahkan aku sering membayar lebih dari perjanjian kita. Aku tidak tau mbak apa yang ada dipikiranmu, dulu kami sudah berbaik hati menjadikanmu pembantu tapi kamu justru menginginkan lebih hingga merebut suamiku, apa kau pikir menikah dengan mas Imam akan membuatmu menjadi nyonya besar, nyatanya kehidupanmu bahkan lebih buruk ketimbang waktu kamu masih jadi pembantuku, aku jadi kasian dengan keluargamu dikampung sana mbak."
Jangan tanya lagi dengan perasaanku, ingin sekali aku menampar dan menjambak jambaknya kalau aku tak punya hati nurani.
"mbak bukannya begitu tapi status kita sama mbak, sama sama istri mas Imam harusnya mas Imam berlaku adil kepada kita berdua."
"kamu yakin ingin diperlakukan adil oleh mas Imam? apa kamu akan sanggup mbak jika anakmu lahir nanti kamu harus berkeliling menjajakan donat, setiap hari menggendong anak dan membawa dagangan dan hanya bermodalkan 20rb eh 30 rb? bahkan kondisi hamil seperti inipun tidak selalu bisa makan, apa kamu akan sanggup mbak diperlakukan adil oleh mas Imam, dan apa katamu mbak aku hidup santai bermewah-mewah kamu bilang mbak? ketahuilah mbak saat kalian bercinta dirumahku saat kamu mencoba coba baju dan lingerie milikku saat itu juga aku sedang bekerja keras mengumpulkan pundi pundi receh yang pada akhirnya malah kalian habiskan, apa itu menurutmu definisi adil mbak, dan sekarang anakku juga kau jadikan korban, jika kamu menginginkan keadilan maukah jika nanti anakmu juga kuracuni saja mbak, dengar mbak aku dari awal tetap menghormatimu sebagai maduku bahkan untuk sekedar memanggilmu Rum saja lidahku kelu, aku sudah ikhlas menerima tapi nyatanya kamu sudah sangat keterlaluan mbak, ya sudah lebih baik aku kerumah sakit saja daripada disini dan mungkin sebentar lagi kesabaranku habis aku tak tau apa yang akan kulakukan terhadapmu, ingat mbak jangan bermain api jika tak ingin terbakar, tapi justru kamu sendiri yang sudah memantikkan api itu."
Aku berjalan melewati mereka menuju motorku, lebih baik aku kerumah sakit saja setelah Ayesa baikan baru aku akan mencari bukti bukti kejahatan wanita ular itu, aku yakin ada hal lain yang disembunyikannya.
__ADS_1
Kulihat mas Imam mengekoriku dia akan mengantarkan ku kerumah sakit katanya.
Sesampai dirumah sakit Ayesa terlihat lebih ceria, ya semangat gadis kecil itu untuk sembuh begitu besar, dia ingin kembali sehat, meskipun jelas sekali terlihat tubuhnya masih lemas tapi dia tidak menampakkan kelemahan itu sedikitpun. Mas Imam hanya masuk sebentar dan memastikan keadaan Ayesa baik baik saja kemudian pamit dan bergegas pergi.
"mas pergi dulu ya dek, ada urusan sebentar, nanti sore atau agak malam mas kesini lagi buat jagain Ayesa."
"Mau pergi kemana mas memangnya, Ayesa sedang membutuhkan ayahnya tapi kamu malah pergi begitu saja."
"ada pokoknya dek, nanti saja tak kasih tau kalau sudah beres."
"nah anak ayah yang paling pintar ayah pamit dulu sebentar ya, sekarang ditemani bunda sama uti dan akung dulu ya."
"Iya sayang nanti pasti ayah kesini lagi kok."
"Beneran ya yah, Yesa pengen ditemenin ayah sama bunda lagi kayak kemaren."
"Iya sayang ayah janji."
"ya udah deh yah hati hati ya."
__ADS_1
"Pak buk pamit dulu ya, nitip Ayesa sebentar."
Mas Imam pamit pergi sambil mengecup kening Ayesa dan sedikit mengacak rambutnya, setelah itu langsung bersalaman dengan ibu dan bapak.
Selepas kepergiannya aku hanya bertiga dengan bapak dan ibuk, kata mereka mertuaku tadi sudah langsung pulang.
"Memangnya tadi kamu habis darimana nak."
Aku bingung apakah harus menceritakannya pada ibu atau tidak tentang penyebab Ayesa menjadi seperti ini, kalau aku menceritakannya aku takut ibu terlalu banyak beban pikiran tapi kalau tidak aku ceritakan rasanya seperti ada yang kurang.
"lha ditanyain kok malah melamun Ki piye to?"
"Eh anu bu gak apa apa ada urusan sebentar."
"Lha sebenarnya cucuku itu sakit apa to nak, kok bisa tadi tiba tiba pingsan dan sampai diopname seperti ini."
"Gak kenapa napa kok buk, kelelahan saja jadi mesti banyak istirahat, doakan saja cepat sehat kembali."
"Lha ya sudah pastilah nak kalo itu, kemaren itu perasaan berangkat sekolah diantar Nisa dia masih sehat sehat kok."
__ADS_1
Biarlah sengaja aku belum kasih tau mereka penyebabnya, nanti pelan pelan akan kujelaskan kalau keadaannya sudah membaik, lagipula Ayesa bisa mendengar pembicaraanku dengan ibu aku takut nanti malah dia juga jadi kepikiran yang tidak tidak.