PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
PANTAI


__ADS_3

Siang ini juga budhe Rus datang kujelaskan dulu apa apa yang harus dia kerjakan, Budhe datang bersama pakdhe biar pakdhe bantu bantu sekaligus bisa jaga rumah ini. Selama ini mas Imam melarangku mencari satpam atau sopir ternyata kini aku tau alasanya.


Setelah urusan dirumah beres aku dan mas Imam lekas bersiap untuk berangkat, kami akan menjemput Ayesa terlebih dahulu. Aku yakin dia pasti akan sangat senang. Aku merasa bersalah terhadap putriku karna beberapa hari ini tidak fokus mengurusnya.


Sesampai dirumah ibu aku mengutarakan niatku, ibu langsung menyetujuinya katanya sesekali memang butuh refreshing sedangkan Ayesa tentu saja sangat antusias dengan rencana kami dia begitu semangat dan langsung bersiap.


Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami tiba dipantai, diperjalan Ayesa benar benar terlihat sangat bahagia. kami langsung istirahat sebentar dihotel yang sudah dipesan mas Imam tadi. Rencananya selepas sholat ashar kami akan langsung turun kebawah, tapi badanku masih capek dan belum beranjak dari kasur. Sengaja aku minta pesankan satu kamar saja dengan ranjang king bed size agar bisa tidur bertiga, aku ingin benar benar menikmati kebersamaan kami.


Ayesa dan mas Imam sudah turun dari tadi, sementara aku masih memainkan gawaiku sebentar sekedar mengecek akun sosial mediaku karna kemaren kemaren aku bahkan tak sempat memegang hp. samar sama kudengar Ayesa dan mas Imam berteriak, aku menuju balkon dan ternyata mereka mengajakku turun.


Terlihat sekali Ayesa benar benar bahagia, dia bermain air bersama ayahnya, aku duduk ditepi sambil menanti guyuran ombak datang.


"Bundaaaa....... hahhh capek sekali rasanya bun"


Ayesa tiba tiba berlari kearahku dia duduk disampingku dan kemudian mas Imam menyusul duduk di sebelah kami. kusodorkan minum kepada mereka.


"Oh jadi Ayesa capek main dipantai, kalau gitu kita pulang aja gimana?"


kulihat Ayesa langsung cemberut mendengar penawaranku, tentu saja aku hanya bercanda.


"Ihhh bunda kok gitu sih"

__ADS_1


"Iya sayang bunda cuma bercanda kok maaf ya"


"Terimakasih yah bun udah ngajakin Yesa main kepantai, Yesa bahagia banget bisa kayak gini sama Ayah sama bunda"


Ayesa memeluk kami berdua, mendengar anak kami mengatakan ini air mataku sudah hampir tumpah kalau mas Imam tidak segera mengusapnya.


"Apapun akan Ayah lakukan untuk kalian berdua agar kalian bahagia"


Mas Imam menatapku lekat, aku tau kami sama sama merasa bersalah dengan Ayesa. Satu hal tak akan kubiarkan siapapun menyakiti anakku


"Eh bun gimana kalau kita gak usah tidur dihotel aja"


"Lah terus kita tidur dimana sayang"


"Ayah ikut bunda aja deh kalau bunda setuju nanti ayah setuju, tapi kayaknya idemu bagus juga"


"Yeeeeeyyyyyy gimana bun setuju kan, itu ayah juga udah setuju"


"Ya udah Ayah pesan tenda dulu ya sekalian minta tolong dipasangin takutnya nanti malam"


"Ya mas, aku sama Ayesa mau mandi dulu keburu maghrib nanti kita langsung kemushola deket hotel ya mas, nanti langsung nyusul kesana saja"

__ADS_1


Selepas sholat maghrib kami langsung menuju kemeja, tadi aku sudah memesan ikan lengkap dengan bakaran dan ***** bengeknya, rencananya kami akan membakar ikan malam ini, ternyata setelah kami sampai ditenda semuanya sudah lengkap.


Rasanya seperti tak ingin malam ini berakhir, kami menikmati ikan yang kami bakar tadi disamping tenda dan selesai tepat saat adzan isya' terdengar. Setelah sholat katanya Ayesa ingin langsung tidur. Mungkin kelelahan karna bermain air tadi pikirku. Kutemani Ayesa tidur sebentar, sementara mas Imam pamit sebentar, mungkin menghubungi istri barunya, biarlah aku sedang tak ingin memikirkan dia sekarang.


Setelah kupastikan Ayesa benar benar terlelap disinilah aku sekarang berdiri dibibir pantai, kuhirup udara malam yang rasanya begitu menengkan sambil kurentangkan tangan. Aku terkejut ketika kurasakan sebuah tangan melingkar diperutku tapi kemudian aku tersadar kalau itu mas Imam setelah dia menyenderkan kepalanya kebahuku. Rasanya benar benar tak ingin ini berakhir.


Dia menuntunku menuju kedepan tenda dari jauh kulihat samar samar cahaya lilin, aku sedikit terkejut rupanya mas Imam tadi menyusun lilin dengan bentuk hati didepan tenda.


"I love u Asiyah aku mencintaimu sampai kapanpun, terimakasih sudah menemaniku melewati suka dan duka selama ini"


"love you too mas"


Kami duduk didepan tenda sambil memandang indahnya suasana pantai dimalam hari, tak salah Ayesa tadi mengusulkan untuk bermalam ditenda.


"Mas apa kita bisa tetap seperti ini selamanya"


kusandarkan kepalaku kebahu mas Imam dan dia merengkuh tubuhku.


"Tentu saja sayang kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku mencintaimu tapi aku takut mas, cintamu sekarang sudah terbagi, aku takut ini akan berakhir"

__ADS_1


"Ssstttt jangan bicara seperti itu dek, aku mencintaimu, kamu dan Ayesa adalah harta mas yang paling berharga"


__ADS_2