PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
BERTEMU MANTAN


__ADS_3

Hari ketiga dirumah ibu rencananya aku ingin pergi ke toko, mengingat sudah lama aku tidak mengecek toko secara langsung, selama ini aku hanya mengontrol lewat hp saja dan menyerahkan semua pada orang kepercayaanku.


Akhir akhir ini omset toko utama memang sedikit menurun karna banyak pelanggan menginginkan aku yang membuat rotinya secara langsung sementara sudah beberapa minggu aku tidak turun tangan jadi ada beberapa pelanggan yang katanya memilih berhenti belanja kue dulu untuk sementara waktu dan akan menunggu aku yang membuatnya lagi, hari ini aku hanya akan kesana untuk mengecek saja, sambil mengambil beberapa berkas yang dibutuhkan untuk menggugat cerai mas Imam, mungkin besok atau lusa aku akan kepengadilan untuk mengajukan berkas perceraian, kali ini aku sudah mantap, biarlah mas Imam seutuhnya menjadi milik Rumi dan mereka bahagia, aku tak ingin menjadi duri bagi mereka meski sebenarnya dengan mengikhlaskannya aku berarti sudah kalah dengan Rumi.


Sedikit berat memang, ya bagaimanapun juga dia ayah dari anakku tetap saja di hatiku masih terbersit cinta tapi perempuan mana yang bisa bertahan jika dalam kondisi seperti ini, ya tak ada lagi alasan untukku bertahan, semalam orangtuaku juga sudah menyetujui kalau aku ingin bercerai, perihal Ayesa nanti bisa kujelasakan pelan pelan dan kuyakin anak itu akan mengerti nantinya.


Esok harinya aku pergi ke toko menggunakan motor yang dulu kuberikan pada Rini, ah mengingat gadis itu sebenarnya aku sedikit iba tapi biarlah mengingat mereka saja tak punya perasaan terhadapku, entah bagaimana kabar mereka sekarang aku tak tau.


Sesampai di toko aku seperti mendapat energi baru, ya karyawan karyawan toko sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, mereka sangat antusias aku sudah kembali ke toko.


Aku sedang mengecek stok kue dan roti yang ada di etalase ketika tiba tiba kurasakan bajuku ditarik tarik kebawah oleh seseorang.


"Tante tante" ah rupanya ada anak kecil batinku, lucu sekali dia, usianya kurang lebih 5 tahunan kalau perkiraanku.


"iya sayang ada yang bisa Tante bantu?


"aku mau beliin kue untuk umiku Tante menurut Tante bagusnya yang mana?"


"nah sini biar Tante gendong adek lihat sendiri kira kira uminya suka yang mana"


"aku lupa namanya kue apa tante hehehe, umiku sudah disyurga tapi aku kangen, kata Abi boleh beli kue kesukaan umi untuk mengobati kangenku"

__ADS_1


Degh, anak ini mengingatkanku pada Ayesa saja.


"Ya sudah adek ingat ingat dulu namanya kue apa nanti Tante bantu pilihkan"


"coba Tante tolong gendong aku ya siapa tau kalau lihat bentuknya aku jadi ingat hehee"


"ya sudah sini Tante gendong"


"nahhhh bener kan Tante kayaknya yang kayak gitu Tante, aku tunggu Abi dulu aja deh Tante tadi lagi telepon diluar"


"ya sudah anak ganteng sini biar Tante temenin dulu"


"Razka sudah pilih kuenya belum nak"


"udah Abi ni dibantuin Tante cantik, kuenya kayaknya enak enak semua ya Bi"


Betapa terkejutnya ketika aku menengok pria disampingnya Razka dan kuyakin dari sorot matanya dia juga sama terkejutnya denganku.


"mas Rifai"


"dek Hana"

__ADS_1


Ya dia mas Rifai mantanku yang dulu terpaksa kuputuskan karna aku dijodohkan oleh ibuku.


Sekilas ada desiran aneh dihatiku, aku lekas menunduk dan beristighfar, kami tak banyak bicara karna dia langsung pamit begitu saja.


"dadaaa Tante cantik besok besok aku beli kue kesini lagi ya tante"


"dadaaa anak pintar"


Aku masih terus beristighfar karna pikiranku jadi tidak fokus, ya diotakku kini malah teringat kenangan kenangan kami dulu, mas Rifai masih sama seperti dulu kalem dan sederhana tapi tetap berwibawa, istighfar Asiyah sadar kamu masih jadi suami orang.


Aku lalu membantu membuat adonan untuk mengalihkan fokus ku. Hingga tak terasa sudah setengah hari aku berada di toko, aku melanjutkan niat awalku menuju ruangan ku dan mengambil berkas berkas yang kubutuhkan. Lalu sejenak aku berpikiran kenapa harus menunggu besok jika sekarang saja sudah bisa.


Akhirnya disinilah aku sekarang, didepan gedung pengadilan, ya aku sudah memutuskan untuk mendaftarkan gugatan ceraiku hari ini saja, karna besok pagi aku sudah harus pulang kerumah dan mas Imam besok jadwal kerumahku, jika aku berangkat besok otomatis mas Imam akan mengetahui dan mencegahku jadi ya kurasa mendaftar sekarang akan lebih baik. Biar saja mas Imam tidak tau apa apa, kupastikan dia nanti akan kaget mendapat surat sidang dari pengadilan.


Keluar dari pengadilan entah mengapa rasanya hatiku sedikit lega, ya meskipun baru mendaftarkan berkas berkasnya tapi harapan harapan indah sudah tergambar jelas di mataku, meski aku yakin status janda bukan hal yang mudah tapi aku percaya aku pasti bisa melewati ini dengan baik.


Tak kupungkiri sedikit senyum tergambar di bibirku, ya sebentar lagi aku akan bebas.


Segera kulakukan motorku menuju kerumah ibu, namun baru beberapa meter kurasakan gawaiku terus terusan berdering, kuputuskan untuk berhenti dan mengecek siapa yang menelepon. Ternyata wali kelas Ayesa, tumben sekali, ada apa guru Ayesa menelepon padahal belum jadwalnya pulang.


Seketika gawaiku terhempas ketanah manakala kudengar kabar dari wali kelas Ayesa bahwa Ayesa pingsan tak sadarkan diri dan dilarikan kerumah sakit, Ya Allah cobaan apa lagi ini

__ADS_1


__ADS_2