
"Sudah berapa lama aku menjadi orang bodoh dirumah ini mas?
Ya meskipun rasanya aku masih belum sanggup aku harus tegar, kuyakinkan diriku dan disinilah kami bertiga sebelum Ayesa pulang, meski sakit aku ingin mendengar langsung seberapa jauh mereka menghianatiku
"Apa kurangku mas, hingga kamu begitu tega menghianatiku"
"Aku minta maaf sayang, sungguh tak ada satupun yang kurang darimu, kamu wanita kuat dan aku sangat bersyukur memiliki istri sepertimu"
Kutatap Mbak Rumi dia hanya menunduk, entah perempuan macam apa dia, didepanku dia benar benar perempuan kampung yg lugu dan polos, penampilanya sederhana sangat sederhana tapi itu didepanku aku tak tahu jika dibelakangku seperti apa hingga membuat mas Imam rela menghianatiku.
"Tapi aku tak berzina denganya dek, aku menghindarinya makanya kami memilih menikah siri setahun ini, aku minta maaf"
__ADS_1
"Kau tak berzina tapi tega menghianati dan menyakiti istrimu mas, apakah menurutmu itu perbuatan yg disukai Allah"
Mati matian aku berusaha agar tak menangis didepanya aku memang perempuan lemah yang mudah menangis tapi entah kenapa ada dorongan yang meyakinkanku bahwa aku harus tegar.
"Sedikitpun aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi sayang, aku tidak tau harus menjelaskan semua dari mana"
"Jangan munafik mas semua ini tidak akan terjadi jika memang kamu tidak menginginkanya"
Ya aku mengingat peristiwa itu dulu aku benar benar bahagia Karna aku merasa Mas Imam benar benar menginginkanku, aku masih ingat dengan jelas bahkan mas Imam sering tidak sabar untuk sekedar menunggu sampai dirumah akhirnya kami check in dihotel dekat toko hingga menjadi langganan tetap dihotel itu Karna selama beberapa minggu hampir tiap hari kami kesana, rupanya bukan sepenuhnya aku yg mas Imam inginkan, rupanya aku hanya pelampiasanya saja.
Pertahananku benar benar runtuh aku tak sanggup lagi membendung air mataku.
__ADS_1
"Dek kamu tidak apa apa? mas hentikan saja ceritanya ya sayang, mas minta maaf"
"Lanjutkan mas, jangan ada lagi yg kalian sembunyikan dariku meskipun itu hanya hal kecil"
Ya aku harus kuat, meskipun sakit aku akan mendengarkan pengakuanya sejauh mana mereka bersenang senang dibelakangku ketika aku melawan letih berkutat dengan aneka adonan kue, tak kusangka sungguh miris nasibku, ketika tengah berjuang agar masa depan kami bisa jauh lebih baik justru suamiku menikmati hari harinya diranjang
perempuan lain.
"Kamu ingat dek ketika ada perusahaan besar yg mengajak kerja sama dengan toko kue kita, selama dua minggu perusahaan itu memesan kue dengan jumlah yg tidak sedikit dan memberikan syarat harus kamu sendiri yg membuat, saat itulah aku benar benar frustasi, setiap aku mengiginkan dan mendatangimu ke toko tapi kamu tak sempat, padahal aku benar benar sudah diubun ubun dek, sudah beberapa hari dan hasratku tidak tersalurkan mungkin kamu menganggapnya sepele tapi aku tak berbohong entah kenapa hasratku benar benar memuncak, aku pulang dengan keadaan kacau, saat itulah aku melihat Rumi dirumah dia membuatkanku minum dan makan seperti biasa, aku benar benar tidak tahan untuk tidak menyentuhnya dek tapi aku masih tau batas, tapi mungkin karna kewarasanku sudah hilang aku langsung menawarinya untuk menikah siri denganku hari itu juga, awalnya Rumi memang menolak tapi aku bilang untuk mencegah zina meskipun sebatas zina mata akhirnya dia mau, dan siang itu juga aku mencari penghulu untuk menikahkan kami, sekali lagi maafkan aku dek bukan maksudku untuk menghianatimu, aku memang bodoh dibutakan oleh nafsu tapi sungguh aku tidak bisa menghindar waktu itu"
Oh Tuhan aku tak menyangka akan sesakit ini rasanya, kupukul dadaku yang terasa sungguh sesak, ingin aku berteriak sekeras mungkin, kulirik sekilas mas Imam menunduk meneteskan air mata, aku tak sanggup ya Allah sungguh aku tak sanggup aku menggebrak meja sekuat yang kubisa lalu melenggang melewati mereka, aku ingin sendiri, kupustuskan menaiki tangga dan masuk kekamar saja tak kuhiraukan panggilan bujuk rayu mas Imam kini haiku telah mati, aku hanya membalasnya untuk segera menjemput Ayesa, ya hanya Ayesa kekuatanku saat ini . Aku harus kuat demi dia demi putriku demi masa depan putriku, kuambil air wudhu dan sholat untuk sekedar menenangkan hatiku, kucurahkan semua yang kurasakan diatas sajadahku, entah sudah berapa lama aku menangis yg pasti hatiku terasa lebih lega, aku harus memikirkan langkah apa yg harus kuambil kedepanya.
__ADS_1