PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
Ayesa Kenapa


__ADS_3

Setalah mendapat kabar dari wali kelas Ayesa aku langsung menuju rumah sakit yang dikatakan, sebelumnya aku wa Nisa terlebih dahulu untuk memberi kabar kalau aku langsung ke rumah sakit dan meminta Nisa serta ibu dan bapak agar segera menyusul ku.


Sesampai dirumah sakit Ayesa masih belum sadarkan diri dan dirawat diUGD ditunggu wali kelas dan seorang guru lainnya.


Lemas sekali rasanya tubuhku, apa yang terjadi dengan Ayesa kenapa, jangan jangan dia terkena sesuatu, segala kemungkinan buruk melintas di pikiranku , ibu mana yang tidak berpikiran seperti itu jika keadaan anak yang semula baik baik saja tiba tiba pingsan disekolah.


"Tadi waktu pelajaran matematika kata guru yang mengajar Ayesa terlihat pucat Bu Asiyah, karna Ayesa diam saja Bu Windi mendekatinya badannya panas katanya merasa pusing dan tubuhnya terlihat gemetar, Bu Windi rencananya akan mengajaknya ke UKS terlebih dulu baru kemudian akan menghubungi ibu untuk mengabarkan kalau anaknya sakit, tapi baru berdiri dari duduknya Ayesa tiba tiba pingsan dan langsung kami bawa ke rumah sakit terdekat."


"Terimakasih banyak ya buk sudah menolong anak saya dan maaf sudah banyak merepotkan ibu dan rekan rekan lainya."


"Tidak apa buk, ini juga sudah kewajiban kami selaku orang tua Ayesa disekolah, kalau begitu kami izin pulang dulu ya buk masih ada rapat komite semoga Ayesa lekas sehat kembali."


"Iya buk, sekali lagi terima kasih banyak, besok surat izin Ayesa akan saya susulkan buk."


Aku masih terduduk lemas setelah kepergiaan guru Ayesa tadi, aku pikir pikir lagi selama ini tidak ada yang aneh dengan Ayesa, tapi memang kadang dia mengeluh tidak bisa tidur dan kadang mengeluhkan sedikit pusing, tapi itu hanya sebentar karna anaknya kembali ceria lagi, jadi aku pikir itu bukan sesuatu yang serius, atau mungkin itu gejala awalnya, entahlah nanti menunggu pemeriksaan lanjutan dari dokter saja.


Bapak, ibu dan Nisa sampai dirumah sakit sudah agak malam, mereka juga terlihat kaget dengan keadaan Ayesa yang sebelumnya baik baik saja.

__ADS_1


Sesaat setelah kedatangan ibu, Ayesa mengigau menyebut nyebut nama ayahnya tapi masih tak sadarkan diri, dokter bilang alangkah lebih baik kalo ada ayahnya disini mungkin bisa mempercepat kesembuhannya.


Meskipun berat hati aku akhirnya menghubungi mas Imam dan memintanya datang kemari, sebenarnya aku sudah tidak ingin bertemu mas Imam lagi tapi demi Ayesa aku harus mengalahkan egoku, ya hanya demi kesembuhan Ayesa.


Bertepatan dengan ketukan pintu dari luar, saat itu juga Ayesa tersadar dan ternyata yang datang ayahnya Ayesa, Nisa langsung menghubungi dokter dan mengatakan kalau Ayesa sudah sadar.


Alhamdulillah betapa senangnya hatiku karna setelah tak sadarkan diri selama beberapa jam akhirnya Ayesa terbangun juga. Ingin segera kupeluk dan kucium anakku itu tapi dokter sedang memeriksanya.


Panasnya masih belum turun, Ayesa juga masih mengeluhkan pusing dikepalanya, dokter mengambil sampel darah untuk dicek di laboratorium.


Aku dan mas Imam langsung memeluk Ayesa kudekap dan kucium dia serta kubisikkan ribuan permintaan maaf karena telah lalai dalam menjaganya.


Karna yang boleh menjaga hanya 2 orang, malam ini sesuai keinginan Ayesa dia ingin ditemani ayah dan bundanya, ibu bapak dan Nisa kemudian pulang, besok pagi katanya akan berkunjung lagi.


Semalaman berdua dengan mas Imam rasanya canggung sekali, kami hanya bicara seperlunya membahas tentang Ayesa. Aku akhirnya memilih berbaring dan tidur di ranjang samping Ayesa, sementara mas Imam tidur di sofa.


Esoknya ketika jam besuk sudah dibuka ibuku dan bapak datang dan ternyata berbarengan dengan kedatangan kedua mertuaku.

__ADS_1


Aku tidak menyangka mereka akan datang, kata mas Imam dia yang menghubungi mertuaku katanya bagaimanapun Ayesa juga cucu mereka jadi kakek dan neneknya juga harus diberi tahu.


"Asiyah sebenarnya Ayesa kenapa sampai bisa masuk rumah sakit seperti ini."


"Masih belum tau Bu, semalam dokter sudah ambil sampel darahnya untuk dicek lebih lanjut tentang penyakit Ayesa, doakan saja semoga tidak terjadi apa apa dengan cucumu ini Buk."


"Itulah Asiyah, kalau Imam tidak ada Ayesa jadi tidak ada yang merawatkan, sudah lebih baik seperti kemaren saja keluarga kalian akan baik baik saja, Ayesa bisa dirawat Imam ketika kamu mengurusi toko."


Aku sungguh malas menjawabnya enak saja ibu mertuaku itu bisanya hanya menyalahkan. kalaupun memang mau menyalahkan seharusnya menyalahkan anaknya sendiri.


"Sudahlah buk ini bukan waktunya saling menyalahkan, kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa apa dengan Ayesa." mas Imam akhirnya yang menjawab kata kata pedas ibunya itu.


Jam pemeriksaan tiba dan dokter meminta orang tua Ayesa untuk mengikutinya. Akhirnya aku dan mas Imam mengikuti ke ruangan dokter, dokter memperlihatkan hasil tes laboratorium Ayesa yang aku sendiri tidak tahu artinya apa.


"apakah Ayesa sebelumnya mengidap Insomnia buk?"


"Tidak dok, hanya saja memang pernah akhir akhir ini dia mengeluh susah tidur, tapi sebelumnya tidak pernah, memangnya kenapa ya?"

__ADS_1


"atau kalau tidak obat apa yang sering dikonsumsi oleh Ayesa terakhir ini?"


__ADS_2