PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
PULANG


__ADS_3

Selepas mertuaku pulang aku dan ibu bapakku duduk mengobrol sambil menonton televisi.


Kali ini adikku juga sudah pulang, rasanya sudah lama sekali aku tidak ada diposisi seperti ini, sepertinya aku ingin tidur dirumah orang tuaku dulu untuk malam ini ya meskipun sebenarnya aku khawatir dengan Ayesa tapi tak apalah kupikir tak papa sekali kali biar Ayesa dirumah sama ayahnya.


Yahh sekalian biar Mas Imam tahu bagaimana rasanya mengurus anak meskipun cuma semalam saja.


"Kalo Nisa jadi mbak Iya, Nisa sih sudah pasti langsung gugat cerai tu laki pas awal ketauan mbak diduain, gak nunggu entar-entar langsung ke pengadilan pokoknya mah."


Nisa yang baru datang sambil bawa camilan dari dapur tiba tiba langsung komentari percakapan aku dan ibuk, dari kecil Nisa memang biasa memanggilku kak Iya.


"Hehhh kamu mah enak Dek cuma bayangin doang, coba kalo beneran kejadian pasti langsung nangis mewek terus guling-guling sambil panggil-panggil Ibuk hahahaha"


"Hiihh mana ada Mbak gaklah, lagian Nisa juga gak bakalan nyari laki yang kayak gitu" dia langsung melempar bantal karna gak terima ucapanku tadi dan langsung mencari pembelaan.


"Lagian kamu yang mulai katanya kalo punya suami kayak gitu langsung mau diceraiin lah kok sekarang bilangnya gak bakalan nyari suami kayak gitu, jelaslah dek kita kan gak bakalan tau apa yang terjadi dikemudian hari, mana ada orang yang sengaja nyari suami kayak gitu,stress itumah namanya"


"Udah-udah kalian itu jarang kumpul kumpul sekalinya kumpul kok gak pernah akur"


"Eh aku kan tadi cuma ngasih saran aja buk, Mbak Iya tuh yang mulai"


"Udah ah Dek aku males debat, Buk gimana ya baiknya cara jelasinnya ke Ayesa, selama ini aku masih berat ke dia soalnya"


"Kamu udah mantep mau pisah sama Imam nak"


"Insyaallah Buk, nanti Asiyah istiqoroh lagi gimana hasilnya, tapi kayaknya sih udah fix mau pisah buk udah gak ada lagi alasan buat bertahan soalnya"


Tok tok tok

__ADS_1


"Eh siapa sih malem-malem gini gangguin aja, tenang Buk biar Nisa aja yang bukain"


"eh ada ponakan tante yang paling cantik nih, sini-sini sama tante, kangen banget nih tante sama Yesa, masuk mas"


Hemmm ternyata Mas Imam yang datang kesini, aku pikir siapa, terlihat sekali dari nada Nisa kalau dia benar-benar benci dengan Mas imam.


"Assalamu'alaikum"


"wa'alaikumussalam, masuk Mam"


Ibuku memang hebat dia bicara dengan keadaan tenang tak sedikitpun terpancarkan kemarahan di wajahnya.


"Dek, Ayesa nyariin, tadi Mas tunggu tunggu adek belum pulang pulang padahal Ayesa udah hampir nangis tadi makanya aku ajak saja kesini"


"Pak Buk, Imam minta maaf ya Buk, Imam benar benar khilaf, Imam janji akan perbaiki semuanya"


"Mam Ibu dan Bapak yakin kamu paham betul tentang agama, jujur ibu gak habis fikir dengan apa yang kamu lakukan itu, kalau sudah begini Ibu bisa apa? Ibu kemaren benar benar kaget saat mendengar berita ini"


"Maafkan Imam Buk, Imam sadar betul Imam sudah salah besar, Imam janji buk akan berubah"


"Bundaaaaa, ayo pulang Bun. Yesa kangen banget ditemenin tidur sama bunda"


"Iya nak sebentar ya Yesa kedalam dulu sama tante ya Nak"


"gak mau Bun, mau pulang sekarang, Yesa sama Ayah kesini kan mau jemput bunda"


"Sudahlah Nak kalian pulang dulu saja, kasian Ayesa pasti sudah mengantuk juga"

__ADS_1


"Nak gimana kalau kita menginap dirumah Uti aja" Uti itu panggilan Ayesa ke neneknya.


"Gak mau Bun, ayo pulang Bun bareng sama Ayah"


"Iya iya ya sudah bunda beres beres dulu ya"


"Ye ye yeeeee"


Kulihat putriku itu senang sekali sepertinya keinginannya hanya sederhana, kalau bukan demi Ayesa aku pasti malas 1 mobil dengan Mas Imam.


"Pak Buk, kami pamit pulang dulu ya, insyaallah nanti kami main lagi melanjutkan obrolan yang belum selesai tadi"


"Nak untuk sementara lupakan semuanya dulu, jangan terlalu banyak pikiran fokus sama Ayesa dulu sudah beberapa hari dia tidak terurus dengan baik, Yesa besok kerumah uti lagi ya sayang itu kemaren Akungmu udah buatin rumah pohon kayak yang kemaren kamu minta"


"Yeeee asiikkk terimakasih ya kung, tapi sekarang Yesa pamit pulang dulu ya, assalamu'alaikum"


"hati-hati ya nak wa'alaikumussalam"


"Terimakasih ya Dek sudah mau ikut Mas pulang"


"Ini aku lakukan untuk Ayesa Mas"


"Iya tidak papa setidaknya kamu masih mau pulang bareng-bareng, maafkan Mas ya Dek, sehari saja tanpamu rasanya sudah begitu sulit, Mas gak bisa bayangin kalau adek pergi nanti akan seperti apa jadinya."


"Semua akan baik-baik saja mas, bukankah Rumi bisa mengurusi segalanya Mas, dia juga lebih muda lebih cantik dan pasti lebih seksi dibanding aku, kan? jadi masih kurang apa lagi coba?"


Aku tidak menjawab lagi, dijalanan aku memilih diam saja begitupun mas Imam meski begitu aku tau lelaki yang bergelar suamiku itu kerap diam-diam melirikku, sedangkan Ayesa sudah tertidur dipangkuanku, sepertinya dia kelelahan dan mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2