PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
Pergi


__ADS_3

"Sini mas mana jatah bulananku, kemaren kan mas sudah janji mau bagi rata nafkah buat aku sama Rumi kok sampe sekarang aku gak dikasih kasih, ini ntar sore Ayesa udah boleh pulang sekalian mana bayaran buat tagihan rumah sakit Ayesa."


Karna nanti Ayesa sudah boleh pulang mas Imam seharian ini ikut nunggu dirumah sakit katanya mau bantu bantu packing apa yang perlu dibawa pulang, sesekalilah kukerjai saja dia.


"Ya kamu kan juga tau dek mas belum ada kerjaan, bonsai yang tak jual borongan kemaren juga belum dibayar semua."


"Lah itu ada, belum dibayar semua itu berarti udah dicicil kan? mana mas masak kamu udah mau bohong lagi sih perasaan baru kemaren minta minta maaf terus eh udah buat kesalahan lagi."


"Dek mas bener bener gak pegang uang, itu cuma di DP sedikit itupun habis untuk bensin wira wiri."


"mana mungkin mas, emang kamu perginya bolak balik Jepang tiap hari nyampe ngabisin bensin segitunya, udah udah sini gak kasian apa nanti Ayesa gak bisa pulang kalau administrasinya gak diselesaikan."


"Dek mas bener bener gak pegang uang, nih tinggal 20ribu aja kalau mau."


"Ya elah mas itu buat makan kita berdua aja masih kurang apalagi buat bayar biaya rumah sakit."


"Nah itu tau kamu dek, makanya pakek uangmu aja dululah dek nanti kalo mas udah punya uang biar tak ganti."


"Enak aja pake uangku, mas tau kan suami menafkahi istri itu hukumnya wajib, dan mas juga tahu kan kalau poligami itu hukumnya cuma sunah. Terus kenapa mas malah ngelakuin yang sunah tapi meninggalkan kewajiban, itu sih sama aja bohong mas, ibaratnya kamu itu pake baju tapi gak pake celana."


"Ya kalo gak pake celananya didepan istri sendiri kan gak papa dek sah sah aja."


"Emang dasar omes ya mas kamu tuh, untung aja Ayesa masih tidur, lagian kalo mau ya sana didepan istri mudamu aja sana." sengaja kulempar bantal kearah mas Imam, emang pikirannya bener bener hal hal mesum terus.


"Enggak enggak dek mas becanda aja kok, jadi ini mana lagi yang dimasukin tas."


"Eh enak aja main ngalahin pertanyaan, jadi mana dulu uangnya."

__ADS_1


"Ya Allah dek mas kan udah bilang gak ada duit, nih yang mas punya cuma ini jadi tak kasih semua kekamu dek."mas Imam mendekat ke arahku dan menyerahkan selembar uang 20ribuan, ah yang benar saja dia.


"Eh enak aja mas, tega banget ya mas kamu sama aku, padahal masih untung aku bisa menerima pernikahanmu tapi kamu malah kayak gini, aku cuma minta hak Ayesa saja, mana yang katanya kemaren kamu sampai bersumpah kalau kamu menyayangi Ayesa, katanya sayang tapi anak masuk rumah sakit kok lepas tangan."


"Iya iya maaf dek maaf banget ya habisnya gimana lagi dek mas beneran gak ada uang."


"Oke biaya rumah sakit Ayesa aku yang bayar tapi kembalikan semua uangku yang sudah kamu berikan kepada Rumi mas, SE-MU-A-NYA." sengaja kutekankan dikata semuanyabiar dia tau.


"Hahhh bagaimana mungkin dek, kamu lihat sendiri mas saja bahkan cuma punya uang 20ribu mana mungkin bisa ngembaliin semua uang adek."


"Makanya mas kalo gak punya duit itu jangan sok sok.an bergaya, pake diam diam nikah segala gak taunya nafkahi bini muda pake uang istri tua gak malu tuhh?? pantes aja ya mas pengeluaran kita sedikit banyak ditahun terakhir ini, ternyata kamu kasih ke Rumi ya, aku jadi penasaran sudah kalian gunakan untuk apa uangku itu, untuk jalan jalan atau menyewa hotel, atau liburan dimana, aku gak mau tau ya mas pokoknya ganti uang yang kemaren."


"Tapi mas beneran gak pegang uang dek, nanti ya mas cicil kalo mas udah kerja." mas Imam mengatakanya sambil mengusap kasar kepalanya, frustasi.


"Eh mas, aku yakin pasti Rumi itu masih ada simpanan dari uang yang kemaren kemaren kamu kasih, atau kalau gak dia pasti beliin perhiasan dari uang aku, mana sini kembaliin perhiasannya."


Aku terus beristighfar karna rasanya emosi sekali, dadaku panas seperti terbakar mengingat semua yang telah mereka lakukan dirumahku. Tega teganya mas Imam berbuat seperti itu. Untunglah Ayesa sedang tidur jadi tak mendengarkan ku marah marah.


Sore harinya kami pulang dari rumah sakit, tapi kata dokter Ayesa tetap belum boleh banyak beraktivitas. Masih rentan karna belum pulih sepenuhnya. Kalau ada orang yang melihat pastilah keluargaku terlihat sempurna sekali tapi mereka tak tahu sedikitpun tentang apa yang kami alami, ya begitulah terkadang kehidupan wang sinawang kalau kata pepatah Jawa.


"Tapi Ayesa baru saja pulang dek, gak mungkin aku meninggalkannya."


Aku baru saja elesai mengantarkan Ayesa kekamar nya dan berniat masuk kekamar, tapi karna pintu kamar tak ditutup sempurna aku dengar dari luar kalau mas Imam menelepon seseorang.


"Tolonglah dek ngerti keadaanku, Ayesa belum pulih sepenuhnya, dia juga pengen ditemani ayahnya."


. . . .

__ADS_1


"Iya iya, besok aku usahakan."


. . . . . .


"Iya iya maaf jangan aneh aneh sebentar lagi aku akan kesana."


"Akan pergi kemana memangnya mas?"


"Eh anu dek itu emmm anu."


"Anu anu apaan mas?


"Rumi katanya perutnya kram sakit sekali dek, mas izin kesana ya dek sekarang."


"Gak, aku sama sekali gak izinin kesana meskipun cuma sebentar aja."


"Tapi kan dek kasihan dia lagi hamil dan sendirian."


"Owh begitu ya mas, jadi kamu gak kasihan Ayesa darah dagingku lagi sakit juga?"


"Bukan gitu dek Ayesa kan ada kamu, ada budhe Ris ada pakdhe juga, kalau Rumi kan sendirian, mas sebenernya udah laporin Rumi kepolisi tinggal nunggu panggilan saja, jadi mas mohon ijin mau ditempat Rumi dulu sampai dia dijemput polisi."


"Owh gitu mas, oke silahkan saja mas melangkah keluar dari rumah ini berarti mas pergi untuk selama lamanya, mudah saja tinggal kulanjutkan gugatan perceraian kemaren."


"Dek mas mohon jangan seperti ini, jika adek masih benci mas dan Rumi izinkan ini demi rasa kemanusiaan kasian Rumi yang lagi sendirian dan posisi hamil, maafkan mas dek mas akan tetap pergi."


"Oke mas ucapanku tidak main main, silahkan pergi dan tanggung konsekuensinya."

__ADS_1


__ADS_2