
"Mas harus gimana dek biar adek tidak mendiamkan mas terus seperti ini, tolong dek jangan diam terus itu sangat menyiksa mas"
"Kenapa mas? kenapa? apa mas fikir perbuatan mas ini membahagiakanku? apa jika aku bilang mas harus menceraikan wanita itu mas akan melakukanya?
"Kawab Mas? jangan diam saja, hahahaa lucunya aku ini tentu saja mas Imam tidak akan menceraikan wanita itu, mungkin sebentar lagi aku yang akan dibuangnya"
"Bukan seperti itu dek, mas memang tidak bisa menceraikanya, tapi itupun ada alasanya dek, maafkan mas ya dek"
"Jelas saja mas tidak mungkin menceraikanya karna mas sudah sangat mencintai wanita itu bukan?
"Maafkan mas dek, Rumi hamil dan mas jelas tidak bisa menceraikanya.
Aku tentu saja syok mendengarnya, aku benar benar tidak siap. Entah sejak kapan tepatnya tapi air mataku sudah berderai, aku benar benar tidak sanggup.
__ADS_1
"Kenapa Mas? kenapa mas melakukan ini padaku hiks hiks hikss, jika tidak bisa menceraikan dia ceraikan aku saja mas"
"Jangan ngomong seperti itu dek, mas tidak mungkin bisa melepaskanmu, mas sayang sama kamu, bagaimana nasib Ayesa jika kita bercerai dek, sampai kapanpun mas tidak akan menceraikanmu, mas pasti akan menceraikan Rumi tapi nanti setelah anaknya
lahir"
"Omong kosong macam apa itu mas, setelah anak wanita itu lahir kamu juga akan menggunakan kata yang sama, kasihan anaknya jika kalian bercerai"
"Dek mas benar benar minta maaf tapi tolong ridhoilah agar mas bisa tenang"
Dia diam saja, aku melewatinya, aku teringat disudut sudut rumah ini ada kamera tersembunyi dan karna tidak ada hal yang mencurigakan sudah 2 tahun lebih aku tidak mengeceknya.
Aku mencoba mengecek dihari yang diceritakan mas Imam tepatnya setahun yang lalu. Sakitt sekali rasanya hatiku melihat aktifitas apa yang mereka lakukan, aku seperti tidak mampu lagi melihatnya, tapi aku harus aku ingin tahu seberapa jauh yang mereka lakukan dirumahku. Rupanya mas Imam selalu membantu mengerjakan perkerjaan rumah dan mereka melewati hari dengan bahagia disaat aku bekerja keras melawan lelah ditoko, mirisnya nasibku.
__ADS_1
Dihari yang lain ada satu peristiwa yang membuat darahku benar benar mendidih, bagaimana tidak aku melihat mas Imam menggendong wanita itu ala bridal style dengan mesranya kemudian naik menuju kamarku, dan yang paling parah setelah aku cek cctv dikamar wanita itu menggunakan lingeriku dan mereka melakukanya diranjang kamarku. Detik itu aku murka sekali benar benar murka, aku menggebrak meja melempar apa saja yang ada didekatku. Mas Imam datang dia tampak kaget melihat apa yang baru saja kulihat, aku memelototinya dengan amarah yang membara, naik menuju kamarku, kuacak acak seprei dan semua yang ada dalam tempat tidurku, kulempar semuanya, kuambil lingerieku dan kurobek robek sekuatku, aku tersungkur menangis sejadi jadinya. Mas Imam mencoba merengkuhku tapi selalu aku tepis, sakit sekali rasanya. Aku terus beristighfar agar meredakan amarahku dan tentu saja meredam sakit hatiku, mungkin aku tidak sesakit ini jika hanya mendengar tapi melihat video mereka dengan jelas bercumbu mesra dimanapun mereka berada dan terutama dikamarku itu membuatku hancur sehancur hancurnya.
Kudorong mas Imam keluar meskipun dia tak bergeming, aku melampiaskan amarahku dengan memukulnya sekuatku.
"Aku mohon mas tinggalkan aku sendiri"
Akhinya mas Imam keluar setelah tak mampu lagi membujukku. Wanita itu ah aku tak peduli lagi, dia lebih banyak dikamar setelah aku sindir sindir. Aku masih tidak habis fikir, ingin aku tidur tapi rasanya jijik sekali jika harus merebahkan diri diranjang ini, rasanya aku ingin pindah kamar saja, tapi dimana? mereka bahkan sudah mencoba setiap sudut dirumah initial.
Akhirnya kuputuskan untuk menuju kamar tepat disamping kamar utama disana berisi semua foto foto kenangan keluarga kami, kebetulan kunci kamar itu kutempatkan jadi satu dengan kunci toko jadi bisa kupastikan kamar ini aman dari kegiatan mereka.
Aku melihat foto kenangan kami dari mulai menikah sampai berada dititik ini, terlintas kembali suka duka hidup 8 tahun bersama mas Imam, aku pegang foto saat Ayesa lahir,
Tampak sekali keebahagiaan kami disana, kini Ayesa bahkan kurang perhatian, beberapa hari lalu Ayesa minta tidur dirumah eyangnya tentu saja aku bersyukur karna setidaknya disana untuk sementara waktu akan lebih baik baginya.
__ADS_1
Lelah sekali rasanya, aku rebahan sambil tetap memeluk foto kami bertiga sambil terus beristighfar. Aku harus memikirkan apa yang harus kulakukan kedepanya. Ini bukan hal mudah bagiku, sampai detik inipun aku merasa ini hanyalah mimpi. Berlama lama dirumah ini hanya akan membuatku sakit, tidak mungkin jika aku harus tinggal disini lagi tapi merelakan rumah ini ditinggali wanita tak tahu diri itu lebih tidak mungkin lagi, rumah ini terlalu banyak kenangan. Maafkan aku mas ternyata aku tak mampu berbagi hati.