
"Sudahlah buk mau sampai kalian nangis darah pun aku sudah tidak sudi untuk peduli lagi sekarang"
"Dek jangan seperti itu sama ibuk, dia juga kan tetap jadi ibu kamu, berdirilah buk jangan kau lakukan itu."
"Ibu macam apa mas yang tega dengan anaknya, dan kamu aku sudah muak mas denganmu mati sudah rasaku untukmu, dulu aku benar benar menghargaimu dan aku sadar betul posisiku sebagai istrimu harus seperti apa, tapi sekarang aku jadi ragu sendiri apa kamu masih pantas disebut sebagai suami? Diluar sana orang lain mungkin memandangmu sebagai sosok suami yang penyayang sholeh dan bertanggung jawab mas, tapi mereka hanya melihat sekilas dari penampilanmu saja aku yakin kalau mereka mengetahui betapa busuk hatimu sudah pasti akan banyak hujatan untukmu"
"Sudahlah mari hentikan saja semua drama ini, besok pagi akan ada orang yang mengambil barang-barangku kesini, dan untuk kamu Mas Imam bersiaplah, aku akan menunggumu dipengadilan."
"Asiyah bukankah perceraian itu dibenci Allah? sudahlah ini semua masih bisa diperbaiki, kami semua benar-benar minta maaf atas apa yang kami lakukan, jika memang kamu tidak terima, biar nanti ibuk yang bilang ke Imam agar menceraikan Rumi"
__ADS_1
"Hahahahaa Ibuk ini lucu sekali ya, katanya perceraian dibenci Allah tapi malah menyuruh Mas Imam menceraikan Rumi, anehhh. Oh ya kalian pasti bahagia bukan sebentar lagi akan mendapat cucu baru dari wanita itu? tentu kalian akan menjadikanya mantu kesayangan, aku penasaran apa yang sudah wanita itu lakukan sampai kalian begitu membelanya. Ah sudahlah buk waktuku sudah habis."
Aku tak menanggapi mereka lagi, segera kulangkahkan kakiku keluar rumah, sebelumnya aku menyambar kunci motor keluaran terbaru yang belum lama ini kubelikan untuk mereka, aku akan pulang menggunakan motor saja, malas sekali rasanya satu mobil dengan Mas Imam.
Belum sempat aku menaiki motor tiba tiba kurasakan tanganku digenggam seseorang.
"Nak mungkin kamu bisa mengabaikan mereka semua, tapi kali ini bapak mohon nak, pertahankan rumah tangga kalian, jika kamu tidak bisa melakukan ini demi kami lakukan ini demi bapak dan ibumu"
Aku paling tidak bisa berkutik jika menyangkut tentang mereka.
__ADS_1
Ya orangtua dan anakku merekalah kelemahanku.
Sebenarnya sejak aku tau Mas Imam menikah lagi saat itu juga aku sudah berfikiran untuk bercerai, tapi mengingat Ayesa aku urungkan keinginanku untuk bercerai dan berniat membangun apa yang sudah runtuh, tapi sekarang ketika bahkan semua keluarga suamiku ikut menghianatiku aku sudah tak peduli lagi dan berniat untuk bercerai. Ayesa masih kecil meski mungkin awalnya memang berat tapi aku yakin dia bisa dan akan terbiasa.
Tapi jika menyangkut orangtua, aku tidak yakin mereka akan mendukungku mengakhiri pernikahan ini, mengingat pernikahan ini awalnya karna keinginan orangtuaku yang merasa berhutang budi dengan keluarga mas Imam, ya awalnya aku sudah memiliki kekasih tapi kami berakhir begitu saja ketika peritiwa naas menimpa keluargaku.
Mengingat ini rasanya kepalaku pusing sekali, mengapa nasibku jadi seperti ini, bapak mertuaku tepat sekali menggunakan ini sebagai senjata dia tau bahwa ibuku tidak mungkin mengizinkan aku untuk bercerai dengan mas Imam.
Mungkin nanti aku akan kerumah ibu saja dan meminta pendapat padanya apa yang harus kulakukan.
__ADS_1
Kutatap mereka satu persatu, masih terlihat sisa-sisa tangis diwajah mereka, aku sebenarnya juga ingin menangis tapi hatiku sudah mati.
Aku diam saja tak menjawab perkataan bapak barusan, kuputuskan untuk pulang saja aku sudah tidak tahan lagi berada disini, melihat mereka saja sudah sakit sekali rasanya.