PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
BELAJAR TERBIASA


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Mas Imam, sejak semalam saat aku mengatakan ingin mengakhiri rumah tangga ini dia hanya diam saja.


Aku pun juga tak mengajaknya berbicara lagi, selepas sekolah dia langsung mengantarkan Ayesa dan langsung kerumah Rumi.


Kemaren sebelum kerumah ibu Mas Imam kami masih sempat bercakap-cakap seperti biasa, kata Mas Imam sekarang dia sudah tidak mengurusi bonsai dan burung-burung lagi karena sudah dia jual borongan.


Hanya saja orangnya belum sempat mengambilnya, jadi ya begitulah kerjaannya hanya bolak-balik ketempat istri tuanya ini dan tentu saja istri mudanya.


"Kenapa uang hasil penjualannya gak buat modal usaha saja Mas"


"Mas bingung Dek mau usaha apa, kayaknya Mas lebih baik kerja aja deh Dek"


"Ya biar buat usaha istrimu itulah Mas, masih untung dapat modal besar, dulu aku cuma modal gak nyampe 50rb ngider gendong anak kecil juga Mas tega-tega aja, masak itu si Rumi gak Mas suruh usaha? dia kan pinter masak tuh kenapa gak disuruh buka warung makan aja tuh Mas kali aja kan kalian bisa punya restoran terkenal"


"Rumi itu beda sama kamu Dek. . . ."


"Ya jelas bedalah Mas, aku juga gak mau kalo disama-samain dengan wanita itu" belum sempat Mas Imam melanjutkan bicara aku sudah memotong perkataannya terlebih dulu aku jelas tak terimalah disamakan sama dia.

__ADS_1


"Maksud Mas bukan gitu Dek, Rumi itu gak bisa mengelola uang dengan baik seberapapun yang Mas kasih pasti dia habiskan, kalo buka usaha sudah pasti nanti modalnya gak bisa muter"


"Namanya belum dicoba ya siapa taulah Mas, bilang saja Mas kasihan kalau lihat dia capek-capek bekerja, katanya mau jadi suami yang adil tapi nyatanya mana?"


"Ya gak gitu Dek, bukanya untung nanti yang ada malah buntung, kemaren juga sudah Mas bicarakan sama dia tapi tetep dia keras kepala kalau dibilangin"


"Sekarang aja Mas baru dibicarain jeleknya, jangan gitu loh Mas dia kan wanita yang kamu bela-belain bahkan rela menyakiti istrimu sendiri demi bersamanya."


"Sudahlah Dek jangan diungkit-ungkit lagi, Mas pusing sekali rasanya, Mas kan juga sudah minta maaf"


Ya begitulah kemaren saat kutanya uangnya akan digunakan untuk apa.


Selepas Mas Imam pergi tadi aku hanya mengiriminya pesan agar nanti tak perlu repot-repot menjemput Ayesa karna Ayesa akan dijemput tantenya dan sekalian aku pamit akan menginap dirumah ibu 3 hari kedepan selama tidak ada Mas Imam dan Mas Imam cuma menjawab ya saja entahlah dia kenapa.


Untuk urusan rumah biar dijaga budhe Ris saja.


Aku tidak perlu banyak berkemas karna dirumah ibu sudah ada baju-baju ganti ku dan Ayesa, hanya saja aku perlu menyiapkan seragam Ayesa untuk 3 hari kedepan dan tentu buku-buku pelajarannya juga aku mengemas dan memasukkannya kedalam tas kulihat sekilas buku diary Ayesa kemaren dan tersenyum tipis mengingat isinya, lucunya anakku itu. Mulai sekarang aku akan membiasakannya jauh dari ayahnya tapi tetap menjaga hubungan baik dengan ayahnya, dan ya inilah salah satu caraku dengan mengajak anakku menginap dirumah utinya.

__ADS_1


Kedepannya nanti mungkin aku akan sering mengajaknya menginap di sana.


Kudengar motor Nisa sudah datang, tadi kami sempat janjian untuk keluar sebentar sekedar menghilangkan kejenuhan.


"Gimana Mbak udah siap?"


"Udah Dek, jadi cari makan dulu kan, mbak laper banget nih"


"Laper apa baper hayoo ngaku"


"Astaga Dek kamu itu ya gak pernah bisa serius, eh ini barang Ayesa mau sekalian dibawa gak?"


"Ya kan becanda Mbak biar gak cepet tua, dibawa sekalian aja gak papa sih Mbak tas kecil aja mah taruh depan sini juga bisa, biar nanti habis jelong-jelong kita langsung jemput Ayesa dan kerumah ibuk jadi gak muter-muter lagi"


"Oke yaudah yuk langsung berangkat aja sekarang, tadi Mbak udah pamit sama budhe kayaknya lagi tidur siang deh gak usah diganggu"


Setelah jam sekolah Ayesa sudah berakhir kami langsung menjemputnya kemudian bergegas kerumah ibu.

__ADS_1


Ayesa antusias sekali mengingat disana ada rumah pohon yang memang diinginkannya. Biarlah semoga dia bisa terbiasa dengan keadaan ini, aku sudah tidak sabar ingin memasukkan berkas berkas gugatan ceraiku ke pengadilan, tapi tetap aku tak boleh egois, aku akan menunggu Ayesa terbiasa dulu agar nanti bisa menerima.


__ADS_2