PEMBANTUKU MADUKU

PEMBANTUKU MADUKU
POV IBU IMAM (AMBANG KEHANCURAN


__ADS_3

Sekarang ketentraman hidupku sepertinya sedang diujung tanduk.


Asiyah sudah mengetahui kalau ternyata Imam sudah menikah lagi. Dia datang ke rumahku dan membelanjakan aku banyak sekali barang barang mewah, dia menceritakan kalau dia telah dikhianati Imam karna konsentrasi ku sedang fokus dengan barang barang pemberiannya aku jadi keceplosan mengatakan kalau aku sudah mengetahuinya.


Tak kusangka Asiyah marah besar tapi yang lebih membuatku terkejut lagi ternyata selama ini semua uang yang mereka kirimkan adalah hasil kerja keras Asiyah dan lebih parahnya usaha Imam yang selama ini aku bangga banggakan keteman teman arisanku itu cuma sekedar usaha untuk mengisi kejenuhannya saja yang hasilnya bahkan untuk mengirimiku uang saja tidak cukup.


Asiyah benar benar marah kepada kami dan akan menghentikan semua yang dia berikan kepada kami.

__ADS_1


Matilah aku kalau sampai itu terjadi, semua orang dirumah ini tak ada yang bekerja, hanya Ima itupun gajinya cuma kecil, kalau sampai Asiyah menghentikan jatah bulanannya jangankan untuk biaya Rini kuliah untuk makan pun kami tak mampu, hanya mengandalkan uang tabungan hasil pemberiannya selama ini yang aku kini semakin hari semakin menipis.


Aku harus mencari cara agar mereka tidak bercerai, ya meskipun Asiyah masih marah dan tidak memberiku uang untuk sekaran tak masalah setidaknya lama lama dia akan luluh kembali.


Mereka memang berhutang nyawa kepada keluargaku, rencananya aku akan menggunakan itu untuk senjataku, ya tanpa keluargaku mungkin orang tua Asiyah sudah tak ada di dunia lagi saat kecelakaan tragis itu, waktu itu suamiku dan Imam yang membawa kerumah sakit dan butuh donor darah secepatnya, tapi ternyata stok darah dirumah sakit kosong karena golongan darah mereka termasuk langka, setelah dicek ternyata golongan darah Imam dan suamiku sama akhirnya mereka mereka mendonorkan darah untuk 2 orang yang kini jadi besanku itu.


Tapi aku akan menggunakan itu untuk senjata akhirku, suamiku sudah melarang aku untuk mengungkit ungkit ini cukup sekali kemaren dia mengatakan itu pada Asiyah tapi melarangku untuk mengungkitnya kembali kata suamiku itu justru akan membuat mereka menilai buruk terhadap keluargaku. Aku menurut saja, tapi jika sudah terlalu kepepet aku tetap akan mengungkit ungkit itu semua, bukankah kemaren Asiyah juga mengungkit pemberiannya kan.

__ADS_1


Ya kami memutuskan untuk menemui besan dan meminta maaf dengan tulus, berharap bisa membuat keadaan sedikit membaik.


Ah Imam kenapa kamu menghancurkan ketentraman ini. Anakku benar benar bodoh ternyata membuang berlian demi batu kali, bagaimana mungkin Imam bisa menghianati Asiyah sementara Imam sendiri tau dia bahkan bisa dibilang lelaki tak berpenghasilan.


Bagaimana nanti jika mereka benar benar bercerai, Rumi itu kan dulu juga cuma pembantu mereka mana bisa nanti dia menghasilkan uang, lebih baik jika Rumi saja yang di ceraikan.


Ah ya aku akan membujuk Imam agar menceraikan istri mudanya itu, terserah bagaimanapun caranya mereka tidak boleh bercerai. Mau ditaruh dimana mukaku kalau kehidupanku berubah drastis, sekarang saja kami sudah mulai harus berhemat, entah bagaimana nanti kehidupanku.

__ADS_1


__ADS_2